Kamis, 28 Mei 2026
Salsabila FM
Opini

Di Ujung Tusuk Sate

Redaksi - Thursday, 28 May 2026 | 11:08 AM

Background
Di Ujung Tusuk Sate
Di Ujung Tusuk Sate (Faisol Ramdhoni/)

Oleh: Faisol Ramdhoni 


Idul Adha selalu datang dengan cara yang akrab. Malam sebelumnya takbir berkumandang dari masjid ke masjid, memantul di dinding rumah, menembus langit kampung, lalu menetap pelan di dada orang-orang. Paginya, jalan-jalan dipenuhi langkah menuju lapangan dan musala. Orang-orang saling bersalaman. Anak-anak memakai baju terbaiknya. Udara terasa berbeda, terasa lebih hangat, lebih lapang, seolah hari itu membawa sesuatu yang ingin dititipkan Tuhan kepada manusia.

 

Setelah salat usai, kampung memasuki babak yang lain. Halaman-halaman masjid mulai ramai. Tangan-tangan sibuk bekerja. Ada yang mengikat, ada yang memotong, ada yang menimbang, ada yang membagikan. Daging berpindah dari tangan ke tangan, dari rumah ke rumah, dari yang mampu kepada yang menerima.



 

Menjelang siang, aktivitas perlahan reda. Tetapi Idul Adha belum benar-benar selesai.

Sore harinya, tungku-tungku kecil mulai menyala.Arang ditumpuk. Api dijaga agar tidak terlalu besar. Potongan daging ditusuk satu per satu dengan bambu tipis, lalu diletakkan di atas bara. Lemak menetes perlahan. Api menyambar kecil. Asap naik tipis membawa aroma yang tak pernah gagal membangkitkan kenangan.

 

Di saat seperti itu, Iduladha terasa begitu dekat. Bukan hanya sebagai ibadah. Tetapi sebagai kehidupan itu sendiri.



 

Di tengah asap yang mengepul dan percakapan yang bersahutan, ada sesuatu yang nyaris tak pernah diperhatikan: tusuk sate.

 

Ia kecil,tipis,murah,sering dibuang setelah selesai dipakai. Tak pernah menjadi pusat perhatian. Orang memuji empuknya daging, gurihnya bumbu, matangnya bakaran. Jarang ada yang memikirkan tusuknya.Padahal tanpa tusuk itu, potongan-potongan daging tak akan menyatu. Ia akan jatuh ke bara. Sulit dibolak-balik. Sulit matang bersama.

 



Tusuk sate itu diam-diam memegang semuanya. Meski kecil tapi perannya vital. Bukankah hidup juga sering ditopang oleh hal-hal kecil yang nyaris tak terlihat?

 

Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita seperti tusuk sate. Tidak selalu tampak di permukaan, tetapi diam-diam menyangga banyak hal. Mereka tidak selalu dipuji, tapi tanpanya hidup kita mungkin tercerai-berai.

 

Seperti: seorang ibu yang bangun lebih pagi dari semua orang, seorang ayah yang memilih diam saat lelah agar rumah tetap terasa tenang, seorang sahabat yang datang di waktu sulit tanpa banyak bicara. Laksana doa-doa para leluhur yang tak pernah kita dengar, tetapi mungkin masih mengiringi langkah kita sampai hari ini. Mereka bekerja seperti tusuk sate.Sederhana, sunyi tapi menopang.



 

Idul Adha sendiri merupakan pelajaran besar tentang itu. Tentang Nabi Ibrahim yang bersedia melepaskan apa yang paling dicintainya. Tentang Ismail yang bersedia menyerahkan dirinya dengan penuh percaya. Tentang cinta yang tidak diukur dari seberapa erat menggenggam, tetapi seberapa lapang.  

 

Ibrahim mengajarkan bahwa iman tidak selalu hadir dalam kemenangan. Kadang ia justru hadir ketika seseorang sanggup berjalan menuju kehilangan tanpa kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan. Barangkali itulah hakikat Idul Adha!.

 



Idul Adha bukan hanya tentang hewan yang disembelih. Melainkan tentang sesuatu dalam diri yang perlahan kita lepaskan. Berupa ego, keangkuhan, keinginan untuk mengendalikan segalanya,rasa memiliki yang terlalu erat. Bisa juga berbentuk luka yang terlalu lama kita simpan sendiri.

 

Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa dibawa terus-menerus. Ada yang harus direlakan agar jiwa menjadi lebih lapang. Seperti daging yang ditusuk di atas bara itu. Ia harus melewati panas untuk menjadi matang. Harus dibalik berkali-kali agar tidak gosong sebelah. Harus menunggu waktu yang pas sebelum akhirnya siap disantap. Tak bisa dipercepat.Tak bisa dipaksa.

 

Begitu pula manusia, keikhlasan tak lahir dalam sehari. Ia tumbuh pelan,kadang melalui kehilangan,kadang melalui penantian panjang,kadang melalui kecewa yang berkali-kali datang dan tak jarang melalui doa yang belum juga menemukan jawab.Seperti sate yang matang di atas bara, hati pun perlahan berubah oleh api kehidupannya sendiri.



 

Orang Jawa menyebut proses itu nrimo ing pandum.Menerima bagian,menerima yang datang,menerima yang pergi,menerima bahwa tidak semua yang diinginkan harus dimiliki. Menerima bahwa tidak semua doa dijawab sesuai permintaan.

 

Namun nrimo bukan berarti menyerah. Ia bukan berhenti berharap.Ia justru lahir setelah seseorang berikhtiar sepenuh tenaga.Setelah menanam,setelah menjaga setelah berdoa.Lalu menerima hasilnya dengan hati yang tidak memberontak. Seperti Ibrahim.

Seperti bara yang tidak pernah memilih apa yang dibakarnya. Seperti tusuk sate yang diam-diam menjalankan tugasnya sampai selesai.



Dalam hidup, manusia terus berjumpa dengan kehilangan dan ketidaksesuaian. Ada doa yang belum terkabul. Ada cita-cita yang tertunda. Ada pertemuan yang berakhir perpisahan. Ada harapan yang tidak tumbuh seperti yang dibayangkan. Tidak semua yang kita perjuangkan akan menjadi milik kita. Tidak semua yang kita cintai akan menetap bersama kita. Pada titik-titik seperti itulah nrimo ing pandum diuji dalam kehidupan nyata.

Namun menerima bukan berarti berhenti berharap. Menerima adalah bentuk kedewasaan batin. Kita tetap bekerja, tetap berdoa, tetap berusaha, tetapi tidak memaksa hidup tunduk pada seluruh keinginan kita.

Kita belajar memahami bahwa manusia hanya bisa menanam, sedangkan tumbuh dan berbuah adalah bagian dari kehendak Tuhan. Kita bisa merencanakan, tetapi hasil akhirnya tetap berada di tangan-Nya. eperti Ibrahim. Seperti bara yang tidak pernah memilih apa yang dibakarnya. Seperti tusuk sate yang diam-diam menjalankan tugasnya sampai selesai.Di sinilah keikhlasan menjadi bentuk tertinggi dari kepercayaan.

 

Menjelang malam, satu per satu sate diangkat dari panggangan. Orang-orang mulai makan bersama. Tawa terdengar di sela kepulan asap yang menipis. Anak-anak berebut bagian paling gosong. Orang dewasa saling menawari tambahan sambal.



 

Sementara di sudut halaman, beberapa tusuk sate mulai menumpuk dan terdiam. Tugasnya selesai,tak ikut disantap dan tak dibawa pulang.Mungkin esok sudah dibuang.

 

Namun ia telah menjadi bagian dari sebuah perjalanan rasa. Dari daging mentah menuju hidangan. Dari kurban menuju kebersamaan. Dari bara menuju aroma. Dari pengorbanan menuju syukur. Dan di situlah kita bisa tahu bahwa Idul Adha selalu menyimpan pelajaran paling jujur dalam hal-hal kecil.

 



Kadang bukan pada dagingnya, bukan pada asapnya, bukan bahkan pada keramaiannya.Tetapi justru pada sesuatu yang nyaris luput kita pandangi. Pada ujung tusuk sate.

 

Di sana, hidup seperti berbicara dengan bahasa yang sederhana: bahwa yang kecil bisa menopang yang besar, bahwa yang dibakar belum tentu sedang dihancurkan bisa jadi sedang dimatangkan. Bahwa yang dilepas dengan ikhlas tidak selalu hilang namun sering kali justru berubah menjadi berkah. Dan bahwa manusia, seperti sate di atas bara, barangkali memang sedang dimasak oleh hidup. Agar matang, agar harum, agar siap dipersembahkan kembali kepada Tuhannya dengan hati yang lebih lapang.