Self-Healing Versi Netflix: Film Nostalgia
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 09:00 AM


Alasan Kenapa Kita Hobi Banget Nonton Film Lawas: Sebuah Pelarian dari Ruwetnya Hidup
Pernah nggak sih kalian merasa lelah banget setelah seharian kerja atau kuliah, terus pas buka Netflix atau Disney+ bukannya milih film baru yang lagi trending, tangan kalian malah otomatis ngeklik "Petualangan Sherina", "Ada Apa Dengan Cinta?", atau mungkin "Home Alone" buat yang kesekian kalinya? Padahal kalian sudah hafal luar kepala kapan Rangga bakal baca puisi atau kapan Kevin McCallister bakal masang jebakan buat pencuri apes itu. Fenomena ini bukan karena kalian kurang update, tapi karena ada sesuatu yang magis bernama nostalgia.
Nostalgia dalam film itu ibarat nasi goreng langganan di depan komplek. Rasanya ya gitu-gitu aja, nggak ada kejutan yang bikin kaget, tapi selalu berhasil bikin perut tenang dan hati senang. Di tengah gempuran film-film Marvel yang makin ke sini makin bikin pusing dengan konsep multiversenya, atau film-film arthouse yang metaforanya sedalam Palung Mariana, menonton film lama adalah bentuk self-healing paling murah yang bisa kita dapatkan tanpa harus bayar tiket pesawat ke Bali.
Kenapa sih film lama itu rasanya beda banget? Kalau kita bedah pakai kacamata ala anak tongkrongan, jawabannya simpel: film-film itu nggak punya beban buat jadi "penting". Film era 90-an atau awal 2000-an seringkali punya premis yang sederhana tapi dieksekusi dengan hati. Nggak ada tekanan buat bikin sekuel, prekuel, atau cinematic universe yang ribet. Mereka cuma pengen bercerita. Dan jujurly, kita kangen sama kesederhanaan itu.
Zona Nyaman dalam Format Audio Visual
Secara psikologis, menonton film lama itu kayak pake selimut hangat pas lagi hujan. Ada istilah yang namanya "comfort movie". Kita memilih nonton film yang sudah kita tahu endingnya karena otak kita sedang butuh istirahat dari ketidakpastian dunia nyata. Di dunia luar, kita nggak tahu besok harga bensin naik atau nggak, atau kapan bos bakal tiba-tiba ngasih revisi jam 9 malem. Tapi di dalam film "Laskar Pelangi", kita tahu pasti kalau Ikal bakal ketemu cintanya di toko kelontong. Kepastian itulah yang dicari oleh mental kita yang sudah mulai burned out ini.
Selain itu, film nostalgia biasanya terikat erat dengan memori personal. Nonton "Ada Apa Dengan Cinta?" mungkin bakal ngingetin kalian sama zaman-zaman sekolah pas kalian masih pakai seragam putih-abu yang kegedean, zaman di mana galau maksimal cuma gara-gara gebetan nggak bales SMS. Nonton film lama itu kayak mesin waktu gratisan. Bau popcorn bioskop zaman dulu, suara berisik proyektor, atau bahkan momen rebutan remote sama kakak di hari Minggu pagi tiba-tiba muncul lagi di kepala.
Belum lagi soal soundtrack-nya. Film-film legendaris Indonesia itu punya kekuatan musik yang nggak main-main. Coba dengerin intro lagu "Jagoan" atau denting piano lagu "Denting"-nya Melly Goeslaw. Tanpa sadar, jempol kita bakal ikut ketuk-ketuk meja dan mulut mulai komat-kamit nyanyi. Itu adalah bukti kalau film nostalgia itu paket lengkap yang menyerang semua panca indera kita dengan rasa kangen yang manis.
Vibe yang Nggak Bisa Direplikasi Teknologi Canggih
Sekarang coba kita bandingkan sama film zaman sekarang yang CGI-nya sudah sehalus kulit artis Korea. Memang sih, secara visual cakep banget, kinclong, dan megah. Tapi entah kenapa, seringkali film-film modern terasa "dingin". Ada sesuatu yang hilang, yang sering kita sebut sebagai "jiwa" atau "soul". Film zaman dulu, dengan segala keterbatasan teknologinya—makeup yang kadang masih kelihatan garisnya atau efek ledakan yang kelihatan pakai petasan—malah kerasa lebih manusiawi.
Ada estetika tersendiri dari butiran film (film grain) yang nggak bisa digantikan oleh kejernihan resolusi 4K. Vibe-nya itu kayak lebih membumi. Mungkin itu juga alasan kenapa belakangan ini banyak sineas muda yang sengaja bikin film dengan gaya retro atau pake kamera analog. Mereka berusaha menangkap kembali keajaiban yang dulu pernah ada. Tapi ya gitu, original tetep menang di hati, karena nostalgia itu bukan cuma soal gambar, tapi soal rasa yang terpatri di momen tertentu dalam hidup kita.
Opini saya pribadi sih, tren remake atau reboot yang lagi marak sekarang sebenarnya adalah bukti kalau industri film lagi krisis identitas. Mereka tahu kalau penonton lagi haus akan nostalgia, makanya mereka jualan memori lama dengan kemasan baru. Masalahnya, seringkali remake itu malah merusak imajinasi masa kecil kita. Kadang lebih baik membiarkan yang klasik tetap menjadi klasik di rak buku atau di memori otak kita, daripada dipaksakan jadi modern tapi malah kehilangan esensinya.
Nostalgia: Jembatan Antar Generasi
Menariknya lagi, film nostalgia ini bisa jadi bahan obrolan paling asik lintas generasi. Kalian bisa duduk bareng orang tua sambil nonton film Warkop DKI dan ketawa bareng di part yang sama. Meskipun bercandaannya mungkin dianggap "receh" sama Gen Z, tapi ada universalitas komedi yang nggak lekang dimakan zaman. Dono, Kasino, dan Indro adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang berhasil menyatukan tawa kakek sampai cucunya dalam satu sofa.
Pada akhirnya, hobi kita buat "nengok ke belakang" lewat film itu sah-sah saja. Selama itu nggak bikin kita jadi orang yang anti-kemajuan atau terus-terusan mengeluh "ah, bagusan zaman dulu". Dunia memang terus berubah, teknologi makin gila, dan cara kita menikmati konten makin instan. Tapi, punya satu atau dua film lama yang selalu bisa bikin kita tersenyum adalah sebuah kemewahan kecil yang patut disyukuri.
Jadi, kalau nanti malam kalian bingung mau nonton apa, jangan merasa bersalah kalau akhirnya kalian malah nonton film yang sama buat yang kesebelas kalinya. Hidup sudah cukup ribet, nggak perlu ditambah beban harus selalu nonton sesuatu yang baru tiap hari. Kadang, kita cuma butuh pelukan dari masa lalu lewat layar kaca untuk bisa semangat lagi menghadapi kenyataan besok pagi. Selamat bernostalgia, jangan lupa siapin cemilan, dan biarkan film itu membawa kalian pulang sejenak.
Next News

Main Tanah, Biar Waras
in 6 hours

Komunitas Hobi = Terapi Jiwa
in 4 hours

Nulis Itu Self-Healing Murah
in 4 hours

DIY or Die
in 4 hours

Seni Menangkap Momen
in 4 hours

Nongkrong Positif: Kopi, Obrolan, dan Energi Baru
in 4 hours

Ketika Hobi Tak Perlu Masuk Akal
in 3 hours

Sepiring Nasi, Sepotong Jiwa
in 3 hours

Healing atau Kabur Sesaat?
in 3 hours

Dari Y2K Sampai Skena: Kita Sebenarnya Mau Jadi Apa?
in 3 hours





