Mood = Musik
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 12:00 PM


Seni Mengatur Mood Lewat Playlist: Karena Hidup Butuh Soundtrack yang Pas
Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau hidup ini sebenarnya cuma rangkaian adegan film yang kurang musik latar aja? Bayangin lagi jalan di bawah rintik hujan, bawa payung, terus tiba-tiba di telinga lo muter lagunya Pamungkas atau Taylor Swift yang paling melankolis. Seketika, rasa sedih lo naik level jadi estetis. Lo nggak cuma lagi galau, tapi lo lagi jadi tokoh utama di film indie yang lagi nyari jati diri. Itulah kekuatan ajaib dari sebuah playlist mood.
Zaman sekarang, dengerin musik bukan lagi soal siapa penyanyi yang lagi nangkring di urutan satu Billboard. Kita udah ngelewatin fase di mana kita nungguin lagu favorit diputer di radio atau beli kaset fisik yang isinya harus kita dengerin berurutan. Sekarang, eranya adalah kurasi rasa. Platform streaming musik kayak Spotify, Apple Music, atau YouTube Music udah kayak asisten pribadi yang tahu kapan kita butuh asupan semangat dan kapan kita pengen nangis di pojokan kamar sambil nungguin balasan chat yang nggak kunjung datang.
Fenomena playlist mood ini sebenarnya menarik banget kalau dibedah. Dulu, orang bikin folder lagu berdasarkan genre: Rock, Pop, Jazz, atau Dangdut. Sekarang? Nama playlist-nya udah makin liar dan spesifik. Ada playlist judulnya "Lagi di KRL dan Pengen Resign", "Lagu Buat Nemenin Overthinking Jam 2 Pagi", sampai "Vibes Jadi Villain di Film Disney". Kita nggak lagi peduli soal sekat genre. Mau di situ ada dangdut koplo nyampur sama lo-fi hip hop, asalkan frekuensi emosinya sama, ya sikat aja.
Kenapa Kita Butuh 'Validasi' dari Musik?
Secara psikologis, playlist mood itu fungsinya mirip kayak validasi. Pas kita lagi sedih, kita cenderung nyari lagu yang makin bikin sedih. Aneh ya? Bukannya cari yang ceria biar mood-nya naik? Tapi ya itulah manusia. Kita butuh merasa dipahami. Pas dengerin lirik yang "gue banget", rasanya kayak ada orang lain di dunia ini yang ngerasain hal yang sama. Musik jadi pelukan virtual yang bilang, "Tenang, lo nggak sendirian kok yang nasibnya begini."
Di sisi lain, ada juga playlist yang sifatnya sebagai 'booster'. Ini biasanya playlist yang isinya lagu-lagu upbeat yang bikin kita ngerasa kayak main character energy. Biasanya diputer pas lagi siap-siap mau pergi ngedate atau pas lagi ngerjain deadline yang udah mepet banget. Begitu dengerin beat yang kenceng, rasanya kepercayaan diri langsung naik 200 persen. Kita jadi ngerasa paling keren se-kecamatan, seolah-olah semua mata bakal tertuju ke kita pas keluar rumah nanti. Jujurly, tanpa playlist kayak gini, produktivitas banyak anak muda mungkin bakal terjun bebas.
Algoritma: Sahabat Karib yang Paling Pengertian
Kita juga harus angkat topi buat algoritma platform streaming. Kadang mereka tuh lebih tahu perasaan kita dibanding pacar atau sahabat sendiri. Cuma dengan ngelihat kebiasaan kita dengerin lagu di jam-jam tertentu, mereka bisa nyaranin playlist "Daily Mix" yang isinya pas banget sama suasana hati saat itu. Ini yang bikin kita makin betah berlama-lama pake earphone. Kita ngerasa 'dimengerti' tanpa harus banyak cerita.
Tapi, ada bahayanya juga sih. Kadang kita jadi terjebak di dalam "echo chamber" emosi kita sendiri. Kalau lagi galau terus disuapin lagu galau terus-terusan sama algoritma, ya kapan sembuhnya? Kita jadi betah berlama-lama di zona nyaman kesedihan itu. Tapi ya sudahlah, namanya juga proses healing, kan tiap orang beda-beda durasinya. Selama nggak bikin kita beneran depresi, playlist mood tetep jadi penolong paling murah dan praktis.
Playlist Sebagai Identitas Sosial
Sekarang, playlist bukan cuma buat konsumsi pribadi. Playlist udah jadi bagian dari personal branding. Pas akhir tahun muncul Spotify Wrapped, media sosial langsung penuh sama orang-orang yang pamer selera musik mereka. Secara nggak langsung, kita pengen bilang, "Eh, lihat nih, selera musik gue unik, gue tuh orangnya deep banget," atau "Gue asik lho, playlist gue isinya lagu-lagu party semua."
Bahkan sekarang ada tren berbagi link playlist di bio Instagram atau Tinder. Seolah-olah selera musik bisa jadi indikator apakah kita bakal nyambung sama seseorang atau nggak. "Oh, dia dengerin lagu-lagu indie folk yang jarang orang tahu, pasti dia orangnya puitis dan suka kopi senja," atau "Wah, dia dengerin K-Pop, pasti orangnya seru dan enerjik." Kita nge-judge orang lain (dan di-judge) lewat deretan lagu yang kita susun di dalam playlist.
Kesimpulan: Hidup Itu Playlist yang Terus Berputar
Pada akhirnya, playlist mood adalah cerminan dari dinamika hidup kita yang naik turun. Ada kalanya kita butuh keheningan, ada kalanya kita butuh kebisingan. Musik adalah cara kita merayakan perasaan tanpa perlu banyak kata-kata. Jadi, nggak perlu malu kalau playlist lo isinya campur aduk nggak jelas. Mau pagi dengerin murottal, siang dengerin rock metal, dan malem dengerin lagu galau tahun 2000-an, itu semua valid-valid aja.
Dunia luar mungkin berisik dan nggak bisa kita kontrol, tapi setidaknya kita punya kendali penuh atas apa yang masuk ke telinga kita. Jadi, apa judul playlist lo hari ini? Apakah "Siap Menaklukkan Dunia" atau cuma sekadar "Bertahan Hidup Sampai Hari Gajian"? Apapun itu, pastikan volumenya pas, dan nikmati setiap nadanya. Karena setiap perasaan, sekecil apapun, layak punya soundtrack-nya sendiri.
Next News

Masak Sendiri
in 3 hours

Menata Kamar
in 3 hours

Ngobrol di Telinga
in 3 hours

Sehat Tanpa Drama
in 3 hours

Hidup Jadi Konten
in 3 hours

Males Scroll, Mending Baca
in 2 hours

Main Tanah, Biar Waras
in 2 hours

Komunitas Hobi = Terapi Jiwa
in 12 minutes

Nulis Itu Self-Healing Murah
in 12 minutes

DIY or Die
in 12 minutes





