Selasa, 20 Januari 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Harga Cabai Rawit di Sumenep Kembali Naik, Ini Penyebabnya

Redaksi - Tuesday, 20 January 2026 | 09:12 AM

Background
Harga Cabai Rawit di Sumenep Kembali Naik, Ini Penyebabnya
: Salah satu penjual cabai di pasar tradisional Sumenep. ( Istimewa/)

salsabilafm.com – Harga cabai rawit di pasar tradisional Sumenep awal pekan ini kembali merangkak naik. Pekan lalu harga cabai rawit Rp38.000 per kg, awal pekan ini naik menjadi Rp45.000 per kg. Sedangkan harga cabai merah besar tetap Rp26.000 per kg.


Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep, Idham Halil mengatakan, naiknya harga cabai rawit karena di daerah sentra penghasil cabai banyak yang gagal panen.


“Satu minggu ini hujan turun terus menerus. Mangkanya banyak cabai yang gagal panen karena busuk diguyur hujan. Cabai ini merupakan komoditas yang tidak tahan lama. Sangat dipengaruhi kondisi cuaca,” katanya, Senin (19/01/2026).


Sementara untuk komoditas lain relatif stabil. Harga bawang merah tetap Rp36.000 per kg, dan harga bawang putih Rp34.000 per kg.


“Untuk harga beras juga relatif stabil, sama seperti pekan lalu. Harga beras kualitas premium tetap Rp16.800 per kg, dan beras kualitas medium Rp12.500 per kg. Sedangkan harga gula pasir juga stabil Rp 17.000 per kg,” terangnya.


Dia melanjutkan, untuk harga komoditas daging juga tidak mengalami perubahan. Harga daging sapi tetap Rp135.000 per kg, daging ayam kampung Rp80.000 per kg, dan daging ayam broiler Rp 40.000 per kg.


“Kalau harga telur juga stabil. Telur ayam ras Rp 29.000 per kg, dan telur ayam kampung Rp 48.000 per kg,” ujarnya.


Sementara untuk harga minyak goreng juga tidak mengalami perubahan. Minyak goreng curah tetap Rp19.000 per kg. Sedangkan Minyakita Rp18.000 per botol, dan minyak goreng premium kemasan 2 liter Rp40.000.


Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan Sumenep secara rutin melakukan pemantauan harga sembako di Pasar Anom baru sebagai pasar induk, dan Pasar Bangkal sebagai pembanding. (*)