1.236 Perusahaan Industri Tercatat Mulai Berproduksi pada 2026
Redaksi - Monday, 19 January 2026 | 06:25 AM


salsabilafm.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat hingga 15 Januari 2026 sebanyak 1.236 perusahaan industri mulai berproduksi pertama kali, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 218.892 orang.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, mulai beroperasinya ribuan perusahaan tersebut menjadi bukti bahwa sektor industri manufaktur nasional tetap memiliki fondasi yang kuat, meskipun perekonomian global masih diwarnai ketidakpastian.
“Industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026,” ujar Agus dalam pernyataan di Jakarta, Minggu (18/1/2026).
Pada 2026, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas ditargetkan mencapai 5,51 persen, menegaskan posisi strategis sektor manufaktur sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
Agus menjelaskan, 1.236 perusahaan tersebut merupakan industri yang telah melaporkan tahap pembangunan pada 2025, dan direncanakan beroperasi penuh pada tahun ini. Perusahaan-perusahaan tersebut didukung oleh investasi sektor industri pengolahan nonmigas sebesar Rp551,88 triliun, termasuk investasi di luar tanah dan bangunan senilai Rp444,25 triliun.
“Kapasitas produksi baru yang mulai beroperasi pada 2026 menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan industri, memperkuat struktur manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja baru,” ujarnya.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Kemenperin terus mendorong percepatan industrialisasi, transformasi industri 4.0, serta penguatan industri dari hulu hingga hilir, guna memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku dan meningkatkan efisiensi rantai produksi nasional.
Dari sisi permintaan, pertumbuhan industri manufaktur nasional pada 2026 masih ditopang pasar domestik sekitar 80 persen, sementara ekspor berkontribusi sekitar 20 persen. Penguatan pasar dalam negeri dilakukan melalui kebijakan substitusi impor, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), optimalisasi belanja pemerintah dan BUMN, serta penguatan industri kecil dan menengah (IKM) agar terintegrasi dalam rantai pasok nasional.
“Kami memastikan produk industri dalam negeri menjadi tuan rumah di pasar domestik. Penguatan pasar dalam negeri menjadi jangkar utama pertumbuhan industri manufaktur,” tegas Agus.
Sejumlah subsektor diproyeksikan mengalami peningkatan permintaan signifikan. Di antaranya industri logam dasar yang didorong proyek infrastruktur dan hilirisasi, industri makanan dan minuman sebagai kontributor terbesar PDB manufaktur, serta industri kimia, farmasi, dan obat-obatan seiring meningkatnya kebutuhan produk kesehatan dan bahan kimia industri.
Dari sisi ekspor, Kemenperin menargetkan kontribusi ekspor produk industri pengolahan nonmigas mencapai 74,85 persen dari total ekspor nasional pada 2026, sejalan dengan rencana strategis 2025–2029. Target ini ditempuh melalui diversifikasi pasar ekspor, peningkatan daya saing produk, serta penguatan promosi industri nasional di pasar global.
Sementara itu, sektor industri pengolahan nonmigas ditargetkan menyerap 14,68 persen dari total tenaga kerja nasional pada 2026, dengan produktivitas tenaga kerja sebesar Rp126,2 juta per orang per tahun. Untuk mendukung target tersebut, investasi sektor industri pengolahan nonmigas pada 2026 ditargetkan mencapai Rp852,9 triliun.
Dalam menghadapi tantangan global, Kemenperin juga menginisiasi Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) sebagai kerangka kebijakan untuk memperkuat fondasi industri secara berkelanjutan. Melalui SBIN, pendekatan forward dan backward linkage diterapkan untuk memperkuat keterkaitan sektor hulu, manufaktur, dan jasa, sekaligus meningkatkan efisiensi produksi serta penyerapan tenaga kerja.
“Strategi Baru Industri Nasional menjadi acuan dalam memperkuat struktur industri nasional agar memiliki daya saing yang lebih kuat dan kontribusi yang berkelanjutan terhadap perekonomian nasional,” pungkas Agus. (*)
Next News

Harga Cabai Rawit di Sumenep Kembali Naik, Ini Penyebabnya
in 5 hours

56 Ruas Jalan Kabupaten di Bangkalan Diperbaiki Tahun 2026, Anggaran Capai Rp101 Miliar
21 hours ago

Kasus DBD Mulai Muncul, Dinkes Bangkalan: Silahkan Lapor, Fogging Gratis
a day ago

Krisis Anggaran, 173 Lahan SDN di Sampang Belum Bersertifikat
a day ago

Optimalkan PAD, Pemkab Sampang Godok Rencana Retribusi Wisata Religi Makam Rato Ebuh
a day ago

Aksi Biduan di Peringatan Isra Miraj Disorot, MUI Banyuwangi: Cederai Nilai Dakwah IsIam
a day ago

Pemerintah Beri Diskon 50 Persen Iuran JKK–JKM bagi Pekerja Transportasi Mandiri
a day ago

Tanah Gerak, 10 Bangunan di Pamekasan Rusak Berat
2 days ago

Kapal Penyeberangan Jangkar Situbondo ke Sumenep Kembali Berlayar
2 days ago

Perkuat Kepemimpinan Sekolah Rakyat, Disdik Jatim Lakukan Bimtek
2 days ago





