Sepiring Nasi, Sepotong Jiwa
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 09:00 AM


Menemukan Kembali Jiwa dalam Sepiring Nasi: Mengapa Kuliner Tradisional Selalu Menang Telak dari Kafe Estetik
Pernah nggak sih kalian ngerasa capek sama hiruk-pikuk kafe kekinian yang interiornya minimalis, lampunya remang-remang estetik, tapi pas makanannya dateng, rasanya cuma kayak "ya udah gitu doang"? Kadang kita bayar mahal buat seporsi pasta yang porsinya cuma seiprit, padahal di ujung gang ada warung soto yang uapnya mengepul dan aromanya udah manggil-manggil dari jarak seratus meter. Di titik itulah kita sadar, sekeren apa pun tren kuliner "fusion" atau "molecular gastronomy" yang lagi nge-hype di TikTok, kuliner tradisional tetaplah pemenang sesungguhnya dalam urusan memanjakan lidah dan hati.
Bumbu Jangkep: Rahasia yang Nggak Bisa Ditiru Mesin
Salah satu alasan kenapa masakan tradisional Indonesia itu rasanya "nendang" banget adalah karena kesabaran yang dituangkan ke dalamnya. Bayangin aja, buat bikin rendang yang warnanya cokelat pekat dan bumbunya meresap sampai ke serat daging terdalam, itu butuh waktu berjam-jam. Nggak ada tuh ceritanya pakai bumbu instan sasetan kalau mau dapet rasa yang otentik. Ada filosofi "slow cooking" yang udah diterapin nenek moyang kita jauh sebelum istilah itu jadi tren di kalangan chef dunia.
Penggunaan bumbu jangkep alias rempah-rempah lengkap—mulai dari lengkuas, kunyit, jahe, sampai ketumbar—bukan cuma soal rasa, tapi soal karakter. Masakan tradisional itu jujur. Dia nggak butuh plating bunga-bunga yang bisa dimakan atau saus yang dicoret-coret di piring biar kelihatan mewah. Cukup ditaruh di atas daun pisang, aromanya udah bikin kita auto-lapar. Tekstur sambal yang diulek manual di atas cobek batu juga punya "vibe" yang beda jauh sama sambal yang dihalusin pakai blender. Ada tekstur kasar cabai dan bawang yang pecah di mulut, yang jujurly, bikin sensasi makan jadi berkali-kali lipat lebih nikmat.
Kuliner Tradisional Sebagai Mesin Waktu
Makan kuliner tradisional itu sebenarnya kayak naik mesin waktu. Setiap suapan punya cerita. Misalkan, kita lagi makan Gudeg di Jogja. Bau nangka yang dimasak lama bareng santan dan gula jawa itu bukan cuma soal manis, tapi soal memori. Mungkin memori waktu kita masih kecil diajak mudik, atau memori pas lagi susah-susahnya jadi mahasiswa dan nemu warung nasi yang porsinya bar-bar tapi harganya ramah di kantong.
Inilah yang nggak dimiliki oleh makanan-makanan viral yang datang dan pergi secepat kilat. Makanan tradisional punya akar yang kuat dalam budaya kita. Dia adalah identitas. Kalau kita ke Padang, sate padang dengan kuah kentalnya itu adalah pernyataan harga diri. Kalau kita ke Bandung, seblak dengan aroma kencurnya yang kuat itu adalah simbol kreativitas warga lokal dalam mengolah kerupuk jadi sesuatu yang luar biasa. Masakan ini bukan cuma soal mengisi perut, tapi soal merayakan keberagaman yang kita punya tanpa harus jadi sok gaya.
Fenomena Hidden Gem dan Keajaiban Tangan "Si Ibu"
Sekarang lagi ramai istilah "hidden gem" di media sosial. Orang-orang rela masuk gang sempit, lewatin becek, cuma buat nemuin warung nasi pecel yang katanya legendaris. Kenapa? Karena ada kepercayaan kolektif kalau masakan yang dimasak sama ibu-ibu atau nenek-nenek di warung sederhana itu punya "soul" atau jiwa. Mereka masak nggak pakai takaran timbangan digital yang presisi banget, tapi pakai "feeling". Sedikit garam di sini, sejumput gula di sana, dan hasilnya selalu pas.
Lucunya, meskipun tempatnya mungkin cuma pakai kipas angin butut atau bahkan cuma lesehan di trotoar, antreannya bisa lebih panjang daripada antrean rilis iPhone terbaru. Ini membuktikan kalau lidah kita itu nggak bisa dibohongin. Kita mungkin suka foto-foto di kafe cantik buat kebutuhan feed Instagram, tapi kalau urusan memuaskan hasrat makan yang hakiki, kita pasti bakal balik lagi ke bakso langganan yang abangnya udah hafal kalau kita nggak suka pakai seledri.
Melawan Arus Globalisasi dengan Sambal dan Kecap
Di tengah gempuran makanan dari luar—mulai dari ramen, tteokbokki, sampai burger raksasa—kuliner tradisional kita tetap berdiri tegak. Bahkan, sekarang banyak anak muda yang mulai sadar kalau melestarikan kuliner tradisional itu keren. Lihat aja gimana sekarang kopi tubruk mulai naik kelas, atau gimana jamu mulai dikemas jadi minuman kekinian yang disukai gen-Z. Ini adalah tanda kalau kita mulai bangga sama apa yang kita miliki.
Menurut opini saya, tantangan terbesar kuliner tradisional kita bukan pada rasanya yang kalah saing, tapi pada cara kita mengapresiasinya. Kita kadang terlalu pelit buat bayar mahal untuk sepiring nasi campur yang bumbunya kompleks banget, tapi rela keluarin duit ratusan ribu buat makanan asing yang proses masaknya jauh lebih simpel. Padahal, teknik memasak tradisional kita itu tingkat tinggi, lho. Mengolah rebung biar nggak bau atau bikin pepes ikan yang durinya lunak itu butuh skill tingkat dewa yang nggak diajarin di sekolah masak luar negeri.
Penutup: Jangan Lupa Makan Enak Hari Ini
Jadi, buat kalian yang akhir pekan ini bingung mau makan di mana, coba deh sesekali skip mall atau kafe yang "Instagrammable" itu. Coba cari warung sate maranggi yang asapnya ngepul-ngepul, atau cari penjual soto betawi yang kuahnya kental gurih. Rasakan sensasi rempahnya, nikmati suasana berisiknya pasar atau jalanan, dan biarkan makanan itu bercerita tentang kekayaan tanah air kita.
Kuliner tradisional itu warisan yang nggak bakal lekang oleh waktu selama kita masih mau mengapresiasinya. Bukan cuma soal rasa, tapi soal menghargai proses, sejarah, dan tangan-tangan kreatif yang menjaga resep itu tetap hidup dari generasi ke generasi. Lagipula, apalah artinya hidup kalau nggak diawali dengan sarapan bubur ayam yang diaduk (atau nggak diaduk, terserah sekte kalian) yang rasanya juara dunia? Selamat berburu kuliner tradisional, dan jangan lupa tambah kerupuk!
Next News

Komunitas Hobi = Terapi Jiwa
in 5 hours

Nulis Itu Self-Healing Murah
in 5 hours

DIY or Die
in 5 hours

Seni Menangkap Momen
in 5 hours

Nongkrong Positif: Kopi, Obrolan, dan Energi Baru
in 5 hours

Self-Healing Versi Netflix: Film Nostalgia
in 4 hours

Ketika Hobi Tak Perlu Masuk Akal
in 4 hours

Healing atau Kabur Sesaat?
in 4 hours

Dari Y2K Sampai Skena: Kita Sebenarnya Mau Jadi Apa?
in 4 hours

Musik Favorit dan Kita
in 3 hours





