Main Tanah, Biar Waras
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 12:00 PM


Seni Menjadi 'Plant Parent': Antara Healing dan Tantangan Menghidupi Makhluk Hijau
Pernah nggak sih, di tengah gempuran deadline yang bikin kepala mau meledak atau scroll TikTok sampai jempol kapalan, tiba-tiba terlintas pikiran pengen punya pelarian yang nggak melibatkan layar? Jawabannya biasanya jatuh ke dua hal: kalau nggak mendaki gunung, ya berkebun. Nah, pilihan kedua ini belakangan jadi primadona. Bukan cuma buat para pensiunan yang bingung mau ngapain di hari tua, tapi juga buat anak muda penghuni apartemen sempit atau kos-kosan yang pengen ngerasain gimana rasanya punya tanggung jawab selain ngisi saldo e-wallet.
Dulu, berkebun itu identik sama kakek-kakek pakai topi caping dan bau pupuk kandang yang menyengat. Sekarang? Wah, beda cerita. Berkebun sudah naik kelas jadi gaya hidup yang sangat estetik. Istilahnya pun keren: 'Plant Parent'. Padahal, intinya ya sama saja, berkutat sama tanah, air, dan harapan semoga itu tanaman nggak mati besok pagi. Fenomena ini sebenarnya menarik kalau kita bedah pelan-pelan. Di balik foto-foto tanaman Monstera yang terlihat gagah di pojok ruangan, ada perjuangan batin dan dompet yang sering kali berdarah-darah.
Mari kita bicara jujur. Kebanyakan dari kita memulai hobi ini karena lapar mata. Melihat influencer punya sudut rumah yang hijau royo-royo, rasanya adem banget. Akhirnya, kita memutuskan untuk beli satu pot 'Janda Bolong' atau sukulen yang ukurannya cuma segede jempol. Ekspektasinya sih, tanaman ini bakal jadi teman curhat yang diam dan menenangkan. Realitanya? Minggu pertama masih rajin disiram. Minggu kedua mulai lupa. Minggu ketiga, daunnya mulai kuning, dan kita mulai panik nyari tutorial di YouTube kayak lagi nyari cara nge-hack akun mantan.
Ada sebuah kepuasan yang sulit dijelaskan saat tangan kita bersentuhan langsung dengan media tanam. Istilah kerennya 'grounding'. Di saat dunia digital memaksa kita buat serba cepat, tanaman justru ngajarin kita buat pelan-pelan. Lo nggak bisa maksa cabai yang lo tanam buat berbuah besok pagi cuma karena lo lagi pengen bikin sambal. Dia punya ritmenya sendiri. Dan di sinilah sisi healing-nya. Berkebun itu kayak latihan sabar yang paling jujur. Kalau lo cuekin, dia layu. Kalau lo siram kebanyakan karena terlalu 'sayang', akarnya busuk. Persis kayak hubungan asmara yang toxic, kan? Kebanyakan perhatian malah bikin sesak.
Lucunya, banyak orang yang terjebak dalam obsesi estetika. Mereka beli tanaman mahal cuma buat properti foto, tapi lupa kalau itu makhluk hidup. Saya pernah punya teman yang beli tanaman hias seharga cicilan motor, eh, dua minggu kemudian tinggal batangnya doang karena ditaruh di ruangan yang nggak ada sirkulasi udaranya sama sekali. Padahal, berkebun itu nggak melulu soal tanaman mahal yang namanya susah dieja. Menanam daun bawang sisa masak di dapur pun sudah termasuk berkebun, lho. Rasanya luar biasa banget pas kita butuh garnish buat mie instan, tinggal petik di pinggir jendela. Ada rasa bangga yang 'ndeso' tapi bikin hati hangat.
Kalau kamu baru mau mulai, saran saya sih nggak usah muluk-muluk. Jangan langsung beli Aglaonema yang harganya bikin meriang kalau belum tahu bedanya air tanah sama air AC. Mulailah dari yang gampang-gampang saja. Lidah mertua (Sansevieria) atau Sirih Gading itu juaranya buat pemula. Mereka itu tipe tanaman yang 'tahan banting' dan nggak gampang ngambek kalau telat disiram sehari-dua hari. Ibaratnya, mereka itu teman yang low-maintenance, nggak banyak nuntut tapi selalu ada.
Kenapa Kita Butuh Tanah di Jari Kita?
Di era yang serba beton ini, manusia itu sebenarnya rindu sama alam. Kita ini makhluk organik yang dipaksa hidup di kotak-kotak semen. Makanya, punya beberapa pot tanaman di balkon atau meja kerja itu semacam oase. Secara ilmiah pun, ada bakteri di dalam tanah yang namanya Mycobacterium vaccae yang kabarnya bisa memicu pelepasan serotonin di otak kita. Serotonin itu hormon yang bikin kita merasa bahagia dan tenang. Jadi, nggak heran kalau habis ganti pot atau kotor-kotoran sama tanah, perasaan jadi lebih plong.
Tapi ya gitu, berkebun juga punya sisi gelap yang sering nggak diomongin: hama. Ini adalah ujian iman yang sesungguhnya. Pas lagi sayang-sayangnya, tiba-tiba muncul kutu putih atau ulat yang dengan teganya sarapan pakai daun tanaman kesayangan kita. Di titik ini, insting pelindung kita keluar. Kita bakal rela hunting pestisida organik sampai nyampur bawang putih sama sabun cuci piring cuma buat ngusir tuh hama. Ini adalah perang yang nyata, kawan. Dan pas kita menang, rasanya kayak habis menang mabar Mobile Legends di tier Mythic.
Bagi anak muda sekarang, berkebun juga jadi ajang buat lebih peduli sama isu lingkungan. Minimal, kita jadi sadar kalau makanan itu nggak muncul tiba-tiba di aplikasi ojek online. Ada proses panjang dari benih sampai bisa dikonsumsi. Dengan berkebun, kita belajar menghargai makanan dan mungkin mulai kepikiran buat mengolah sampah dapur jadi kompos. Akhirnya, hobi yang tadinya cuma buat gaya-gayaan, berubah jadi kontribusi kecil buat bumi.
Sebagai penutup, berkebun itu bukan soal punya jari yang 'dingin' atau bakat lahiriah. Berkebun itu soal kemauan buat belajar dan berani gagal. Kalau tanamanmu mati, ya sudah, jangan baper. Jadikan itu pupuk buat pengetahuanmu selanjutnya. Bumi itu luas, dan selalu ada ruang buat satu pot lagi di sudut kamarmu. Jadi, kapan mau mulai main tanah lagi? Percaya deh, ngeliat satu pucuk daun baru yang tumbuh itu rasanya lebih memuaskan daripada dapet seribu like di Instagram.
Lagipula, di dunia yang penuh kepalsuan ini, setidaknya tanaman nggak bakal nge-ghosting kamu. Dia paling cuma mati pelan-pelan kalau kamu benar-benar keterlaluan cueknya. Jadi, yuk, mulai tanam sesuatu. Biar hidup nggak cuma soal angka dan layar, tapi juga soal hijaunya daun dan basahnya tanah setelah disiram sore-sore sambil dengerin lagu indie favoritmu.
Next News

Masak Sendiri
in 5 hours

Menata Kamar
in 5 hours

Ngobrol di Telinga
in 5 hours

Sehat Tanpa Drama
in 5 hours

Hidup Jadi Konten
in 5 hours

Mood = Musik
in 4 hours

Males Scroll, Mending Baca
in 4 hours

Komunitas Hobi = Terapi Jiwa
in 2 hours

Nulis Itu Self-Healing Murah
in 2 hours

DIY or Die
in 2 hours





