DIY or Die
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 10:00 AM


Seni Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Barang Mahal: Kenapa DIY Itu Seru dan Kadang Bikin Emosi
Pernah nggak sih kalian lagi asyik scrolling Pinterest atau Instagram, terus tiba-tiba muncul foto kamar estetik dengan lampu meja yang bentuknya unik banget? Pas dicek harganya di marketplace, eh buset, harganya setara jatah makan warteg dua minggu. Di momen itulah, otak kreatif kita yang biasanya tertidur lelap tiba-tiba bangun dan berbisik pelan, "Kayaknya gue bisa bikin sendiri deh, modal kardus sama cat semprot doang."
Selamat datang di dunia DIY alias Do It Yourself. Sebuah dunia di mana batasan antara hemat dan pelit itu tipis banget, tapi kepuasannya nggak main-main. Di Indonesia, DIY bukan cuma sekadar hobi buat ngisi waktu luang pas gabut di hari Minggu. Bagi sebagian besar dari kita, terutama kaum mendang-mending, DIY adalah sebuah gerakan perlawanan terhadap harga barang-barang lifestyle yang makin nggak masuk akal.
Filosofi "Bikin Sendiri" di Tengah Gempuran FOMO
Mari kita jujur-jujuran. Zaman sekarang, tekanan untuk punya barang estetik itu nyata banget. Mau itu meja kerja yang minimalis ala-ala startup di Silicon Valley, sampai dekorasi dinding yang artsy biar konten TikTok makin oke. Tapi masalahnya, dompet sering kali nggak sejalan dengan selera. Di sinilah DIY masuk sebagai penyelamat. DIY itu ibarat oase di tengah padang pasir konsumerisme.
Ada sensasi magis pas kita berhasil mengubah botol sirup bekas jadi vas bunga ala Skandinavia. Atau ketika kaus oblong yang sudah bolong dikit berubah jadi tote bag keren lewat teknik tie-dye yang sebenarnya agak gagal tapi kita klaim sebagai "abstract art". Ada rasa bangga yang meledak-ledak pas ada teman main ke kosan terus nanya, "Beli di mana nih? Bagus banget!" Dan dengan gaya sok cool kita jawab, "Ah, ini mah bikin sendiri dong." Padahal mah, pas bikin itu jari sempat kena lem Korea sampai kulitnya ngelupas.
Siklus DIY: Dari Ambisi Sampai Realita yang Kadang Pahit
Tapi jangan salah, DIY nggak selamanya indah seperti di video tutorial YouTube yang durasinya cuma lima menit. Proses kreatif itu sering kali penuh drama. Biasanya dimulai dengan fase "Ambisi Tinggi". Kita nonton tutorial, beli bahan-bahan di toko alat tulis, dan merasa sangat produktif. Kita ngerasa kayak bakal jadi seniman besar dalam semalam.
Masuk ke fase kedua: "Eksekusi Berantakan". Ternyata, motong kayu pakai gergaji dapur itu nggak semudah yang dibayangkan. Cat yang katanya "cepat kering" ternyata malah nempel di lantai kontrakan dan nggak bisa hilang. Di fase ini, biasanya keluar kata-kata mutiara dan niat untuk menyerah. Kita mulai sadar kenapa barang-barang di toko itu mahal: karena ada ongkos sabar dan keahlian yang nggak kita punya.
Fase terakhir adalah "Penerimaan". Hasil akhirnya mungkin nggak 100 persen mirip sama yang di Pinterest. Mungkin agak miring dikit, warnanya agak belang, atau ada bekas lem yang mengeras. Tapi ya sudahlah, yang penting fungsional dan punya cerita. Di mata kita, barang cacat itu justru punya karakter. Itulah inti dari DIY; merayakan ketidaksempurnaan dengan penuh percaya diri.
Upcycling: Menyelamatkan Bumi (dan Dompet)
Salah satu cabang DIY yang paling seru adalah upcycling. Ini levelnya setingkat di atas sekadar bikin prakarya. Upcycling itu seni memberikan nyawa kedua buat barang yang seharusnya sudah masuk tempat sampah. Bayangkan, celana jeans yang sudah kekecilan karena kebanyakan makan seblak bisa disulap jadi pouch atau cover buku catatan. Selain bikin kita terlihat kreatif, kita juga secara nggak langsung jadi pahlawan lingkungan karena ngurangin sampah.
Di tangan orang kreatif, nggak ada yang namanya sampah. Kardus bekas paket belanja online yang numpuk di pojokan kamar bisa jadi organizer meja yang rapi. Kaleng susu bekas bisa jadi tempat pensil yang kece kalau dibalut tali rami. Ini bukan cuma soal hemat, tapi soal cara kita melihat potensi di balik sesuatu yang dianggap sudah nggak berguna. Ini mentalitas yang mahal banget di zaman serba instan kayak sekarang.
Jebakan Betmen: DIY yang Malah Bikin Boncos
Tapi, saya harus kasih peringatan kecil buat kalian yang baru mau terjun ke dunia DIY. Ada fenomena unik yang sering terjadi: niatnya mau hemat dengan bikin sendiri, eh ujung-ujungnya malah lebih mahal daripada beli jadi. Ini sering disebut "Jebakan Betmen DIY".
Misalnya, kamu mau bikin rak buku sederhana. Kalau beli di toko harganya 200 ribu. Karena kamu merasa cerdas, kamu memutuskan bikin sendiri. Kamu beli kayu, beli gergaji mesin (karena gergaji manual capek), beli bor, beli baut berbagai ukuran, cat pelapis, kuas, sampai amplas. Pas dihitung-hitung, total belanjanya malah habis 500 ribu. Belum lagi waktu yang terbuang dan tenaga yang terkuras. Kalau sudah begini, ya cuma bisa senyum getir sambil memandangi rak buku yang harganya jadi setara rak emas itu.
Makanya, sebelum mulai proyek DIY, mending riset dulu. Kalau alat-alatnya terlalu banyak yang harus dibeli baru, mending cari cara lain atau ya... menabung saja buat beli jadi. DIY itu harusnya solutif, bukan malah bikin dompet makin kritis.
Kesimpulan: DIY Sebagai Terapi Jiwa
Di luar urusan estetik dan hemat, DIY itu sebenarnya adalah bentuk self-healing yang paling murah. Di tengah rutinitas kerja yang bikin otak panas atau kuliah yang tugasnya nggak abis-abis, menyibukkan tangan dengan gunting, lem, dan cat itu rasanya menenangkan. Ada rasa puas yang jujur pas kita melihat sesuatu tercipta dari tangan kita sendiri.
Kita belajar buat fokus, belajar buat sabar, dan yang paling penting, belajar buat menghargai proses. Jadi, jangan takut buat mencoba. Kalau gagal ya tinggal dibuang atau diperbaiki. Kalau berhasil, ya lumayan bisa dipamerin di story Instagram pakai lagu indie biar makin syahdu.
Jadi, gimana? Sudah siap buat bongkar-bongkar gudang dan cari barang yang bisa "disulap" hari ini? Ingat, kreatifitas itu nggak butuh ijazah atau modal miliaran. Cukup butuh kemauan, sedikit nekat, dan sedia plester luka kalau-kalau tangan kena cutter. Selamat berkarya, sobat kreatif!
Next News

Main Tanah, Biar Waras
in 6 hours

Komunitas Hobi = Terapi Jiwa
in 4 hours

Nulis Itu Self-Healing Murah
in 4 hours

Seni Menangkap Momen
in 4 hours

Nongkrong Positif: Kopi, Obrolan, dan Energi Baru
in 4 hours

Self-Healing Versi Netflix: Film Nostalgia
in 3 hours

Ketika Hobi Tak Perlu Masuk Akal
in 3 hours

Sepiring Nasi, Sepotong Jiwa
in 3 hours

Healing atau Kabur Sesaat?
in 3 hours

Dari Y2K Sampai Skena: Kita Sebenarnya Mau Jadi Apa?
in 3 hours





