Lailatul Qodar di Tiang Masjid Madegan
Redaksi - Wednesday, 11 March 2026 | 04:04 AM


Oleh : Faisol Ramdhoni
Malam Ramadan selalu memiliki bahasa yang berbeda dari malam-malam biasa. Ia tidak datang dengan suara yang keras, tidak pula dengan keramaian yang riuh. Ia hadir seperti bisikan yang lembut, seperti seseorang yang mengetuk pintu hati manusia dengan sangat pelan. Hanya mereka yang bersedia diam yang mampu mendengarnya. Hanya mereka yang hatinya sedang merindu yang mampu memahaminya.
Di Kampung Madegan, Kelurahan Polagan, Kota Sampang, berdiri sebuah masjid tua yang telah lama bersahabat dengan waktu. Orang-orang menyebutnya Masjid Madegan. Bangunannya sederhana, tidak megah seperti masjid-masjid besar di kota. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan sejarah panjang perjalanan iman masyarakat Madura.
Konon, masjid ini adalah salah satu pusat awal penyebaran Islam di Madura. Ia diperkirakan berdiri pada masa Panembahan Lemah Duwur, yang oleh masyarakat dikenal sebagai Adipati Pramono, sekitar tahun 1531 hingga 1592 Masehi. Jika hitungan sejarah tidak keliru, berarti masjid ini telah berdiri hampir lima abad lamanya.
Lima abad bukanlah waktu yang singkat. Ia adalah rentang panjang yang telah menyaksikan pergantian generasi, perubahan zaman, bahkan runtuhnya banyak bangunan lain. Namun Masjid Madegan masih berdiri dengan tenang, seolah waktu sendiri menghormati keberadaannya.
Barangkali yang menjaga masjid ini bukan sekadar kayu dan tanah. Barangkali yang menjaganya adalah doa-doa yang tidak pernah putus dari generasi ke generasi.
Di dalam ruang utama masjid itu berdiri empat tiang kayu tua. Warnanya telah menghitam dimakan usia. Serat-serat kayunya terlihat seperti garis waktu yang tertulis pada tubuhnya. Tiang-tiang itu tidak tegak lurus seperti bangunan modern. Ia condong, miring seolah hendak roboh. Namun anehnya, ia tidak roboh.
Sejak ratusan tahun yang lalu hingga sekarang, tiang-tiang itu tetap berdiri. Mungkin itulah yang membuat orang-orang kampung percaya bahwa ada sesuatu yang istimewa pada tiang-tiang tersebut.
Menurut cerita yang beredar dari mulut ke mulut, setiap tiang memiliki khasiatnya sendiri. Tiang di sebelah barat laut dipercaya membawa kenaikan pangkat dan derajat. Tiang di barat selatan diyakini memperlancar rezeki. Tiang di timur selatan dipercaya membuka pintu kepandaian. Sedangkan tiang di timur laut diyakini menjadi tempat memohon keselamatan dan kesembuhan bagi mereka yang sedang sakit.
Karena keyakinan itu, orang-orang datang ke masjid ini dengan berbagai harapan. Terutama pada malam-malam Ramadan, ketika suasana langit terasa lebih dekat dengan bumi. Pada sepuluh malam terakhir, masjid ini sering dipenuhi oleh orang-orang yang datang untuk berdzikir dan berdoa.
Ada yang bersandar di tiang rezeki sambil memutar tasbih. Ada yang menempelkan dahinya di tiang keselamatan sambil membaca doa dengan suara yang hampir tak terdengar. Ada pula yang duduk lama di dekat tiang kepandaian, memohon agar anak-anaknya diberi ilmu yang bermanfaat.
Setiap orang datang membawa ceritanya sendiri. Ada yang datang dengan harapan yang besar. Ada yang datang dengan luka yang dalam. Ada pula yang datang hanya dengan sepotong doa sederhana.
Aku duduk di serambi masjid, memperhatikan mereka dalam diam. Malam semakin larut. Angin dari arah laut Sampang berhembus pelan, membawa aroma asin yang samar-samar terasa di udara.
Lampu masjid yang redup membuat suasana terasa semakin sunyi.Dalam kesunyian itu, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di dalam hatiku: apakah Lailatul Qadar benar-benar berada di salah satu tiang itu?
Barangkali pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun semakin lama aku memikirkannya, semakin aku menyadari bahwa manusia sering kali mencari sesuatu yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan dirinya.
Allah tidak pernah menyuruh manusia mencari Lailatul Qadar pada benda tertentu. Ia tidak pernah mengatakan bahwa malam itu akan turun pada tiang, pada batu, atau pada tempat tertentu. Yang disebutkan dalam Al-Qur'an hanyalah bahwa malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, satu malam kesadaran seorang hamba bisa lebih berharga daripada puluhan tahun kehidupan yang dilalui tanpa kehadiran Allah di dalam hati.
Aku kembali memandang keempat tiang tua itu. Ia condong, hampir roboh, tetapi tetap bertahan. Tiba-tiba aku merasa seperti melihat cermin kehidupan manusia di sana.
Bukankah manusia juga seperti itu? Kita sering condong oleh ambisi dunia. Kita sering miring oleh keinginan yang tak ada habisnya. Kita bahkan sering hampir roboh oleh kesedihan dan keputusasaan.
Namun selama manusia masih mampu bersujud, ia tidak akan benar-benar jatuh. Sujud adalah cara manusia mengingat bahwa dirinya hanyalah hamba.
Barangkali itulah rahasia kekuatan tiang-tiang Masjid Madegan. Ia berdiri bukan karena kayunya yang kuat, tetapi karena ratusan tahun manusia bersandar padanya sambil berdzikir kepada Allah.
Setiap tasbih yang diputar, setiap doa yang dipanjatkan, setiap air mata yang jatuh dalam sujud semuanya meninggalkan jejak yang tak terlihat. Jejak-jejak itulah yang mungkin membuat masjid ini tetap hidup hingga sekarang.
Malam semakin larut. Suara dzikir terdengar pelan dari dalam masjid. Beberapa orang masih duduk bersandar pada tiang yang mereka pilih. Mereka larut dalam doa masing-masing.
Aku tidak tahu apa yang mereka minta kepada Allah. Mungkin ada yang memohon rezeki. Mungkin ada yang meminta kesembuhan. Mungkin ada pula yang hanya meminta ketenangan hati.
Namun perlahan aku merasakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar permintaan manusia yang berbisik di antara tiang-tiang tua itu. Seolah malam sedang mengajarkan sebuah rahasia yang tidak tertulis pada kayu, tidak pula pada dinding masjid.
Bahwa yang paling penting dari semua doa itu bukanlah apa yang diminta manusia. Bukan pangkat, bukan rezeki, bukan pula kesembuhan. Yang paling hakiki adalah saat hati tiba-tiba tersadar bahwa ia sedang berdiri di hadapan Tuhannya—Tuhan yang lebih dekat daripada napas yang keluar masuk di dada.
Pada saat itulah doa berubah menjadi pengakuan, sujud berubah menjadi kepulangan. Hati berbisik lirih bersama ayat yang pernah turun dari langit: wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-'ālamīn—bahwa ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Pada kesadaran itulah seorang hamba tidak lagi meminta terlalu banyak kepada dunia, sebab ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih luas: kehadiran Tuhan yang diam-diam memenuhi seluruh ruang hatinya.
Pada saat itulah Lailatul Qadar mungkin sedang terjadi. Ia terjadi ketika hati manusia tiba-tiba menjadi sangat jernih. Ketika seorang hamba menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Allah. Ketika ia menyadari bahwa seluruh hidupnya hanyalah perjalanan pulang kepada Sang Pencipta. Di saat itulah malaikat-malaikat turun membawa kedamaian.
Di luar masjid, angin laut Sampang terus berjalan pelan. Langit malam tampak tenang, seolah ikut menyaksikan kesunyian yang terjadi di dalam masjid tua itu. Seseorang masih duduk bersandar pada salah satu tiang sambil memutar tasbihnya. Bibirnya bergerak pelan mengucapkan dzikir yang hampir tak terdengar.
Aku memandangnya sebentar, lalu menundukkan kepala. Siapa tahu, di antara bisikan dzikir yang sederhana itu, di antara napas yang naik turun, di antara doa yang dipanjatkan dengan penuh harap Lailatul Qadar sedang lewat dengan sangat tenang. Ia singgah sebentar di Masjid Madegan.Lalu menetap lebih lama di hati manusia yang sedang rindu kepada Tuhannya
Next News

REFLEKSI SATU ABAD NU: DARI GEGERAN KE GERGERAN
2 months ago

Madura dan Musik Dangdut
3 months ago

Kronologis Bara Isu Pilkades Sampang: Dari Penundaan hingga Aksi Ricuh di Tahun 2025
4 months ago

Mak Ebun : Panggilan Kasih di Balik Kekuasaan Desa
4 months ago

Mimpi yang Menjadi Nisan
6 months ago

Kambing Hitam
6 months ago

Pecahnya Bisul Kemarahan Rakyat
6 months ago

Catatan Reflektif Historiografi Sampang :Dari Polagan, Roomtengah Hingga Pasedahan Banyuanyar
6 months ago

Kemerdekaan dan Tanggung Jawab Pendidikan
7 months ago

Santri Jangan Patah Semangat, Belajar Pada Ibnu Hajar
7 months ago




