Sabtu, 14 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Menata Kamar

Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 01:00 PM

Background
Menata Kamar
Menata Kamar ( Istimewa/)

Seni Menata Kamar: Antara Obsesi Estetik Pinterest dan Realita Dompet yang Menipis

Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau kamar itu bukan cuma sekadar tempat buat merem pas malam hari? Buat banyak orang, apalagi yang tiap harinya bergulat sama kerjaan remote atau tugas kuliah yang nggak ada habisnya, kamar itu udah kayak "sanctuary". Tempat kita bisa jadi diri sendiri tanpa perlu pakai topeng sosial. Di kamar, kita bebas mau nangis bombay sambil dengerin lagu galau, joget-joget nggak jelas di depan cermin, atau bahkan cuma rebahan menatap langit-langit sambil mikirin kapan cicilan lunas.

Makanya, nggak heran kalau belakangan ini tren dekor kamar atau yang kerennya disebut "room makeover" jadi hal yang sangat masif. Scroll TikTok dikit, isinya orang unboxing barang estetik. Buka Pinterest, langsung disuguhi kamar minimalis ala Korea yang warnanya serba putih-krem. Rasanya kayak ada bisikan halus di telinga, "Woi, kamar lo berantakan banget, ayo beli lampu sunset biar kelihatan indie!"

Jebakan Estetika yang Kadang Bikin Boncos

Masalahnya, dunia dekorasi kamar ini seringkali jadi jebakan Batman buat kesehatan finansial kita. Kita semua tahu gimana rasanya "keracunan" link Shopee atau TikTok Shop. Awalnya cuma pengen beli sprei baru karena yang lama udah bolong-bolong dikit, eh ujung-ujungnya malah checkout meja kerja standing, tanaman artifisial, sampai diffuser yang harganya bisa buat makan seminggu.

Ada semacam ekspektasi sosial terselubung kalau kamar yang keren itu harus punya vibe tertentu. Ada tim minimalis yang penganut garis keras Marie Kondo—semua barang harus masuk kotak, nggak boleh ada kabel sliweran, dan kalau bisa barangnya cuma lima biji biar kelihatan lapang. Tapi ada juga tim maksimalis yang kamarnya penuh poster band, tumpukan buku, dan koleksi gundam yang bikin debu makin betah. Nggak ada yang salah sih, cuma kadang kita terlalu memaksakan diri buat ngikutin tren yang sebenarnya nggak cocok sama kepribadian asli kita.

Kekuatan Lampu yang Mengubah Segalanya

Kalau ditanya elemen apa yang paling penting buat ngerombak suasana kamar tanpa harus bongkar celengan ayam, jawabannya cuma satu: pencahayaan. Seriously, lupakan dulu cat dinding yang ribet. Coba ganti lampu putih neon yang bikin kamar berasa kayak ruang IGD rumah sakit itu ke lampu warm white. Instan! Kamar kalian langsung berasa lebih hangat, cozy, dan "mahal".

Sekarang lagi zamannya sunset lamp atau lampu strip LED yang bisa ganti-ganti warna sesuai mood. Kalau lagi pengen fokus kerja, pakai warna biru atau putih. Kalau lagi pengen rebahan sambil overthink masa depan, tinggal ganti ke warna oranye redup. Pencahayaan itu kayak bumbu dalam masakan; meskipun bahannya sederhana, kalau bumbunya pas, rasanya bakal luar biasa. Ini trik paling murah buat bikin kamar kalian kelihatan estetik di kamera pas lagi Zoom meeting atau bikin konten story Instagram.

Menata Kamar adalah Bentuk Self-Care

Sebenarnya, lebih dari sekadar urusan visual, mendekorasi kamar itu adalah bentuk komunikasi kita sama diri sendiri. Ada kepuasan tersendiri pas kita berhasil menyingkirkan tumpukan baju kotor (chair of doom) dan menggantinya dengan vas bunga kecil atau sekadar menata meja kerja jadi lebih rapi. Rasanya kayak ada beban di kepala yang ikut terangkat.

Banyak psikolog bilang kalau kondisi ruangan mencerminkan kondisi pikiran penghuninya. Kalau kamar berantakan banget sampai buat jalan aja susah, biasanya pikiran kita juga lagi semrawut. Sebaliknya, saat kita mulai "bebenah", secara nggak langsung kita lagi mencoba merapikan kekacauan yang ada di dalam hati. Jadi, jangan remehkan kekuatan merapikan tempat tidur di pagi hari. Itu adalah kemenangan kecil pertama yang bisa kalian raih sebelum menghadapi kejamnya dunia luar.

Jangan Terpaku pada Standar Orang Lain

Satu hal yang perlu diingat, kamar kalian itu bukan galeri seni yang harus selalu rapi 24 jam buat dipamerin ke orang. Jangan sampai gara-gara ngejar estetika, kita malah jadi nggak nyaman di kamar sendiri. Misalnya, kalian maksa pakai sprei bahan linen yang estetik tapi ternyata kulit kalian sensitif dan malah gatal-gatal. Atau kalian beli meja kerja minimalis yang ukurannya kecil banget cuma biar kelihatan "clean", padahal monitor kalian gede dan butuh space banyak. Itu namanya menyiksa diri dengan gaya.

Gunakanlah gaya dekorasi yang emang bikin kalian tenang. Suka koleksi barang antik? Silakan pajang. Suka warna-warna ngejreng yang nabrak? Hajar aja. Yang penting itu fungsionalitas dan kenyamanan. Kamar adalah satu-satunya tempat di mana kalian nggak perlu minta izin orang lain buat jadi aneh.

Tips Singkat Buat yang Mau Mulai Dekor

  • Decluttering adalah kunci: Sebelum beli barang baru, buang atau sumbangkan barang lama yang udah nggak kepakai. Kamar yang penuh barang nggak akan pernah kelihatan bagus mau dihias kayak gimana pun.
  • Mainkan tekstur: Gunakan karpet bulu, selimut rajut, atau bantal dengan bahan yang beda-beda. Ini bakal kasih dimensi biar kamar nggak kelihatan flat.
  • Sentuhan hijau: Kalau nggak jago ngerawat tanaman asli, beli tanaman plastik yang kualitasnya bagus. Warna hijau bisa bikin mata lebih rileks setelah seharian natap layar laptop.
  • Manfaatkan dinding: Kalau lantai kamar sempit, pasang rak dinding. Selain buat naruh barang, rak dinding juga bisa jadi elemen dekorasi yang oke.

Pada akhirnya, dekor kamar itu proses yang nggak ada ujungnya. Seiring kita bertambah dewasa, selera kita pasti berubah. Dulu mungkin suka poster anime penuh di tembok, sekarang mungkin lebih suka dinding polos dengan satu lukisan abstrak yang kita sendiri nggak paham artinya. Dan itu nggak apa-apa. Kamar adalah ruang yang tumbuh bareng kalian. Jadi, selamat bereksperimen dan jangan lupa istirahat, ya!