Aksi Biduan di Peringatan Isra Miraj Disorot, MUI Banyuwangi: Cederai Nilai Dakwah IsIam
Redaksi - Monday, 19 January 2026 | 06:18 AM


salsabilafm.com – Sebuah video yang menampilkan seorang biduan berjoget di atas panggung peringatan Isra Miraj di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi sorotan publik dan menuai beragam reaksi.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat seorang biduan mengenakan gaun hitam tampil di atas panggung yang masih menggunakan dekorasi bertema peringatan Isra Miraj. Aksi tersebut dinilai tidak etis karena dianggap tidak selaras dengan konteks acara keagamaan.
Ketua Panitia Peringatan Isra Miraj Desa Parangharjo, Hadiyanto, membenarkan adanya hiburan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa penampilan biduan dilakukan setelah acara inti selesai dan para undangan resmi telah meninggalkan lokasi.
"Hiburan yang menghadirkan biduan pada acara Isra Miraj tersebut memang benar adanya. Akan tetapi, hiburan tersebut digelar setelah acara usai dan seluruh undangan serta kiai sudah tidak ada di tempat," ujar Hadiyanto, Sabtu (17/1/2026), dikutip dari detikJatim.
Menurut dia, hiburan tersebut merupakan inisiatif spontan yang ditujukan untuk internal panitia. Atas polemik yang terjadi, panitia telah menyampaikan permohonan maaf melalui video klarifikasi yang dilakukan di Polsek Songgon pada Jumat (16/1/2026) malam.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi turut menyayangkan peristiwa tersebut. Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Banyuwangi, Sunandi Zubaidi, menilai kejadian itu telah mencederai nilai-nilai dakwah Islam.
"Peristiwa ini sangat kami sayangkan. Keluhuran dakwah justru tercoreng oleh tindakan yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islami," kata Sunandi.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, menilai polemik tersebut bukan persoalan sepele meskipun hiburan digelar setelah acara Isra Miraj selesai.
"Polemik penampilan biduan yang berjoget di panggung peringatan Isra Miraj di Banyuwangi tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele atau sekadar kesalahpahaman teknis panitia," ujar Singgih kepada wartawan, Senin (19/1/2026), dikutip dari detikcom.
Menurut Singgih, peringatan Isra Miraj merupakan peristiwa suci yang memiliki makna mendalam terkait peneguhan salat, akhlak, dan ketaatan kepada Allah SWT, sehingga seluruh rangkaian kegiatan yang menyertainya harus mencerminkan nilai adab dan kepantasan.
"Dalih bahwa hiburan tersebut dilakukan setelah acara inti selesai tidak serta-merta menghapus persoalan. Dalam perspektif keagamaan, ruang, simbol, dan konteks memiliki makna yang tidak terpisahkan," tegasnya.
Ia juga mengingatkan, di era media sosial, setiap aktivitas di ruang publik memiliki dampak luas. Dokumentasi yang tersebar menjadikan kegiatan yang awalnya bersifat internal menjadi konsumsi publik.
"Peristiwa ini harus menjadi peringatan bagi panitia, tokoh agama, dan masyarakat untuk meningkatkan literasi keagamaan sekaligus kepekaan sosial. Acara keagamaan tidak boleh kehilangan ruh dan adabnya," pungkas Singgih. (*)
Next News

Pietra Widiadi: Pendamping Tak Hanya Fasilitator, Tapi Agen Perubahan Perilaku Masyarakat
12 hours ago

Radio Masih Bisa Bertahan di Era Digital, Pietra Widiadi: Kuncinya Adaptasi!
12 hours ago

Tak Kunjung Rampung, DPRD Sampang Desak Percepatan Perbup Disabilitas
16 hours ago

Molor, Perbup Disabilitas di Sampang Diperkirakan Terealisasi Tahun 2028
16 hours ago

Kemenhaj Pamekasan Siapkan 38 Bus Antar Calhaj ke Embarkasi Surabaya
16 hours ago

5 KDKMP di Sumenep Terima Bantuan Kendaraan Operasional
16 hours ago

Sambut Kemarau, Petani Garam di Sumenep Mulai Siapkan Lahan
16 hours ago

Penerangan Jalan di Akses Suramadu Padam, Belasan Panel Listrik Dirusak OTK
16 hours ago

Sampang Targetkan Naik Peringkat Kabupaten Layak Anak ke Nindya
16 hours ago

Kecelakaan Kereta Api Kembali Terjadi, KA Dhoho Tabrak Truk Pasir di Perlintasan Blitar
16 hours ago





