Sabtu, 14 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Healing atau Kabur Sesaat?

Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 09:00 AM

Background
Healing atau Kabur Sesaat?
Healing atau Kabur Sesaat? ( Istimewa/)

Healing Lewat Traveling: Antara Terapi Jiwa atau Sekadar Pelarian Biar Gak Tipus-Tipus Amat

Zaman sekarang, kata "healing" sudah bergeser maknanya dari istilah medis menjadi sebuah gaya hidup yang wajib dilakukan, minimal sekali sebulan kalau dompet mengizinkan. Sedikit-sedikit penat, langsung teriak ingin healing. Kerjaan menumpuk di meja kantor, solusinya bukan beresin deadline, tapi buka aplikasi pemesanan tiket pesawat. Fenomena ini unik, karena seolah-olah semua masalah mental yang kita hadapi bisa langsung sembuh hanya dengan melihat ombak di Bali atau kabun teh di Puncak.

Tapi jujur saja, siapa sih yang nggak butuh jeda? Hidup di kota besar dengan segala hiruk-pikuknya, mulai dari macet yang nggak masuk akal sampai tuntutan bos yang seringkali bikin kita pengen berubah jadi butiran debu, memang menguras kewarasan. Traveling kemudian hadir sebagai oase. Masalahnya, apakah perjalanan yang kita lakukan itu benar-benar menyembuhkan jiwa atau jangan-jangan cuma pelarian sementara yang justru bikin kantong pendarahan hebat?

Ekspektasi vs Realita: Healing yang Malah Bikin Pening

Mari kita bicara jujur. Seringkali kita terjebak dalam romantisasi kata healing yang ada di media sosial. Kita melihat selebgram duduk tenang di pinggir pantai dengan kelapa muda di tangan, wajah glowing tanpa beban, dan caption puitis tentang "menemukan jati diri". Kita pun tergiur. Akhirnya kita memaksakan diri berangkat, menguras tabungan yang harusnya buat bayar cicilan, demi bisa mendapatkan foto yang sama.

Realitanya? Sampai di tempat tujuan, ternyata tempatnya ramai bukan main. Mau foto estetik saja harus antre kayak mau ambil bansos. Belum lagi urusan logistik yang ribet, nyasar karena Google Maps yang hobi ngajak lewat jalan tikus, sampai drama hotel yang ternyata nggak seindah foto di aplikasi. Alih-alih mendapatkan ketenangan batin, kita justru pulang dengan fisik yang rontok dan saldo ATM yang menyedihkan. Bukannya sembuh, yang ada malah tambah stres karena harus mikir gimana caranya bertahan hidup sampai tanggal gajian berikutnya. Ini yang sering saya sebut sebagai "Healing Abal-abal".

Seni Traveling yang Beneran Nyembuhin

Padahal, esensi dari travel healing itu bukan soal seberapa jauh kita pergi atau seberapa mahal tiket yang kita beli. Healing lewat perjalanan adalah soal "disconnection" alias memutus koneksi dengan segala sesuatu yang bikin kita penat. Ini soal memberi ruang bagi kepala kita untuk berhenti berpikir tentang KPI, target, atau komentar netizen yang nggak penting.

Travel healing yang efektif biasanya melibatkan alam. Ada alasan ilmiah kenapa melihat warna hijau pepohonan atau biru laut bisa menurunkan tingkat kortisol (hormon stres). Manusia itu pada dasarnya makhluk alam, tapi kita terlalu lama dikurung dalam kotak beton bernama kantor atau apartemen. Menghirup udara yang nggak bercampur asap knalpot itu semacam kemewahan yang sebenarnya hak asasi jiwa kita. Jadi, kalau kamu mau beneran healing, coba pilih destinasi yang memungkinkan kamu untuk benar-benar menyatu dengan suasana, bukan yang cuma sekadar buat pamer di Instagram Story.

Solo Traveling: Mengobrol dengan Diri Sendiri

Salah satu cara paling ampuh untuk traveling sebagai sarana penyembuhan adalah dengan pergi sendirian. Ya, solo traveling. Memang kedengarannya menakutkan bagi sebagian orang, tapi ada kekuatan magis saat kita hanya punya diri sendiri sebagai teman bicara di perjalanan. Tanpa teman yang hobi komplain soal cuaca atau pacar yang ribet minta difotoin terus, kita jadi punya waktu untuk bener-bener refleksi.

Saat solo traveling, kita dipaksa untuk mengambil keputusan sendiri, mengatasi rasa takut, dan yang paling penting: mendengarkan suara hati kita yang selama ini tenggelam oleh kebisingan dunia luar. Di saat-saat sendirian itulah biasanya ide-ide segar muncul atau luka-luka lama perlahan mulai mengering. Kita jadi sadar kalau dunia ini luas, dan masalah kita yang tadinya terasa sebesar gunung, ternyata cuma sekecil butiran pasir di tengah hamparan semesta.

Tips Biar Healing-nya Nggak Bikin Kantong Kering

Agar traveling beneran jadi terapi dan bukan beban baru, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, jangan memaksakan gaya hidup orang lain. Kalau budget-nya cuma cukup buat staycation di pinggiran kota, ya sudah laksanakan saja. Nggak perlu maksa ke Labuan Bajo pakai pinjol. Percayalah, cicilan itu musuh utama ketenangan jiwa.

Kedua, coba matikan notifikasi handphone. Apa gunanya healing kalau tiap lima menit sekali kamu masih ngecek email kantor atau grup WhatsApp yang isinya gosip semua? Beranikan diri untuk "hilang" sebentar. Dunia nggak akan kiamat kalau kamu telat balas chat selama dua hari.

Ketiga, jangan terlalu terobsesi dengan konten. Nikmati momennya dengan mata kepala sendiri, bukan cuma lewat lensa kamera. Seringkali kita terlalu sibuk mencari sudut foto terbaik sampai lupa menikmati semilir angin atau aroma tanah sehabis hujan yang sebenarnya adalah obat mujarab buat hati yang sedang lelah.

Kesimpulan: Pulang dengan Energi Baru

Pada akhirnya, traveling sebagai sarana healing adalah sebuah investasi untuk kesehatan mental. Kita semua butuh jeda agar tidak "meledak". Tapi ingat, traveling hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Penyembuhan yang sesungguhnya terjadi di dalam sini, di dalam pikiran dan hati kita sendiri.

Pulang dari traveling, seharusnya kita merasa lebih segar dan siap menghadapi kenyataan lagi, bukan malah makin depresi melihat tumpukan tagihan. Jadi, sudah siap menentukan destinasi healing selanjutnya? Pastikan niatnya benar: untuk merawat jiwa, bukan sekadar menjaga gengsi di mata dunia. Karena di akhir hari, yang butuh ketenangan itu kamu, bukan followers kamu.