Kamis, 5 Februari 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Cancel Culture dan Kekuasaan Netizen

Redaksi - Thursday, 05 February 2026 | 08:00 AM

Background
Cancel Culture dan Kekuasaan Netizen
Cancel Culture dan Kekuasaan Netizen ( Istimewa/)

Budaya Cancel Culture: Apa Itu, Kenapa Ini Begitu Pedas, Dan Bagaimana Kita Menangani Nya

Siapa yang belum pernah mendengar istilah "cancel culture" dalam percakapan sehari-hari? Mungkin sebagian besar dari kita menganggapnya sebagai sekadar istilah internet, atau setidaknya sekadar tren media sosial yang cepat memakan waktu. Namun, bila kita lihat lebih dalam, cancel culture itu lebih mirip "pengejaran moral" yang terjadi secara virtual, di mana siapa saja bisa jadi subjek tuduhan, diikuti "banned" atau "dihentikan" dari platform digital atau bahkan kehidupan sosialnya. Dalam artikel ini, kita akan membahas sejarahnya, mekanisme yang melatarbelakanginya, serta bagaimana generasi muda bisa menangani situasi ini tanpa merasa terpuruk.

Sejarah Singkat: Dari Mimikry ke Meme

Cara kita memaksakan "keadilan" atas pelanggaran yang kita rasakan memang tidak baru. Mulai dari "shaming" atau memaki seseorang di ruang publik, kini bertransformasi menjadi "cancel" di era digital. Seorang mahasiswa bernama Emily Chang, seorang aktivis yang sangat vokal di platform TikTok, memulai gerakan cancel pertama di Indonesia ketika dia menemukan video seorang selebriti yang menampilkan perilaku diskriminatif. Video itu langsung merambat, komentar datang berselang-seling, dan akhirnya selebriti tersebut diberhentikan dari beberapa kerja sama bisnisnya.

Sejak saat itu, cancel culture tumbuh seperti semut di taman. Kini, tidak hanya selebriti, bahkan influencer kecil pun tidak kebal. Jika seseorang melakukan kesalahan, terutama yang berkaitan dengan isu ras, gender, atau lingkungan, publik cenderung menekan "banning" melalui filter.

Mekanisme Cancel Culture: Bagaimana Cara Kerjanya?

  • Identifikasi Pelanggaran – Biasanya dimulai dengan postingan, video, atau tweet yang menimbulkan kontroversi.
  • Mobilisasi Komunitas – Komunitas online mulai berbagi link, menciptakan hashtag, dan menuntut penegakan sanksi.
  • Verifikasi dan Penyebaran – Berita atau klaim seringkali melewati tahap "verifikasi" yang tidak resmi. Banyak kali, fakta hanya berdasarkan "spek" atau "saksi mata" di media sosial.
  • Penerapan Sanksi – Sanksi bisa berupa pemblokiran akun, penghapusan kerja sama, atau bahkan tekanan terhadap karyawan dan sponsor.
  • Resolusi atau Reaksi – Tergantung pada situasi, pihak yang dicancel bisa meminta maaf, melakukan perbaikan, atau terpaksa menyerah pada tekanan.

Prosesnya cepat, mudah, dan sangat dipengaruhi oleh kecepatan "spread" di platform seperti Twitter, Instagram, dan WhatsApp.

Kenapa Cancel Culture Begitu Pedas? Apa Keberuntungannya?

Di satu sisi, cancel culture dianggap sebagai "pembalasan" atas tindakan tidak etis. Ini memberikan suara bagi mereka yang sebelumnya tidak mampu bersuara. Misalnya, korban pelecehan seksual di perusahaan besar bisa menemukan dukungan melalui #MeToo, yang memaksa perusahaan meninjau kebijakan mereka.

Namun, sisi lain adalah "overkill" atau bahkan "kefotinan". Sanksi tidak selalu proporsional, dan dalam beberapa kasus, orang bisa di-"cancel" tanpa bukti kuat atau bahkan karena hoaks. Hukum atau proses hukum tradisional tidak selalu dapat menangkap semua skenario. Di sinilah muncul kritik: cancel culture bisa jadi misinformation amplifier.

Bagaimana Generasi Muda Bisa Tanggap Tanpa Terbakar?

1. Berpikir Kritis – Jangan langsung mengklik semua link atau "share" cerita tanpa memeriksa kebenaran. Kumpulkan bukti, tanyakan kepada sumber asli.

2. Berikan Ruang Dialog – Daripada langsung "banned", coba ajukan pertanyaan. Misalnya, "Apakah kamu tahu konteks sebelum kamu menulis itu?"

3. Berpikir Proporsional – Jika seseorang melakukan kesalahan, apakah sanksi yang diberikan pantas? Cobalah melihat perspektif kedua belah pihak.

4. Gunakan Empati – Ketika orang menolak pandangan yang berbeda, cobalah untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Ini membantu membangun dialog, bukan konfrontasi.

5. Berperan Aktif di Platform – Gunakan fitur "report" dan "block" dengan bijak. Kalau menemukan konten palsu atau hoaks, laporkan secara formal.

Contoh Kasus Cancel Culture di Indonesia

1. Kasus Selebriti B – Selebriti ini sering melakukan komentar yang dianggap homofobik. Komunitas LGBTQ+ menggunakan hashtag #BukanSampaiBebas, lalu selebriti itu terpaksa mengundurkan diri dari beberapa endorsement.

2. Kasus Politikus A – Seorang politisi membuat tweet yang menyalahkan kelompok minoritas. Dalam waktu 2 jam, tweet itu menjadi viral, menuntut pengunduran diri, dan akhirnya ia harus menarik diri.

3. Kasus Influencer C – Influencer ini memposting video "challenge" yang mengandung unsur kekerasan. Banyak pengikutnya mengkritik, akhirnya ia memutuskan untuk menyatakan maaf dan memamerkan langkah-langkah pembelajaran.

Kesimpulan: Cancel Culture Itu Lebih Kompleks Dari Yang Terlihat

Cancel culture adalah cerminan perubahan sosial, di mana media sosial menjadi panggung bagi keadilan dan kontroversi. Di satu sisi, ia membantu mengangkat suara minoritas dan menuntut tanggung jawab. Di sisi lain, ia kadang menekan orang tanpa proses hukum yang jelas. Jadi, bagi kita generasi muda, penting untuk menjadi kritis, empati, dan bijak dalam menggunakan platform digital. Karena di akhir cerita, "cancel" bukan tentang menghukum, tapi tentang menemukan cara untuk membuat perbedaan yang lebih baik.

Ingat, kalau kamu merasa tertekan, ada cara lain untuk berdampak positif selain hanya menekan tombol "ban". Jadi, tetap jernih, tetap kritis, dan tetap bersinergi. Karena akhirnya, budaya cancel itu hanya sebatas "sosial media", sementara kebahagiaan sejati datang dari kerja keras, empati, dan integritas pribadi. Cheers!