Jumat, 1 Mei 2026
Salsabila FM
Opini

Mandangin, Tumpukan Uang yang Belum Digali

Redaksi - Friday, 01 May 2026 | 02:05 AM

Background
Mandangin, Tumpukan Uang yang Belum Digali
Perahu nelayan dan tumpukan sampah. (Widiadi untuk salsabilafm/Oleh: Pietra Widiadi *)

salsabilafm.com - Pagi itu pelabuhan sibuk, para nelayan dan penjual ikan saling berbagi untung dan berkeringat memindahkan ikan dari penangkap ikan. Pemandangan yang biasa di pelabuhan Tanglok, Sampang. 


Perahu bergerak meninggalkan pelabuhan perahu kayu, keluar ke laut mengikuti alur sungai Tanglok yang berhias sampah plastik, bangkai ikan dan pampers penampung kotoran. Air keruh coklat susu melumuri permukaan sungai. 


Sisi kiri alur sungai, terlihat bentangan lahan yang mulai ditumbuhi rumah-rumah gedong yang merangsek ke bantaran sungai, bahkan bibir sungai. Sisi kanan, tambak garam yang produktif, dan panen garam yang selalu dinanti. Bakau yang makin jarang, seolah hanya onggokan pohon yang tak berfungsi.




Menuju ke Selat Madura


10 menit berlalu, nampak hamparan biru hijau selat Madura. Gerak perahu kayu makin laju menggapai perairan lepas. Pulau Mandangin belum nampak, meski katanya samar-samar kelihatan nun jauh menuju Probolinggo membedah selat.




Meski laut mulai disapa, perahu tak bebas bergerak karena endapan dan pagar-pagar bambu pembatas endapan dan jalur kapal. Buih riak air laut, dibelah untuk dilampaui. Bentangan bakau ditinggal di buritan, tapi sampah menyelimutinya.


Pagi ini, nelayan baru mendarat sehingga di bentang laut tak tampak nelayan mengayuh dan berlayar.  Remang-remang Mandangin mulai terlihat, bukan kabut menyelimuti. Jangan-jangan polusi asap industri di sepanjang pantai di Jawa dan Madura.


Mandangin Pulau Bertabur Rupiah




Pulau kecil, dan kepadatan yang tinggi. Masuk dermaga disambut sampah, bukan hanya transport lokal yang unik. Pulau ini, unik setengah mati, meski dalam lintasan ke sana sampah di laut mengapung mengejar arus.


Kepadatan dan gang-gang kecil yang melingkar-lingkar pulau nampak bersih. Nampak bergantungan galon yang disandarkan di pagar-pagar rumah tempat menyelipkan sampah plastik. Tanda warga sudah sadar bagaimana mengelola uang yang masih berserakan ini.




Meski ada orang yang masih buang sampah seenaknya tapi kebersihan itu tanda berkebudayaan dan paham bahwa barang yang dibuang itu berharga. Jadi ini bukan perjalanan ke pulau sampah plastik seperti yang sering diceritakan. Merendahkan keelokan kampung ini.


Rumah-rumah lama masih mempertahankan tanean lanjheng. Yang menari rumah-rumah ini ada gerbang masuk halaman kelompok rumah itu. Meski banyak yang tidak paham maksudnya, tapi ini tradisi yang layak jadi ornamen desa kunjungan tamu.


Rumah-rumah lama sudah berganti dengan gedung megah bak istana sultan. Ada juga pekerja pembuat kapal perahu, lalu hamparan pohon spno yang rimbun, juga terselip begitu banyak sampah plastik.




Ironi hidup, ingin bersih tapi tidak tahu mau dibuang ke mana. Mestinya mereka tahu bahwa itu uang yang berserakan tak berharga karena di daratan luas di Jawa, jawara pemungut sampah adalah kaumnya. Mengapa di sini, tidak ada yang menjual belikan?.


Atau perlu ada pendorong, yang mencolek supaya gerakan bersih di pekarangan tidak hanya berujung di lepas lautan di ujung barat pulau?. Pulau ini dekat dengan offshore, tempat perusahaan diberi hak menggali minyak. Mereka memberikan dukungan supaya dampak tidak jadi gejolak.




Tempat ini bergelimang uang, duit receh yang berpotensi menjadi gunung keuntungan. Sayang kaca mata yang dipakai masih kaca mata lama. Bukan kaca mata para kreator. Untung juga ada TAS, Trunojoyo Amanah Sagara. LSM kecil yang bersemangat meniupkan perubahan, bergerak atas semangat mengabdi pada perbaikan dan kemaslahatan umat. (*) 


*penulis adalah owner dorong inovasi alam lestari (dial) Malang.