Jumat, 12 Juni 2026
Salsabila FM
Opini

Suro dan Piala Dunia

Redaksi - Friday, 12 June 2026 | 08:31 AM

Background
Suro dan Piala Dunia

Oleh: Faisol Ramdhoni


Bulan Suro kembali datang. Di kalender Islam ia bernama Muharram, salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Namun di tanah Jawa, Suro tidak sekadar menandai pergantian tahun. Ia hadir sebagai ruang perenungan, sebuah jeda panjang yang mengajak manusia menoleh ke dalam dirinya sendiri. Sejak masa Sultan Agung Mataram, ketika kalender Jawa dipadukan dengan kalender Hijriah pada tahun 1633 Masehi, Suro menjadi penanda bahwa perjalanan waktu bukan sekadar perpindahan hari, melainkan kesempatan untuk memperbarui kesadaran.


Muharram sendiri memiliki kedudukan yang istimewa dalam tradisi Islam. Khalifah Umar bin Khattab menetapkannya sebagai awal tahun Hijriah untuk mengabadikan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah kemanusiaan: hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Menariknya, yang dijadikan awal perhitungan bukanlah kelahiran Nabi, bukan pula kemenangan perang, melainkan sebuah perjalanan. Seolah-olah Islam ingin mengajarkan bahwa hidup bukanlah soal berada di mana, melainkan keberanian untuk bergerak menuju keadaan yang lebih baik.




Karena itu, Muharram sesungguhnya adalah bulan hijrah. Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah kualitas diri. Hijrah dari kemalasan menuju kesungguhan. Dari kebencian menuju kasih sayang. Dari kesombongan menuju kerendahan hati. Dari kegelisahan menuju ketenangan. Dari kebohongan menuju kejujuran. Dari permusuhan menuju persaudaraan. Dari hati yang jauh dari Allah menuju hati yang senantiasa mengingat-Nya. Bahkan bagi sebagian orang, hijrah bisa bermakna berpindah dari kesendirian menuju pasangan hidup yang halal, dari rumah tangga yang retak menuju keluarga yang penuh keberkahan, atau dari kehidupan yang kehilangan arah menuju kehidupan yang lebih bermakna.


Barangkali karena itulah masyarakat Jawa menyambut malam satu Suro dengan suasana yang berbeda. Ada kesunyian yang sengaja diciptakan. Ada langkah-langkah kaki yang diperlambat. Ada doa-doa yang dibisikkan lebih lirih dari biasanya. Sebagian orang melakukan tapa bisu mengelilingi benteng keraton tanpa alas kaki dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sebagian lagi membersihkan pusaka, mandi kembang, berziarah ke makam leluhur, atau melarung sesaji ke laut dan gunung. Bagi sebagian orang modern, semua itu mungkin terlihat sebagai ritual yang penuh simbol dan misteri. Namun di balik simbol-simbol itu sesungguhnya tersimpan pelajaran yang sangat sederhana: manusia perlu membersihkan dirinya sebelum memasuki lembar waktu yang baru.




Tapa bisu, misalnya, bukan sekadar berjalan mengitari benteng. Benteng yang sesungguhnya bukanlah tembok keraton yang berdiri kokoh di Yogyakarta. Benteng yang paling sulit ditembus justru berada di dalam diri manusia sendiri. Ia bernama ego. Ia adalah kesombongan yang sering membuat manusia merasa paling benar, paling suci, dan paling penting. Ketika seseorang berjalan dalam diam, sesungguhnya ia sedang diajak mengelilingi dirinya sendiri. Ia sedang melihat kembali jalan hidup yang telah ditempuhnya, sekaligus menimbang arah yang akan dipilihnya pada masa depan.


Begitu pula dengan jamasan pusaka. Keris, tombak, atau benda-benda warisan leluhur dibersihkan dan dimandikan. Akan tetapi yang perlu dibersihkan sebenarnya bukan hanya logam pusaka itu. Yang lebih penting adalah membersihkan karat yang menempel pada hati. Sebab hati juga bisa berdebu. Debu keserakahan, iri hati, dendam, dan berbagai penyakit batin lainnya. Air tidak hanya dibutuhkan oleh besi agar tidak berkarat, tetapi juga dibutuhkan jiwa agar tetap jernih dalam memantulkan cahaya Ilahi.


Tradisi siraman atau mandi kembang mengajarkan hal serupa. Air dan bunga hanyalah sarana untuk mengingatkan manusia bahwa kehidupan yang baik selalu dimulai dari kesediaan membersihkan diri. Dalam Islam, kesucian menjadi pintu masuk berbagai ibadah. Wudhu mendahului salat. Mandi membersihkan hadas. Bahkan tobat pun hakikatnya adalah upaya mensucikan jiwa. Karena itu, air dalam tradisi Jawa bukan sekadar benda fisik, melainkan simbol dari rahmat Tuhan yang terus mengalir membersihkan kehidupan manusia.




Demikian pula ziarah kubur dan penghormatan kepada leluhur. Banyak orang datang ke makam bukan untuk meminta kepada penghuni kubur, melainkan untuk mengingat bahwa suatu saat dirinya juga akan berbaring di tempat yang sama. Makam adalah universitas keheningan. Di sana manusia belajar bahwa jabatan akan selesai, kekayaan akan tertinggal, dan nama besar perlahan akan dilupakan. Yang tetap menyertai hanyalah amal dan jejak kebaikan yang pernah ditinggalkan.


Muharram juga menyimpan jejak-jejak besar perjalanan para nabi. Pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura, umat Islam mengenang berbagai peristiwa agung yang menunjukkan bagaimana pertolongan Allah selalu hadir bagi mereka yang bersabar dan bertawakal. Pada hari itu Nabi Musa AS diselamatkan dari kejaran Firaun ketika Laut Merah terbelah. Nabi Nuh AS berlabuh dengan selamat setelah berbulan-bulan menghadapi banjir besar yang menenggelamkan bumi. Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari kobaran api Namrud. Tobat Nabi Adam AS diterima oleh Allah. Nabi Ayub AS dipulihkan dari penyakit yang bertahun-tahun mengujinya. Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara menuju kemuliaan yang telah Allah siapkan untuknya.




Jika direnungkan, seluruh kisah itu memiliki satu benang merah yang sama: hijrah. Musa berhijrah dari penindasan menuju kemerdekaan. Nuh berhijrah dari bencana menuju keselamatan. Ibrahim berhijrah dari ancaman menuju perlindungan Tuhan. Adam berhijrah dari kesalahan menuju ampunan. Ayub berhijrah dari penderitaan menuju kesembuhan. Yusuf berhijrah dari kesempitan menuju keluasan. Ternyata sejarah para nabi bukanlah sejarah manusia yang tidak pernah mengalami kesulitan, melainkan sejarah manusia yang tidak pernah berhenti berjalan menuju Allah meskipun jalan itu dipenuhi ujian.


Oleh karenanya, dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak puasa sunah, terutama Puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram dan Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan hijrah bagi jiwa: hijrah dari keinginan yang berlebihan menuju pengendalian diri, dari kelalaian menuju kesadaran, dari kegaduhan dunia menuju keheningan batin.

Di samping itu, Muharram juga menjadi momentum untuk memperbanyak sedekah dan menyantuni anak yatim. Seakan-akan Allah hendak mengingatkan bahwa tahun baru tidak cukup dirayakan dengan pergantian kalender, tetapi harus ditandai dengan bertambahnya kepedulian kepada sesama. Sebab tidak ada hijrah yang lebih indah daripada berpindah dari sikap mementingkan diri sendiri menuju hati yang mampu berbagi.




Menyantuni anak yatim dalam bulan Muharram sesungguhnya bukan hanya soal memberi makanan, pakaian, atau sejumlah uang. Yang lebih penting adalah menghadirkan rasa bahwa mereka tidak sendirian menjalani kehidupan. Bukankah Nabi Muhammad SAW sendiri pernah merasakan menjadi yatim sejak kecil? Maka ketika seorang Muslim mengusap kepala anak yatim, menghiburnya, mendengarkan ceritanya, atau membantunya meraih masa depan yang lebih baik, sesungguhnya ia sedang meneladani kasih sayang Rasulullah. Di titik itulah Muharram mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya menghubungkan manusia dengan langit, tetapi juga menghubungkan hati manusia dengan sesamanya.


Menariknya, Suro tahun ini hadir bersamaan dengan perhelatan yang menyita perhatian dunia: Piala Dunia 2026. Jutaan pasang mata tertuju ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko yang bersama-sama menjadi tuan rumah. Empat puluh delapan negara berkumpul. Seratus empat pertandingan dimainkan. Stadion-stadion dipenuhi sorak-sorai. Bendera-bendera berkibar. Lagu kebangsaan dinyanyikan. Dunia seperti sedang berpesta dalam satu panggung raksasa bernama sepak bola.


Sekilas, Suro dan Piala Dunia tampak berada di dua kutub yang berbeda. Suro mengajak manusia masuk ke dalam kesunyian. Piala Dunia mengundangnya masuk ke tengah keramaian. Suro mengajarkan diam. Piala Dunia merayakan suara. Suro mengajak menundukkan kepala. Piala Dunia mengangkat wajah manusia ke layar-layar raksasa stadion. Namun jika direnungkan lebih dalam, keduanya ternyata sedang berbicara tentang hal yang sama: perjalanan manusia.




Dalam ritual mubeng beteng, orang-orang berjalan mengelilingi benteng untuk menemukan dirinya. Dalam sepak bola, para pemain berlari mengelilingi lapangan mengejar bola dan kemenangan. Keduanya sama-sama bergerak. Keduanya sama-sama mencari tujuan. Hanya saja pertanyaan pentingnya adalah: apa yang sesungguhnya sedang kita kejar?


Di stadion-stadion Piala Dunia, setiap tim membawa mimpinya masing-masing. Mereka datang dari budaya, bahasa, warna kulit, dan sejarah yang berbeda. Namun semua bergerak menuju satu tujuan yang sama. Bukankah manusia juga demikian? Kita menjalani kehidupan dengan jalan yang berbeda-beda, tetapi pada akhirnya semua sedang bergerak menuju satu garis akhir yang sama: kembali kepada Allah.




Banyak manusia menjalani hidup seperti pertandingan sepak bola yang tidak pernah selesai. Mereka berlari dari satu ambisi ke ambisi lain. Mengejar harta, kedudukan, popularitas, dan pengakuan. Ketika satu target tercapai, muncul target berikutnya. Ketika satu piala diraih, lahir keinginan memperoleh piala yang lain. Akhirnya hidup berubah menjadi perlombaan tanpa ujung yang sering kali membuat manusia lupa kepada dirinya sendiri.


Padahal setiap pertandingan selalu memiliki peluit akhir. Begitu pula kehidupan. Suatu saat seluruh sorak-sorai akan berhenti. Stadion akan kosong. Lampu-lampu akan dipadamkan. Penonton akan pulang. Trofi akan menjadi benda pajangan. Yang tersisa hanyalah catatan tentang bagaimana seseorang memainkan pertandingan hidupnya. Bukan berapa banyak kemenangan yang diraih, tetapi bagaimana ia menjaga kejujuran, kesabaran, dan ketulusan selama berada di lapangan kehidupan.


Karena itu, malam 1 Suro sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang sangat relevan bagi manusia modern. Ia mengingatkan bahwa sesekali kita perlu keluar dari kebisingan dunia. Kita perlu berhenti dari perlombaan yang melelahkan. Kita perlu mematikan sorak-sorai ego yang terus meminta kemenangan. Bukan untuk meninggalkan dunia, melainkan agar kita kembali mampu mendengar suara hati yang selama ini tenggelam oleh keramaian.




Mungkin inilah rahasia mengapa orang-orang tua Jawa menyebut Suro sebagai waktu untuk eling lan waspodo—ingat dan waspada. Ingat bahwa hidup berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Waspada terhadap segala sesuatu yang membuat manusia lupa arah pulang. Sebab yang paling berbahaya bukanlah makhluk gaib yang dipercaya berkeliaran pada malam Suro, melainkan kesombongan yang diam-diam tumbuh di dalam dada manusia sendiri.


Pada akhirnya, baik langkah sunyi para pelaku tapa bisu, perjalanan para nabi pada Hari Asyura, hijrah Rasulullah SAW menuju Madinah, maupun langkah cepat para pemain sepak bola di Piala Dunia, semuanya sedang mengajarkan satu pelajaran yang sama. Manusia adalah musafir. Ia tidak diciptakan untuk diam, tetapi untuk bertumbuh. Ia tidak diciptakan untuk terjebak dalam dirinya yang lama, tetapi untuk terus berhijrah menuju dirinya yang lebih baik.




Maka ketika malam Suro datang dan dunia sedang sibuk menyaksikan Piala Dunia, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: hijrah apakah yang sedang kujalani tahun ini? Apakah aku semakin dekat kepada cahaya, atau justru semakin jauh darinya? Sebab pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah mengangkat trofi di hadapan jutaan manusia. Kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil mengalahkan diri sendiri, lalu pulang menghadap Tuhan dengan hati yang lebih bersih daripada ketika kita memulai perjalanan.