Sabtu, 14 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Hidup Jadi Konten

Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 01:00 PM

Background
Hidup Jadi Konten
Hidup Jadi Konten ( Istimewa/)

Menjadi Sutradara Atas Hidup Sendiri: Seni, Drama, dan Realita di Balik Lensa Vlog

Dulu, kalau ada anak kecil ditanya apa cita-citanya saat sudah besar nanti, jawabannya paling banter tidak jauh-jauh dari dokter, polisi, pilot, atau mungkin presiden. Tapi coba tanya anak-anak zaman sekarang yang sedang asyik menggenggam ponsel pintar milik orang tuanya. Jangan kaget kalau mereka dengan lantang menjawab: Jadi YouTuber atau Vlogger! Fenomena ini bukan cuma soal gaya-gayaan, tapi sudah jadi pergeseran budaya yang cukup masif di tengah masyarakat kita.

Vlogging, atau video blogging, sudah berevolusi dari sekadar hobi rekam-rekam kegiatan tidak jelas menjadi industri kreatif yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah. Kita seolah hidup di zaman di mana setiap orang adalah sutradara, produser, sekaligus aktor utama bagi hidupnya sendiri. Namun, di balik layar yang terlihat estetik dan penuh tawa itu, ada dunia yang jauh lebih kompleks dari sekadar menekan tombol record di kamera.

Bukan Sekadar Rekam Lalu Upload

Banyak orang mengira menjadi vlogger itu enak. Tinggal jalan-jalan, makan enak, curhat sedikit di depan kamera, lalu tiba-tiba uang AdSense mengalir deras ke rekening. Kenyataannya? Tidak semudah itu, Ferguso. Menghasilkan konten yang enak ditonton itu butuh keringat yang tidak sedikit. Ada proses kurasi yang melelahkan. Bayangkan, dari rekaman mentah selama tiga jam, seorang vlogger harus memangkasnya menjadi video ringkas berdurasi sepuluh menit yang tidak membuat penonton bosan di tengah jalan.

Belum lagi soal urusan teknis. Bagi mereka yang baru mulai, urusan editing bisa jadi mimpi buruk. Mata merah karena begadang di depan laptop, mencari musik latar yang bebas hak cipta agar video tidak diblokir, sampai memikirkan judul dan thumbnail yang "clickbait" tapi tidak menipu. Ini adalah seni bercerita di era digital. Tanpa narasi yang kuat, vlog secanggih apa pun bakal terasa hambar seperti sayur tanpa garam.

Terjebak dalam Obsesi Perlengkapan

Satu hal yang sering menjebak para pemula adalah rasa rendah diri soal alat atau "gear". Ada anggapan bahwa untuk jadi vlogger sukses, kita harus punya kamera mirrorless terbaru seharga motor matik, mikrofon yang bisa menangkap suara semut berjalan, sampai drone untuk mengambil gambar dari langit. Padahal, kalau kita lihat ke belakang, para vlogger sukses dunia pun mulanya hanya bermodalkan kamera ponsel yang resolusinya masih pecah-pecah.

Penyakit "ingin serba canggih" ini sering kali mematikan kreativitas. Orang jadi lebih fokus memikirkan settingan ISO atau aperture ketimbang memikirkan apa yang ingin mereka sampaikan. Padahal, penonton di platform seperti YouTube atau TikTok sebenarnya lebih mencari koneksi personal. Mereka ingin melihat keaslian, bukan sekadar kualitas gambar 4K yang dingin. Intinya, "the man behind the gun" tetaplah kunci utama. Kamera mahal hanyalah alat bantu, bukan penentu konten itu bakal viral atau tidak.

Hubungan Parasosial dan Curasi Realita

Mengapa kita begitu betah menonton orang asing yang sedang makan bakso atau bercerita soal drama rumah tangganya? Jawabannya ada pada hubungan parasosial. Penonton merasa memiliki ikatan emosional dengan sang vlogger. Kita merasa sudah kenal dekat, padahal sang vlogger sendiri tidak tahu kita ada di bumi ini. Inilah kekuatan vlog: ia menawarkan keintiman yang tidak bisa diberikan oleh televisi konvensional.

Namun, ada sisi gelap dari keintiman ini. Apa yang kita lihat di layar sering kali hanyalah "versi terbaik" dari hidup seseorang. Kita melihat vlogger jalan-jalan ke luar negeri, tapi kita tidak melihat betapa stresnya mereka saat koper hilang atau saat mereka harus berakting ceria padahal sedang bertengkar dengan pasangan di balik kamera. Curasi realita ini terkadang menciptakan standar hidup yang tidak realistis bagi penontonnya, memicu rasa minder dan FOMO (Fear of Missing Out) yang berkepanjangan.

Kesehatan Mental di Balik Angka Viewers

Menjadi vlogger juga berarti harus siap mental menghadapi angka. Algoritma YouTube atau media sosial lainnya bisa sangat kejam. Hari ini video kita bisa ditonton sejuta orang, besok mungkin tidak sampai seribu. Fluktuasi angka ini sering kali berdampak pada kesehatan mental para kreator. Ada tekanan konstan untuk terus memproduksi konten agar tidak dilupakan oleh audiens dan algoritma.

Banyak vlogger yang akhirnya mengalami burnout. Mereka merasa hidupnya tidak lagi milik sendiri karena setiap momen berharga harus didokumentasikan demi konten. Makan tidak tenang sebelum difoto, liburan tidak nikmat karena sibuk cari angle video. Batasan antara privasi dan konsumsi publik menjadi sangat tipis, bahkan nyaris hilang. Di titik inilah, seorang vlogger harus pandai-pandai mengerem dan bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya mengendalikan konten, atau konten yang mengendalikan saya?"

Masih Worth It-kah Mulai Sekarang?

Kalau pertanyaannya adalah apakah masih ada peluang untuk jadi vlogger di tengah persaingan yang sudah jenuh ini, jawabannya adalah: Tentu saja! Selama manusia masih punya rasa ingin tahu dan butuh hiburan, vlogging akan tetap hidup. Kuncinya bukan lagi soal siapa yang paling megah, tapi siapa yang paling otentik dan punya karakter unik.

Jangan pernah mencoba menjadi "fotokopi" dari vlogger yang sudah besar. Dunia tidak butuh satu lagi orang yang meniru gaya bicara atau gaya editing artis papan atas. Jadilah dirimu sendiri dengan segala keunikan dan kekonyolanmu. Mulailah dengan apa yang ada di tangan, bicarakan apa yang kamu cintai, dan yang paling penting, nikmati prosesnya. Karena pada akhirnya, vlog yang paling berkesan adalah vlog yang dibuat dengan hati, bukan cuma karena mengejar pundi-pundi.

Jadi, sudah siap menekan tombol record hari ini? Ingat, setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu klip video pendek yang mungkin awalnya terasa memalukan untuk ditonton ulang. Tapi itulah indahnya proses kreatif.