Semerbak Bunga di Aji Gunung
Redaksi - Tuesday, 30 June 2026 | 07:52 AM


Oleh: Faisol Ramdhoni
Lima tahun adalah waktu yang panjang untuk belajar berbicara dengan kesunyian.
Abdullah memahami hal itu lebih baik daripada siapa pun. Sejak istrinya pergi meninggalkan rumah bersama keempat anak mereka, rumah yang dahulu dipenuhi suara tawa berubah menjadi bangunan yang hanya berisi gema langkahnya sendiri.
Di ruang tamu masih tergantung foto keluarga yang diambil sepuluh tahun silam. Dalam foto itu, ia sedang tersenyum sambil menggendong anak bungsunya. Istrinya berdiri di sampingnya, matanya memandang kamera dengan sorot yang penuh harapan.
Kini, yang tersisa hanyalah debu yang perlahan menempel di bingkai foto itu, sebagaimana debu penyesalan yang selama ini diam-diam mengendap di dalam hatinya. Pada awal-awal perpisahan, Abdullah tidak marah kepada siapa pun selain dirinya sendiri. Ia merasa telah kalah oleh egonya, dikalahkan oleh keras kepala yang dulu dianggapnya sebagai keteguhan, dan disesatkan oleh keyakinannya bahwa dirinya selalu benar. Ia mulai menyadari bahwa mungkin bukan orang lain yang meninggalkannya, melainkan ia sendirilah yang perlahan menjauh dari orang-orang yang dicintainya.
Namun, seiring berjalannya waktu, penyesalan itu tidak menghadirkan jawaban, melainkan melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang semakin dalam dan tak kunjung selesai: di titik mana ia kehilangan kelembutan? Pada kalimat mana ia melukai hati yang seharusnya dijaganya? Dan pada kesombongan yang mana ia lupa bahwa cinta, sebagaimana doa, hanya dapat tumbuh dalam kerendahan hati? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah menemukan jawaban yang utuh. Karena itulah, Abdullah mulai mencari sunyi.
Ia mendatangi masjid-masjid tua, surau-surau kecil, dan makam para wali. Dari satu makam ke makam lain, ia membawa sekarung doa yang tak pernah habis. Kadang ia menangis. Kadang ia hanya duduk berdiam diri, memandangi nisan yang telah kehilangan nama.Ia percaya, dalam kesunyian, manusia lebih mudah mendengar suara Tuhan.
Malam itu, malam Kamis yang bertepatan dengan bulan purnama, Abdullah tiba di kompleks makam Raden Kabul, yang oleh masyarakat Madura lebih dikenal sebagai Buyut Aji Gunung.
Tentang Buyut Aji Gunung, Abdullah pernah mendengar cerita dari seorang kiai sepuh. Konon, beliau adalah seorang alim yang menjadi guru spiritual bagi banyak ulama besar di Madura. Nama beliau dikenang bukan karena kekuasaan atau kekayaan, melainkan karena kedalaman ilmu dan keteguhan dalam mendidik manusia untuk mengenal dirinya sendiri sebelum mengenal Tuhan.
Makam itu terletak di tempat yang tenang. Pohon-pohon tua berdiri seperti para penjaga zaman. Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja disentuh embun.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika Abdullah mulai membaca Surah Yasin suara bacaannya pelan. Kadang bergetar. Kadang terhenti karena dadanya dipenuhi sesuatu yang tak sanggup diucapkan.
Setelah Yasin, ia melanjutkan dengan tahlil dan doa panjang. Ia menyebut satu per satu nama anak-anaknya. Ia menyebut namanya sendiri dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia menyebut segenap salah, marah dan luka yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun.
"Ya Allah," bisiknya lirih, "jika aku salah, maafkan kesalahanku. Jika aku harus menunggu, ajarkan aku bersabar. Jika Engkau masih menyimpan kebahagiaan untukku, jangan biarkan aku kehilangan jalan."
Setelah itu, Abdullah duduk bersila. Ia memejamkan mata. Tidak untuk tidur. Hanya ingin mendengarkan dirinya sendiri. Dalam kajian psikologi modern tentang kesadaran, terdapat kondisi yang disebut gelombang theta, yaitu keadaan ketika pikiran berada di antara sadar dan tidur. Pada fase itu, manusia sering mengalami relaksasi mendalam, intuisi yang kuat, dan pengalaman batin yang terasa begitu nyata.
Abdullah tidak memahami teori itu. Ia hanya tahu, perlahan-lahan, suara jangkrik menjauh. Suara angin menghilang. Tubuhnya terasa ringan. Dan tiba-tiba ia berada di tempat yang sama sekali berbeda. Ia berdiri di sebuah taman. Bukan taman yang pernah ia lihat. Bukan pula taman yang dapat digambarkan dengan bahasa manusia. Bunga-bunga tumbuh sejauh mata memandang. Warnanya bukan hanya merah, putih, atau kuning. Ada warna-warna yang belum pernah dilihat mata manusia. Langit di atasnya bercahaya lembut, seperti fajar yang tidak pernah selesai terbit.
Lalu aroma itu datang perlahan, halus dan lembut. Namun sesaat kemudian memenuhi seluruh semesta.
Abdullah menarik napas.Dan aroma bunga itu masuk ke rongga dadanya. Masuk ke paru-parunya. Masuk ke aliran darahnya. Masuk ke dalam kenangan-kenangan yang telah lama mati. Ia mencium aroma ibunya ketika memeluknya saat kecil. Ia mencium aroma hujan di sawah masa kanak-kanaknya.
Ia mencium aroma sajadah ayahnya yang basah oleh air mata tahajud. Ia mencium aroma cinta yang telah lama hilang. Dan ia menangis.
Bukan karena sedih. Tetapi karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa diterima. Di taman itu, ia seperti mendengar suara. Bukan suara dari telinga.
Melainkan suara dari tempat yang lebih dalam daripada hati.
" Bersabarlah,Hampir tiba waktunya"
Ketika Abdullah membuka mata, jam di telepon genggamnya menunjukkan pukul dua dini hari. Ia terkejut. Tubuhnya masih berada di tempat yang sama.
Malam masih sama. Bulan masih menggantung di langit. Namun aroma bunga itu masih melekat.
"Astaghfirullah..." gumamnya.
Dengan langkah gontai, ia hendak pulang berjalan menuju gerbang makam. Dan saat itulah aroma bunga itu kembali menyergapnya. Lebih kuat. Lebih dekat. Seolah berjalan bersamanya.
Di dekat gerbang, berdiri seorang lelaki tua. Pakaiannya putih kusam. Sorot matanya teduh. Namun anehnya, Abdullah sulit mengingat wajahnya.
"Assalamualaikum," ucap Abdullah.
"Waalaikumsalam," jawab lelaki tua itu.
Abdullah menelan ludah.
"Kakek... apakah tadi saya tertidur?"
Orang tua itu tersenyum.
"Tidak semua yang dilihat mata adalah kenyataan. Dan tidak semua kenyataan dapat dilihat mata."
Abdullah terdiam.
"Kakek, apa yang terjadi pada saya?"
Orang tua itu memandang bulan.
"Lima tahun engkau meminta jawaban."
"Iya."
"Dan Tuhan tidak pernah terlambat menjawab."
Abdullah merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Maksud Kakek?"
Orang tua itu tersenyum lagi.
"Sabarlah, Nak. Sebentar lagi engkau akan menerima setangkai bunga sebagai jawaban atas doa-doamu."
Belum sempat Abdullah bertanya lagi, angin malam berembus. Ia memejamkan mata sesaat. Dan ketika membukanya, lelaki tua itu sudah tidak ada. Sepanjang perjalanan pulang, Abdullah tidak mampu berpikir jernih. Apakah ia bermimpi? Apakah ia berhalusinasi? Ataukah Tuhan memang sedang berbicara dengan bahasa yang tidak dipahaminya? Sampai azan Subuh berkumandang, ia belum juga tidur.
Seminggu kemudian, seorang teman lama mengundangnya makan malam. Di tengah obrolan sederhana tentang pekerjaan dan kehidupan, temannya tiba-tiba berkata,
"Dul, ada perempuan."
Abdullah tersenyum hambar.
"Aku sudah terlalu tua."
"Justru karena itu."
"Aku tidak pantas."
"Kau pantas bahagia."
Abdullah diam.
Temannya melanjutkan.
"Dia tetanggaku. Kerja di luar kota. Baik orangnya. Sudah lama sendiri."
Abdullah memandang gelas teh di depannya.
Hatinya berdebar tanpa sebab.
"Kalau kau mau, nanti aku kasih nomor WhatsApp-nya."
Entah mengapa, aroma bunga di Aji Gunung tiba-tiba kembali hadir dalam ingatannya.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
"Baik."
Malam itu, sebelum tidur, Abdullah menerima sebuah nomor telepon. Ia menyimpannya. Namun baru keesokan harinya ia memberanikan diri mengirim pesan.esan itu sederhana. Hanya salam dan perkenalan. Tetapi balasan yang datang membuatnya merasa nyaman. Perempuan itu memperkenalkan dirinya dengan singkat.
"Nama saya Ipah."
Percakapan mereka berlanjut. Percakapan itu sederhana. Tentang pekerjaan. Tentang hujan.Tentang kopi.Tentang kesepian.
Tetapi entah mengapa, pada hari kedua itu, Abdullah mulai merasakan sesuatu yang telah lama hilang dari ruang batinnya selama lima tahun terakhir: sebuah getaran.
Bukan getaran yang lahir dari kata-kata, bukan pula dari rayuan atau harapan yang sengaja dipelihara. Ia datang begitu saja, seperti embun yang turun tanpa suara, seperti angin yang menyentuh daun tanpa pernah terlihat.
Abdullah merasa seolah-olah ia tidak sedang berbicara dengan seorang yang baru dikenalnya. Ada sesuatu yang aneh dan sulit dijelaskan, seakan-akan jiwa mereka pernah saling menyapa di suatu ruang yang tak dapat dijangkau oleh ingatan manusia. Setiap balasan pesan yang muncul di layar teleponnya terasa seperti gema dari sebuah pertemuan yang telah lama ditakdirkan.
Kemudian perempuan itu mengirimkan sebuah foto, bukan foto wajah dan bukan pula swafoto. Melainkan foto dirinya dari belakang. Ia sedang duduk menghadap lautan. Angin memainkan ujung jilbabnya. Dan cakrawala tampak begitu luas.
Abdullah memandangi foto itu sangat lama. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tak mampu dijelaskan. Seolah-olah perempuan itu sedang menunggu seseorang untuk mengajaknya berlayar. Mengarungi lautan yang terlalu luas untuk dilalui sendirian.
Foto itu seperti bersuara dan memanggil dari tempat yang sangat jauh. Tidak terdengar oleh telinga tetapi terdengar oleh hati.
Suara itu lirih memohon.
"Datanglah."
"Obati lukaku."
"Temani aku."
"Lindungi aku dari badai."
Abdullah merinding. Ia tidak melihat wajah. Namun justru karena itulah ia merasa melihat sesuatu yang lebih dalam daripada wajah.
Dan tanpa sadar, hatinya juga berkata : Aku ingin menemanimu berlayar. Aku ingin menjaga perahumu dari badai. Aku ingin menjadi rumah bagi lelahmu.
Ia terdiam lalu memejamkan mata mencari arti dari semua perasaan yang muncul.
Malamnya, ia bertanya kepada Ipah.
"Mengapa fotonya dari belakang?"
Jawaban Ipah datang beberapa menit kemudian.
" Karena wajah sering menipu".
Abdullah terdiam.Tak lama kemudian, pesan lain masuk.
"Jika Mas ingin mengenalku, rasakanlah apa yang Mas lihat dari foto itu.
Bukankah hati juga memiliki mata?"
"Dan jika Mas mampu mendengarkan suara hati Mas sendiri, mungkin Mas akan bisa menaklukkanku"
Kalimat itu terus terngiang. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Getaran itu tidak berkurang. Justru bertambah.
Perlahan-lahan, Abdullah merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah mampu dijelaskan oleh akalnya sendiri. Sebuah rasa yang tidak lahir dari tatapan mata. Sebuah rindu yang tidak bermula dari pertemuan. Dan sebuah kasih sayang yang tidak membutuhkan alasan apa pun untuk tumbuh.
Ia tidak mengenal wajah perempuan itu. Tidak tahu bagaimana sorot matanya ketika tertawa, tidak tahu bagaimana ekspresinya ketika bersedih. Namun, setiap kali nama "Ipah" muncul di layar teleponnya, ada sesuatu yang bergetar halus di dalam dadanya; seperti dawai tua yang lama terdiam, lalu disentuh kembali oleh tangan yang tak terlihat.
Ia mulai merindukan bunyi kecil notifikasi yang sebelumnya tak pernah berarti apa-apa. Ia merindukan jeda-jeda sunyi sebelum balasan pesan datang. Bahkan ia merindukan seseorang yang wajahnya sendiri belum pernah ia lihat. Dan yang lebih aneh lagi, setiap kali kerinduan itu datang, aroma bunga yang pernah semerbak di Aji Gunung selalu hadir bersamanya.
Mula-mula hanya samar, seperti hembusan angin yang membawa kenangan. Namun semakin hari, aroma itu terasa semakin nyata. Kadang hadir saat ia selesai membaca Al-Qur'an. Kadang menyelinap ketika ia memejamkan mata di penghujung tahajud. Dan kadang-kadang, ketika ia sedang menatap langit malam sendirian, aroma itu datang begitu saja, seolah ada seseorang yang sedang berdiri sangat dekat dengannya, tetapi tak mampu dilihat oleh mata.
Abdullah pun mulai menghabiskan malam-malamnya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Ia memperpanjang tahajudnya. Ia memperlama dzikirnya. Ia memperdalam tangisnya. Sebab semakin ia mendekati Allah, semakin ia merasa bahwa ada sesuatu yang sedang ditunjukkan kepadanya, meskipun ia belum sepenuhnya memahami maknanya.
Kadang Abdullah berpikir, mungkin beginilah para pecinta mengenal cinta kepada Tuhannya: bukan melalui penjelasan, melainkan melalui getaran; bukan melalui perjumpaan, melainkan melalui kerinduan. Sebab semakin ia berusaha memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya, semakin ia merasa bahwa dirinya sedang dibawa menuju sebuah rahasia yang lebih besar daripada sekadar cinta antara seorang lelaki dan seorang perempuan.
Maka pada suatu malam yang sangat sunyi, ketika seluruh manusia telah terlelap dan hanya suara jangkrik yang menemani kesendiriannya, Abdullah bersujud lebih lama dari biasanya. Bahunya bergetar. Air matanya membasahi sajadah.
Dan dalam sujud yang terasa seperti perjalanan pulang itu, ia berbisik lirih:
"Ya Allah, jika ini adalah bunga yang Engkau kirimkan sebagai jawaban atas seluruh penantianku, maka ajarilah aku untuk menjaganya. Jika ini adalah takdirku, maka dekatkanlah aku kepadanya. Dan jika ini hanyalah ujian bagi hatiku, maka jangan biarkan aku mencintai selain karena-Mu."
Di luar rumah, malam telah menumpahkan seluruh kesunyiannya. Angin berembus perlahan, menyusuri celah-celah jendela dan menyentuh kulitnya seperti tangan tak kasatmata. Lalu, entah dari langit yang mana, entah dari kenangan yang mana, aroma bunga itu kembali semerbak. Mula-mula samar, seperti bisikan doa yang nyaris terlupakan, lalu perlahan memenuhi ruang, merambat ke dinding-dinding rumah, memasuki dadanya, dan membangunkan kembali seluruh getaran yang selama ini berusaha ia sembunyikan.
Abdullah lalu memejamkan mata sembari menunggu takdir perjumpaannya dengan Ipah. Di antara sunyi, rindu, dan air mata yang belum sempat jatuh, ia merasa seolah Tuhan sedang mengirimkan sebuah pertanda yang belum sepenuhnya sanggup ia pahami.
Next News

Suro dan Piala Dunia
20 days ago

Di Ujung Tusuk Sate
a month ago

Mandangin, Tumpukan Uang yang Belum Digali
2 months ago

Lailatul Qodar di Tiang Masjid Madegan
4 months ago

REFLEKSI SATU ABAD NU: DARI GEGERAN KE GERGERAN
6 months ago

Madura dan Musik Dangdut
6 months ago

Kronologis Bara Isu Pilkades Sampang: Dari Penundaan hingga Aksi Ricuh di Tahun 2025
8 months ago

Mak Ebun : Panggilan Kasih di Balik Kekuasaan Desa
8 months ago

Mimpi yang Menjadi Nisan
9 months ago

Kambing Hitam
10 months ago





