Sabtu, 14 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Nongkrong Positif: Kopi, Obrolan, dan Energi Baru

Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 10:00 AM

Background
Nongkrong Positif: Kopi, Obrolan, dan Energi Baru
Nongkrong Positif: Kopi, Obrolan, dan Energi Baru ( Istimewa/)

Seni Nongkrong Positif: Bukan Sekadar Ngopi dan Isap Jempol

Kalau kita bicara soal budaya orang Indonesia, rasanya nggak afdol kalau nggak memasukkan kata "nongkrong" ke dalam kamus besar kehidupan sehari-hari. Dari mulai bapak-bapak di pos ronda yang sibuk bahas teori konspirasi harga cabai, sampai anak muda yang rela berjam-jam duduk di coffee shop hanya demi satu gelas latte dan koneksi Wi-Fi kencang. Nongkrong itu sudah jadi DNA kita. Tapi, mari kita jujur sebentar, seringkali kata nongkrong ini punya konotasi yang agak miring di telinga orang tua atau mereka yang gila produktivitas. Katanya sih, cuma buang-buang waktu, buang duit, dan cuma dapet asap rokok doang.

Tapi, bener nggak sih nongkrong itu selalu ampas? Di sinilah muncul sebuah gerakan organik yang sering kita sebut sebagai "Nongkrong Positif". Sebuah fenomena di mana meja kafe atau bangku trotoar berubah jadi ruang inkubasi ide, tempat healing yang beneran, sampai ladang networking yang kadang lebih ampuh daripada kirim-kirim email formal di LinkedIn.

Definisi Baru di Balik Cangkir Kopi

Nongkrong positif itu sebenarnya sederhana: lo keluar rumah, ketemu orang, tapi pas balik, lo nggak merasa "kosong". Pernah nggak sih lo nongkrong lima jam, tapi pas pulang yang lo ingat cuma gibahin hidup orang yang lo sendiri nggak kenal-kenal amat? Nah, itu yang kita coba geser. Nongkrong yang "daging" banget itu biasanya terjadi saat frekuensi obrolannya udah mulai masuk ke ranah yang lebih dalam—atau istilah keren anak sekarang, deep talk.

Ciri utamanya bukan soal tempatnya harus mahal atau kopinya harus biji pilihan dari lereng gunung tertentu. Lo mau nongkrong di angkringan sambil makan nasi kucing juga bisa jadi positif kalau isinya adalah brainstorming soal project sampingan atau sekadar saling dengerin keluh kesah kerjaan yang bikin stres. Intinya, ada value yang dibawa pulang, baik itu ilmu baru, perspektif baru, atau minimal hati yang lebih plong.

Memilih Sirkel, Menjaga Waras

Ada pepatah lama yang bilang kalau lo adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering lo ajak jalan. Kalau tongkrongan lo isinya cuma orang-orang yang hobi mengeluh tanpa solusi, ya jangan kaget kalau mentalitas lo ikutan jadi "kaum mendang-mending" yang nggak maju-maju. Nongkrong positif dimulai dari seleksi alam terhadap sirkel pertemanan.

Bukan berarti kita jadi sombong atau pilih-pilih teman berdasarkan kasta ya. Tapi lebih ke menjaga energi. Bayangin lo punya sirkel yang kalau ketemu, obrolannya seru bahas tren teknologi, investasi tipis-tipis, atau bahkan sesederhana bahas buku yang baru dibaca. Rasanya kayak baterai mental lo di-recharge secara otomatis. Di sinilah letak magisnya: nongkrong yang tadinya dianggap kegiatan pasif, berubah jadi aktivitas proaktif untuk pengembangan diri.

Komunitas: Dari Hobi Jadi Rezeki

Nongkrong positif juga seringkali lahir dari komunitas. Sekarang banyak banget kelompok kecil yang hobi lari pagi, gowes bareng, atau komunitas fotografi yang kalau ngumpul nggak cuma pamer gear, tapi bagi-bagi teknik editing. Di sini, batas antara main dan belajar itu tipis banget. Lo dapet senangnya, tapi lo juga dapet skill-nya.

Banyak lho startup besar atau kolaborasi kreatif yang lahir dari obrolan nggak sengaja di meja tongkrongan. Kenapa? Karena saat nongkrong, otak kita biasanya dalam kondisi rileks (alpha state). Dalam kondisi ini, ide-ide gila yang biasanya mampet di kantor malah mengalir deras. Jadi, kalau ada yang bilang nongkrong itu nggak produktif, mungkin mereka cuma kurang jauh mainnya atau salah pilih meja.

Adab dan Batasan: Jangan Sampai Bablas

Namanya juga nongkrong, pasti ada bumbu-bumbu bercandanya. Tapi, nongkrong positif tetap punya batasan. Salah satu yang paling penting adalah tahu kapan harus berhenti main HP. Sering kan kita lihat di kafe, ada lima orang duduk satu meja, tapi semuanya nunduk natap layar masing-masing? Itu namanya bukan nongkrong, itu namanya pindah tempat main Instagram doang. Nongkrong positif itu menghargai kehadiran orang di depan kita.

Selain itu, urusan durasi juga penting. Jangan sampai dalih "nongkrong positif" malah bikin tugas kuliah keteteran atau kerjaan kantor jadi telat dikirim. Segala sesuatu yang berlebihan itu tetap nggak bagus. Kita nongkrong buat nyari inspirasi untuk hidup yang lebih baik, bukan malah menjadikan tongkrongan sebagai pelarian dari tanggung jawab hidup.

Kesimpulan: Jadilah Kurator Sosial yang Cerdas

Pada akhirnya, nongkrong adalah kebutuhan sosial. Kita ini makhluk yang kalau nggak ketemu orang bentar aja rasanya kayak HP lowbat yang butuh stopkontak. Tapi, jadilah kurator yang cerdas untuk waktu lo sendiri. Pilih tongkrongan yang bikin lo merasa tertantang, bikin lo ketawa lepas tanpa harus menjatuhkan orang lain, dan pastinya bikin lo tumbuh jadi versi yang lebih baik.

Nongkrong positif bukan berarti harus serius terus kayak lagi rapat paripurna. Tetap boleh bercanda, tetap boleh receh, tapi pastikan ada "isi" di balik setiap tawa itu. Karena waktu adalah satu-satunya hal yang nggak bisa kita beli lagi, jadi sayang banget kalau cuma habis buat hal-hal yang nggak bermakna. Yuk, mulai hari ini, ubah agenda ngopi lo jadi sesi yang lebih bermutu. Siapa tahu, dari satu gelas kopi susu gula aren itu, lahir ide besar yang bakal mengubah hidup lo kedepannya.