Males Scroll, Mending Baca
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 12:00 PM


Menyelamatkan Waras Kita Lewat Membaca: Antara Scroll HP dan Bau Buku Tua
Pernah nggak sih lo lagi nongkrong di kafe, terus ngelihat orang yang asyik sendiri sama buku fisik di tengah keramaian orang yang sibuk mabar Mobile Legends atau asyik bikin konten TikTok? Rasanya kayak ngelihat spesies langka yang hampir punah, ya? Ada kesan "wah, anak ini intelek banget" atau malah muncul pikiran "apa nggak pusing ya baca di tempat berisik gini?".
Katanya sih, minat baca orang Indonesia itu rendah banget. Berdasarkan data UNESCO, cuma 0,001% penduduk Indonesia yang rajin baca. Artinya, dari 1.000 orang, cuma satu yang beneran pembaca buku. Tapi, menurut gue, data ini rada perlu didebat dikit. Masalahnya, kita itu sebenernya "baca" terus setiap hari. Kita baca caption Instagram yang panjangnya kayak skripsi, kita baca thread drama perselingkuhan di X (Twitter) sampai habis beratus-ratus tweet, bahkan kita baca komentar netizen yang pedesnya ngalahin seblak level 10. Jadi, apakah kita benar-benar nggak suka baca, atau kita cuma nggak suka baca yang formatnya "serius"?
Literasi dalam Genggaman: Membaca yang Mengalami Pergeseran
Zaman sekarang, definisi membaca itu sudah bergeser jauh. Dulu, membaca itu identik dengan duduk tenang, pegang buku kertas, dan ada ritual membalik halaman yang khas aromanya. Sekarang? Membaca itu aktivitas yang dilakukan sambil nunggu ojol, sambil rebahan sebelum tidur, atau bahkan pas lagi di toilet. Mediumnya pun berubah jadi layar 6 inci yang cahayanya kadang bikin mata pedes.
Gue sering denger perdebatan klasik: "E-book itu bukan baca buku beneran, yang beneran itu ya buku fisik." Jujur aja, ini menurut gue salah satu bentuk gatekeeping yang nggak perlu. Mau lo baca lewat Kindle, iPusnas, Wattpad, atau buku fisik yang harganya bikin dompet nangis, ya lo tetep lagi membaca. Yang penting itu kan nutrisi yang masuk ke otak, bukan kemasannya. Lagipula, di zaman serba mahal ini, e-book legal sering jadi penyelamat buat mereka yang pengen pinter tapi budget-nya pas-pasan.
Tapi ada satu jebakan batman pas kita baca di gadget: distorsi fokus. Lagi asyik-asyiknya baca artikel serius tentang ekonomi, eh tiba-tiba ada notifikasi diskon Shopee atau chat dari gebetan. Buyar sudah semuanya. Inilah yang bikin daya konsentrasi kita makin pendek kayak sumbu petasan. Kita jadi terbiasa baca cepat, skimming, dan cari intinya doang tanpa meresapi detailnya. Padahal, kenikmatan membaca itu justru ada di proses "tenggelam" ke dalam narasinya.
Membaca Sebagai Bentuk "Healing" yang Paling Murah
Sekarang lagi tren istilah healing. Orang-orang rela bayar mahal buat staycation atau naik gunung demi melepas penat. Padahal, ada cara healing yang jauh lebih murah dan nggak bikin pegel: baca buku fiksi. Kalau lo lagi capek sama realita dunia yang makin nggak masuk akal, masuk ke dunia sihir Harry Potter atau petualangan di Middle-earth-nya Tolkien itu bisa jadi obat yang mujarab banget.
Membaca itu kayak kita punya pintu rahasia ke ribuan nyawa lain. Lo bisa jadi detektif di London zaman dulu, bisa jadi astronaut di Mars, atau sekadar jadi pengamat kehidupan di desa terpencil lewat tulisan Ahmad Tohari. Pas kita baca, otak kita itu kayak diajak simulasi. Kita jadi lebih empati karena dipaksa buat ngelihat dunia dari kacamata orang lain yang beda banget sama kita. Di titik ini, membaca bukan lagi soal cari ilmu pengetahuan doang, tapi soal memanusiakan diri sendiri.
Jangan Jadi "Book Snob" yang Suka Menghakimi
Ada satu hal yang bikin orang males mulai baca: stigma. Ada semacam kasta tak tertulis di dunia literasi. Kalau lo baca buku filsafat yang bahasanya njelimet kayak labirin, lo dianggap keren. Tapi kalau lo cuma baca komik Jepang (manga) atau novel remaja (teenlit), lo sering dianggap belum "literat". Elitisme kayak gini nih yang harus dibuang jauh-jauh.
Gue punya beberapa alasan kenapa kita nggak boleh menghakimi bacaan orang:
- Semua pembaca berat pasti mulainya dari bacaan ringan. Nggak ada orang lahir langsung paham teori relativitas Einstein.
- Komik atau novel ringan tetep melatih imajinasi dan nambah kosakata.
- Hiburan itu subjektif. Kalau baca novel cinta-cintaan bisa bikin stres lo ilang, ya lakuin aja.
- Yang penting itu membangun kebiasaan (habit), bukan pamer judul buku di media sosial.
Menghadapi "Reading Slump"
Banyak temen gue yang dulunya kutu buku, sekarang malah berhenti total. Istilah kerennya reading slump. Kondisi di mana lo pengen banget baca, tapi pas buka buku, rasanya males banget atau nggak ada satu pun kalimat yang masuk ke otak. Ini normal banget, kok. Hidup kita sekarang emang penuh distraksi audio-visual yang lebih "instan" ngasih dopamin ke otak kita daripada buku.
Tips dari gue kalau lo lagi di fase ini: jangan paksa baca buku berat. Coba balik lagi ke komik masa kecil, baca cerpen yang sekali duduk selesai, atau baca artikel-artikel ringan di portal berita kesukaan lo. Membaca itu harusnya menyenangkan, bukan jadi beban tambahan di atas beban kerjaan kantor yang udah numpuk.
Satu lagi, jangan terlalu ambisius sama target. Nggak usah ikut-ikutan Reading Challenge yang harus namatin 50 buku setahun kalau akhirnya lo cuma baca cepat tanpa ngerti isinya. Satu buku sebulan tapi lo beneran dapet insight baru itu jauh lebih berharga daripada puluhan buku yang cuma lewat doang di ingatan.
Kesimpulan: Membaca Adalah Investasi Jangka Panjang
Akhir kata, membaca itu investasi paling murah buat masa depan. Di dunia yang makin penuh dengan hoax dan disinformasi, kemampuan kita buat memproses teks dan berpikir kritis itu jadi perisai paling ampuh. Orang yang rajin baca nggak akan gampang kemakan judul berita yang clickbait atau terprovokasi narasi-narasi kebencian yang nggak jelas sumbernya.
Membaca itu bukan soal berapa banyak halaman yang lo lahap, tapi soal seberapa luas pikiran lo terbuka setelah menutup buku itu. Jadi, yuk pelan-pelan kita kurangin waktu doomscrolling di medsos dan ganti sama beberapa halaman buku. Nggak usah berat-berat, yang penting mulai aja dulu. Siapa tahu, dari satu halaman itu, lo bakal nemuin dunia baru yang belum pernah lo bayangin sebelumnya. Selamat membaca, kawan!
Next News

Masak Sendiri
in 3 hours

Menata Kamar
in 3 hours

Ngobrol di Telinga
in 3 hours

Sehat Tanpa Drama
in 3 hours

Hidup Jadi Konten
in 3 hours

Mood = Musik
in 2 hours

Main Tanah, Biar Waras
in 2 hours

Komunitas Hobi = Terapi Jiwa
in 14 minutes

Nulis Itu Self-Healing Murah
in 14 minutes

DIY or Die
in 14 minutes





