Dari Y2K Sampai Skena: Kita Sebenarnya Mau Jadi Apa?
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 09:00 AM


Menakar Obsesi Kita pada Tren Fashion: Dari Y2K Sampai Skena, Kita Ini Mau Jadi Apa Sih?
Pernah nggak sih kalian berdiri di depan lemari baju yang penuhnya sampai susah ditutup, tapi masih merasa nggak punya baju buat keluar rumah? Fenomena ini bukan karena kalian kurang belanja, tapi karena dunia fashion bergerak lebih cepat daripada cicilan paylater kita. Baru kemarin rasanya kita semua sibuk nyari celana kargo warna khaki biar kelihatan kayak anak indie, eh besoknya TikTok sudah bilang kalau tren itu sudah basi dan kita harus beralih ke gaya Old Money yang minimalis tapi harganya maksimalis.
Kalau kita perhatikan, tren fashion zaman sekarang itu kayak siklus setan yang nggak ada habisnya. Bedanya, kalau dulu tren berubah setiap sepuluh tahun sekali—ingat kan gaya disko 70-an atau gaya punk 80-an—sekarang tren bisa ganti cuma dalam hitungan minggu. Istilahnya adalah micro-trends. Kita dipaksa buat terus-terusan update biar nggak dibilang ketinggalan zaman atau fomo. Padahal kalau dipikir-pikir, capek juga ya ngikutin kemauan algoritma yang nggak ada capeknya itu.
Nostalgia yang Nggak Habis-Habis
Satu hal yang paling nyata di tahun ini adalah kembalinya tren Y2K secara ugal-ugalan. Anak-anak Gen Z yang lahir pas milenium baru malah sekarang lagi hobi banget pakai celana low-rise yang melorot itu, kacamata hitam kecil ala Matrix, sampai baju dengan warna neon yang bikin mata sakit. Jujurly, buat kita yang sempat ngerasain era itu di masa kecil, tren ini sebenarnya agak bikin trauma. Siapa sih yang mau balik lagi ke zaman baju serba ketat dan aksesoris plastik yang ringkih?
Tapi ya itulah uniknya fashion. Apa yang dulu dianggap norak, sekarang malah jadi barang incaran para kolektor barang thrifting. Thrifting sendiri sudah bergeser maknanya. Dulu, orang nge-thrift karena mau cari baju murah. Sekarang? Thrifting sudah jadi gaya hidup anak senja yang mau kelihatan beda. Pergi ke Pasar Baru atau Pasar Senen bukan lagi buat hemat, tapi buat berburu harta karun yang harganya kadang lebih mahal daripada baju baru di mal. Ironis memang, tapi ya gimana, demi estetika demi konten Instagram.
Gaya Skena dan Identitas yang Terkotak-kotak
Di Indonesia sendiri, kita punya fenomena unik yang namanya tren anak skena. Kalau kalian main ke daerah Blok M atau coffeeshop kekinian di Jakarta Selatan, kalian pasti bakal ketemu sama starter pack yang hampir seragam: kaos oversized brand lokal, sepatu Docmart atau Adidas Samba, tas totebag yang isinya entah apa, dan jangan lupa potongan rambut mullet atau cepmek. Gaya ini sebenarnya menarik karena menunjukkan kalau brand lokal kita sudah bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.
Tapi, ada satu hal yang menggelitik. Tren fashion sekarang seringkali malah jadi sekat sosial. Ada sebutan Cewek Kue buat yang suka warna-warni, Cewek Mamba buat yang serba hitam, sampai Cewek Bumi buat yang hobi pakai warna tanah. Kesannya lucu sih, tapi kadang bikin kita ngerasa harus masuk ke dalam salah satu kotak itu supaya diakui keberadaannya. Padahal, esensi fashion itu kan kebebasan berekspresi, bukan malah jadi seragam kelompok tertentu.
Quiet Luxury: Pura-Pura Kaya atau Memang Berkelas?
Setelah lelah dengan warna-warna mentereng, muncul lagi tren Quiet Luxury. Ini gaya yang terinspirasi dari orang-orang super kaya yang nggak butuh pamer logo besar di bajunya. Bajunya kelihatan polosan, warnanya krem atau putih gading, tapi kalau dipegang bahannya kasmir seharga motor matic. Masalahnya, kita yang budget-nya terbatas ini seringkali maksa ngikutin gaya ini pakai baju dari pasar tanah abang yang penting warnanya senada.
Quiet luxury ini sebenarnya pesan yang bagus tentang minimalisme: beli lebih sedikit tapi kualitasnya lebih baik. Tapi di tangan netizen, ini malah jadi ajang pamer baru. Orang jadi berlomba-lomba kelihatan berkelas dengan gaya yang kelihatannya simpel tapi sebenarnya ribet banget buat dipertahankan. Ujung-ujungnya, kita cuma beli barang baru lagi karena baju minimalis kita yang kemarin sudah nggak kelihatan estetik lagi di kamera.
Dilema Fast Fashion vs Bumi yang Makin Panas
Di balik semua keglamoran tren ini, ada sisi gelap yang jarang kita bicarakan sambil ngopi: limbah tekstil. Fast fashion brand global bikin kita kecanduan belanja dengan harga murah. Kita beli baju karena lucu, dipakai sekali buat foto, terus numpuk di pojok kamar. Kita lupa kalau produksi baju-baju itu memakan air yang luar biasa banyak dan buruhnya seringkali dibayar dengan upah yang nggak manusiawi.
Sekarang mulai banyak sih gerakan slow fashion atau sustainable fashion. Orang mulai peduli sama bahan organik atau baju yang bisa dipakai bertahun-tahun. Tapi jujur saja, tantangannya berat banget. Gimana nggak, di satu sisi kita pengen menyelamatkan bumi, tapi di sisi lain ada diskon gede-gedean di marketplace yang notifikasinya muncul tiap jam. Godaan buat checkout itu lebih berat daripada godaan mantan buat balikan.
Kesimpulan: Pakai Apa yang Bikin Nyaman
Pada akhirnya, tren fashion itu kayak tamu yang datang dan pergi. Hari ini dipuji, besok dihujat. Kalau kita cuma hidup buat dengerin kata orang atau ngikutin apa yang lagi viral di TikTok, kita nggak bakal pernah puas. Dompet kering, hati juga nggak tenang karena terus ngerasa kurang.
Tips paling ampuh menghadapi gempuran tren fashion adalah dengan jadi diri sendiri. Terdengar klise ya? Tapi beneran deh. Nggak ada salahnya pakai baju yang sudah ketinggalan zaman asalkan kalian PD dan bajunya masih layak pakai. Fashion yang paling bagus bukan yang paling mahal atau yang paling baru, tapi yang bisa bikin karakter kalian keluar tanpa harus banyak bicara. Jadi, besok mau pakai baju apa? Mau jadi Cewek Mamba atau mau jadi diri sendiri yang pakai daster tapi tetap merasa cantik?
Pilihan ada di tangan kalian, dan tentu saja, ada di saldo rekening masing-masing. Tetaplah bergaya, tapi jangan sampai gaya yang malah membebani hidup kita. Karena pada dasarnya, baju itu buat dipakai, bukan buat jadi beban pikiran sebelum tidur.
Next News

Komunitas Hobi = Terapi Jiwa
in 5 hours

Nulis Itu Self-Healing Murah
in 5 hours

DIY or Die
in 5 hours

Seni Menangkap Momen
in 5 hours

Nongkrong Positif: Kopi, Obrolan, dan Energi Baru
in 5 hours

Self-Healing Versi Netflix: Film Nostalgia
in 4 hours

Ketika Hobi Tak Perlu Masuk Akal
in 4 hours

Sepiring Nasi, Sepotong Jiwa
in 4 hours

Healing atau Kabur Sesaat?
in 4 hours

Musik Favorit dan Kita
in 3 hours





