Seni Menangkap Momen
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 10:00 AM


Seni Menangkap Momen: Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Fotografer
Zaman sekarang, siapa sih yang nggak punya kamera? Mau itu kamera profesional segede gaban yang lensanya bisa buat ngintip tetangga di komplek sebelah, sampai kamera HP yang katanya punya megapixel setinggi langit. Kita hidup di era di mana setiap langkah, setiap suap nasi goreng, sampai momen galau di pinggir jendela pas hujan, semuanya harus diabadikan. Fotografi bukan lagi barang mewah milik segelintir orang yang kuliah di jurusan seni atau mereka yang punya banyak duit buat beli rol film. Hari ini, asal jempol lo lincah mencet layar, lo udah bisa nge-klaim diri sebagai fotografer.
Tapi, pertanyaannya, apakah sekadar "jepret" itu bisa dibilang fotografi? Kalau kita tanya ke bapak-bapak yang hobi hunting foto model di Kota Tua, jawabannya mungkin bakal panjang lebar soal ISO, shutter speed, dan komposisi rule of thirds. Tapi kalau kita tanya ke anak senja yang hobi posting foto blur dengan caption puitis di Instagram, jawabannya pasti soal "vibe" dan "feel". Di sinilah serunya dunia fotografi masa kini. Batas antara profesional dan amatir makin tipis, setipis kesabaran kita nunggu download-an kelar.
Gear Is Dead, Long Live the Moment
Dulu, ada semacam kasta dalam dunia fotografi. Pemegang kamera full frame duduk di kasta tertinggi, sementara pengguna kamera pocket atau HP sering dipandang sebelah mata, kayak lagi ngelihat remah-remah rempeyek di lantai. Ada anggapan kalau alat lo mahal, hasil foto lo otomatis bagus. Padahal mah, nggak selalu begitu. Gue pernah nemu orang pake kamera harga 50 juta tapi fotonya miring-miring nggak jelas, sementara ada anak SMA pake HP kentang tapi bisa nangkep momen human interest yang bikin hati nyut-nyutan.
Sekarang, istilah "The best camera is the one you have with you" itu makin valid. Teknologi komputasi di smartphone udah gila banget. Lo tinggal jepret, AI bakal kerja keras buat bikin langitnya biru mentereng atau muka lo jadi semulus porselen tanpa pori-pori. Memang sih, secara teknis, sensor kamera besar nggak bakal bisa dikalahin sama sensor HP yang seuprit. Tapi buat konsumsi media sosial, siapa juga yang mau nge-zoom foto lo sampai 400 persen cuma buat nyari noise? Yang penting estetik, titik.
Kultus Estetik dan Pencarian Golden Hour
Ngomongin fotografi nggak lengkap kalau nggak bahas soal "estetik". Kata ini udah kayak mantra wajib. Demi konten yang estetik, orang rela bangun jam 4 pagi buat ngejar golden hour—momen di mana cahaya matahari lagi hangat-hangatnya kayak pelukan mantan. Ada semacam kepuasan batin saat melihat cahaya kuning keemasan itu jatuh di sela-sela gedung atau pohon, bikin semuanya kelihatan jauh lebih dramatis dari aslinya.
Lucunya, demi konten estetik ini, kadang kita jadi lupa menikmati momennya sendiri. Kita terlalu sibuk nyari angle yang pas, ngatur pose biar kelihatan candid (padahal settingan), sampai-sampai lupa kalau pemandangan di depan mata itu harusnya dinikmati pake mata kepala sendiri, bukan lewat layar 6 inci. Kita jadi "kurator" buat hidup kita sendiri, memilih mana yang layak dipajang di galeri dan mana yang harus dikubur dalam folder "Deleted Items".
Ironi Analog: Membeli Kesulitan dengan Harga Mahal
Nah, di tengah gempuran teknologi digital yang serba instan, eh tiba-tiba tren kamera analog naik lagi. Ini aneh sekaligus menarik. Bayangin, kita udah punya teknologi yang bisa ambil ribuan foto dalam semenit, tapi banyak anak muda malah milih pake kamera jadul yang isinya cuma 36 frame. Udah gitu, harga rol film sekarang makin nggak ngotak. Sekali jepret rasanya kayak ngebakar duit lima ribu rupiah.
Tapi di situlah seninya. Analog nawarin sesuatu yang nggak dipunya digital: ketidakpastian. Lo nggak tahu hasil fotonya kayak gimana sampai filmnya dicuci. Ada sensasi deg-degan pas nunggu hasilnya dikirim lewat Google Drive dari lab film. Apakah fotonya under-exposed? Apakah terbakar? Atau jangan-jangan tutup lensanya lupa dibuka? Kesalahan-kesalahan kecil itu yang bikin setiap foto terasa lebih personal dan "nyawa". Ini semacam bentuk protes halus terhadap kesempurnaan digital yang kadang terasa hambar dan terlalu bersih.
Fotografi Bukan Cuma Soal Alat, Tapi Soal Empati
Pada akhirnya, fotografi itu alat komunikasi. Mau lo pake Leica yang harganya seharga DP rumah, atau pake HP merek Cina, intinya adalah apa yang pengen lo sampein lewat gambar itu. Fotografi yang bagus itu bukan yang paling tajam atau yang warnanya paling gonjreng, tapi yang bisa bikin orang berhenti scrolling sejenak dan ngerasain sesuatu. Bisa itu rasa haru, penasaran, atau sekadar pengen liburan.
Jangan terlalu pusing sama teknis sampai lo takut buat mulai. Dunia ini terlalu luas kalau cuma dilihat dari satu sudut pandang. Fotografi ngajarin kita buat lebih peka sama sekitar. Ngajarin kita buat ngelihat keindahan di tempat-tempat yang nggak terduga, kayak genangan air di jalanan becek atau kerutan di wajah pedagang pasar. Jadi, mumpung cahaya lagi bagus, mending keluar rumah deh. Bawa kamera lo, jepret apa aja yang menurut lo menarik. Masalah bagus atau nggak, itu urusan belakangan. Yang penting, lo udah berhasil mengabadikan satu detik dalam hidup lo yang nggak bakal pernah terulang lagi. Selamat motret!
Next News

Main Tanah, Biar Waras
in 6 hours

Komunitas Hobi = Terapi Jiwa
in 4 hours

Nulis Itu Self-Healing Murah
in 4 hours

DIY or Die
in 4 hours

Nongkrong Positif: Kopi, Obrolan, dan Energi Baru
in 4 hours

Self-Healing Versi Netflix: Film Nostalgia
in 3 hours

Ketika Hobi Tak Perlu Masuk Akal
in 3 hours

Sepiring Nasi, Sepotong Jiwa
in 3 hours

Healing atau Kabur Sesaat?
in 3 hours

Dari Y2K Sampai Skena: Kita Sebenarnya Mau Jadi Apa?
in 3 hours





