Nulis Itu Self-Healing Murah
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 10:00 AM


Menulis: Ritual Buang Sampah Pikiran yang Sering Kita Bikin Ribet Sendiri
Pernah nggak sih kamu duduk anteng di depan laptop, niatnya sudah bulat mau bikin tulisan yang keren, tapi ujung-ujungnya cuma bengong selama satu jam? Kamu cuma ngeliatin kursor yang kedap-kedip di layar putih seolah-olah benda itu lagi ngetawain kamu karena nggak ada satu kata pun yang keluar. Rasanya kayak mau nembak gebetan tapi lidah tiba-tiba kelu. Itulah horor paling nyata bagi siapa pun yang mencoba menulis: the blank page syndrome.
Anehnya, banyak dari kita yang masih menganggap kalau menulis itu adalah pekerjaan sakral yang cuma boleh dilakukan sama orang-orang berkacamata tebal, pakai turtleneck, dan suka ngopi di pojokan senyap sambil baca bukunya Pramoedya Ananta Toer. Padahal, kalau mau jujur, kita semua ini sebenarnya penulis. Tiap kali kamu bikin thread panjang di X (dulu Twitter) soal kelakuan bos yang nyebelin, atau waktu kamu ngetik caption Instagram yang puitis biar dibilang deep, ya kamu lagi menulis. Bedanya cuma di medium dan gengsinya doang.
Bukan Soal Bakat, Tapi Soal Keberanian Menjadi Buruk
Kesalahan fatal paling umum waktu orang mau mulai menulis adalah pengen langsung kelihatan pinter. Kita sering terjebak dalam delusi kalau tulisan pertama kita harus langsung selevel sama opini-opini tajam di media besar atau seestetik novel-novel pemenang penghargaan. Padahal ya nggak gitu mainnya. Menulis itu proses yang kotor. Draft pertama itu hampir selalu sampah, dan itu sangat manusiawi.
Ada anggapan di kalangan penulis kalau tulisan yang bagus itu sebenarnya hasil dari proses edit yang gila-gilaan, bukan karena sekali ketik langsung jadi. Jadi, kalau kamu baru nulis satu paragraf terus dihapus lagi karena merasa kalimatnya "nggak sreg" atau "kurang dapet feel-nya," selamat, kamu baru saja membunuh ide yang bahkan belum sempat bernapas. Tips paling jujur yang bisa dikasih adalah: tulis aja dulu sampai berantakan. Biarin tata bahasanya berantakan, biarin diksinya acak-adut. Toh, yang tahu itu jelek cuma kamu sama Tuhan dulu di tahap awal.
Menulis Sebagai Terapi "Self-Healing" yang Paling Murah
Di jaman sekarang, kata self-healing identik sama staycation mahal atau beli kopi literan. Padahal ada cara yang jauh lebih murah dan efektif buat beresin isi kepala yang berisik: menulis jurnal. Menulis itu ibaratnya kayak "buang hajat" buat otak. Sepanjang hari, otak kita dipenuhi sama ribuan informasi, mulai dari berita politik yang bikin darah tinggi sampai drama influencer yang nggak penting. Kalau nggak dikeluarin, ya lama-lama otak kita bisa mulas karena kepenuhan sampah informasi.
Banyak orang bilang kalau mereka merasa lebih tenang setelah curhat di atas kertas (atau aplikasi notes di HP). Kenapa? Karena saat kita memindahkan pikiran ke dalam bentuk kata-kata, kita secara nggak langsung lagi mengorganisir kekacauan. Masalah yang tadinya kerasa raksasa dan abstrak di kepala, tiba-tiba jadi lebih konkret dan terukur pas sudah jadi kalimat. Kamu jadi bisa ngeliat masalah itu dari luar, bukan lagi terjebak di dalamnya. Makanya, jangan heran kalau banyak orang yang hobi nulis biasanya punya emosi yang lebih stabil—ya walaupun nggak selalu juga sih, banyak juga penulis yang tetap chaos hidupnya.
Gaya Bahasa: Formal itu Membosankan, Jadilah Dirimu Sendiri
Salah satu yang bikin orang malas baca tulisan jaman sekarang adalah bahasanya yang terlalu kaku dan kayak buku teks sekolah. Di era internet ini, orang lebih suka tulisan yang "bernyawa." Tulisan yang kalau dibaca itu rasanya kayak lagi dengerin teman curhat di warung kopi. Ada emosinya, ada slang-nya, ada opininya yang mungkin agak subjektif tapi jujur.
Nggak usah takut pakai kata-kata yang biasa kamu pakai sehari-hari. Kalau kamu mau bilang "sangat luar biasa," tapi rasanya lebih pas pakai kata "pecah banget," ya pakai aja. Menulis itu soal komunikasi, bukan soal pamer perbendaharaan kata KBBI yang jarang didengar orang. Yang penting pesannya sampai dan pembaca nggak merasa lagi diceramahi sama guru bahasa Indonesia yang galak. Gunakan ritme yang variatif; ada kalimat yang panjang lebar buat ngejelasin sesuatu, tapi susul dengan kalimat pendek yang nendang. Biar pembaca nggak ngos-ngosan.
Menulis Adalah Cara Kita Melawan Lupa
Ada kutipan terkenal yang bilang kalau penulis itu abadi. Kedengarannya emang agak lebay, tapi ada benarnya juga. Apa yang kamu tulis hari ini bisa jadi saksi sejarah buat diri kamu sendiri sepuluh tahun ke depan. Pernah nggak kamu baca lagi status Facebook atau caption IG kamu lima tahun lalu? Rasanya pasti campur aduk: antara pengen ketawa karena alay, atau malah kagum karena ternyata dulu kamu punya pemikiran yang lumayan oke.
Dunia ini bergerak cepat banget. Ingatan manusia itu ringkih dan gampang pudar. Menulis adalah cara kita buat "mengawetkan" momen, perasaan, dan ide. Tanpa tulisan, sejarah cuma bakal jadi kabar burung yang berubah-ubah tiap kali diceritain. Dengan menulis, kamu kasih kesempatan buat versi masa depan kamu untuk belajar dari versi masa lalu kamu. Itu adalah warisan paling sederhana yang bisa kita tinggalkan.
Kesimpulan: Mulai Aja Dulu, Urusan Bagus Itu Belakangan
Jadi, buat kamu yang masih ragu buat mulai nulis, entah itu buat blog pribadi, artikel opini, atau sekadar jurnal harian, pesan saya cuma satu: berhenti mikir terlalu keras. Kamu nggak butuh laptop mahal atau suasana senja yang melankolis buat mulai ngetik. Kamu cuma butuh satu ide kecil dan kemauan buat terlihat bodoh di draft pertama.
Menulis itu otot yang harus dilatih. Makin sering kamu nulis, makin lancar juga otak kamu buat nemuin koneksi antar ide. Jangan tunggu mood dateng, karena mood itu seringnya malas dan nggak bisa diandalin. Paksa aja. Tulis satu kalimat setiap hari, meski itu cuma kalimat sederhana kayak "Hari ini cuacanya panas banget sampai rasanya mau meleleh." Siapa tahu, dari kalimat receh itu, kamu malah nemu inspirasi buat nulis esai panjang soal pemanasan global atau soal betapa indahnya es teh plastik di pinggir jalan. Yuk, mulai nulis sekarang!
Next News

Main Tanah, Biar Waras
in 6 hours

Komunitas Hobi = Terapi Jiwa
in 4 hours

DIY or Die
in 4 hours

Seni Menangkap Momen
in 4 hours

Nongkrong Positif: Kopi, Obrolan, dan Energi Baru
in 4 hours

Self-Healing Versi Netflix: Film Nostalgia
in 3 hours

Ketika Hobi Tak Perlu Masuk Akal
in 3 hours

Sepiring Nasi, Sepotong Jiwa
in 3 hours

Healing atau Kabur Sesaat?
in 3 hours

Dari Y2K Sampai Skena: Kita Sebenarnya Mau Jadi Apa?
in 3 hours





