Masak Sendiri
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 01:00 PM


Seni Mengolah Rasa: Mengapa Memasak Sendiri Masih Jadi Flexing Terbaik di Tengah Gempuran GoFood
Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau hidup lagi capek-capeknya, terus tiba-tiba buka aplikasi pesan antar makanan cuma buat bengong selama tiga puluh menit karena bingung mau makan apa? Ujung-ujungnya, pilihan jatuh ke ayam geprek lagi atau mi instan pakai telur. Padahal, di pojok dapur ada kompor yang udah berdebu dan panci yang kesepian. Memang sih, hidup di zaman sekarang itu semuanya pengen yang serba instan. Tinggal klik, bayar, abang ojol datang. Tapi jujur deh, ada kepuasan yang nggak bisa dibeli pakai saldo digital manapun saat kita berhasil menyulap bahan mentah jadi hidangan yang layak masuk ke tenggorokan.
Memasak itu sebenarnya aktivitas yang cukup paradoks. Di satu sisi, dia bisa jadi hal paling intimidatif buat orang yang nggak pernah pegang sutil. Bayangan dapur meledak atau rasa masakan yang hambar kayak harapan palsu seringkali jadi penghalang utama. Tapi di sisi lain, memasak adalah salah satu skill bertahan hidup yang paling hakiki. Kita nggak mungkin selamanya bergantung pada promo ongkir, kan? Apalagi kalau dompet udah mulai menunjukkan gejala 'kanker' alias kantong kering di akhir bulan. Di sinilah memasak muncul sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Tragedi Telur Gosong dan Perjalanan Menjadi MasterChef Abal-Abal
Semua orang pasti punya cerita memalukan soal masak-masak pertama kali. Ada yang pernah masak nasi tapi lupa mencet tombol 'cook' di rice cooker, atau yang paling klasik: masak telur ceplok tapi bumbunya cuma garam di satu titik, jadi rasanya asin banget di tengah dan hambar di pinggir. Gue pun dulu begitu. Masak air aja rasanya kayak mau ikut ujian nasional, deg-degannya minta ampun. Tapi ya itu seninya. Memasak itu proses trial and error yang paling jujur. Kalau gosong, ya artinya apinya kegedean. Kalau hambar, ya artinya kurang micin atau cinta.
Sekarang, dengan adanya TikTok dan YouTube, semua orang merasa punya potensi jadi Chef Arnold dadakan. Kita sering banget kejebak video "resep simpel tiga bahan" yang ternyata bahan-bahannya cuma ada di supermarket kelas atas atau harus impor dari luar negeri. "Cukup pakai rosemary segar dan truffle oil," katanya. Lah, di dapur kita cuma ada bawang merah sisa kemarin dan minyak goreng yang udah dipakai dua kali. Tapi uniknya, keterbatasan itu justru memicu kreativitas. Di situlah lahirnya istilah masakan "cemplung-cemplung". Nggak pakai takaran gram-graman, cuma pakai perasaan alias ilmu kira-kira.
Filosofi "Secukupnya" dan Kekuatan Insting
Kalau kalian perhatikan ibu-ibu di pasar atau nenek kita di rumah, mereka jarang banget pakai timbangan digital kecuali lagi bikin kue lebaran. Rahasia masakan enak orang Indonesia itu ada pada kata "secukupnya". Garam secukupnya, gula secukupnya, penyedap rasa secukupnya. Kata ini adalah momok bagi kaum milenial dan Gen Z yang terbiasa dengan kepastian. Tapi seiring berjalannya waktu, kita bakal paham kalau "secukupnya" itu adalah soal koneksi antara tangan, lidah, dan hati. Memasak itu tentang melatih sensitivitas kita terhadap rasa.
Masakan rumahan punya satu bumbu rahasia yang nggak dimiliki restoran bintang lima mana pun: keikhlasan. Kedengarannya emang klise banget, kayak kata-kata di buku motivasi. Tapi coba deh bandingkan rasa nasi goreng yang kamu masak sendiri dengan penuh usaha saat lagi lapar-laparnya, sama nasi goreng yang beli di pinggir jalan pas si penjualnya lagi bete. Rasanya beda, kan? Ada energi yang tertransfer ke dalam makanan. Mungkin ini juga alasan kenapa masakan rumah selalu jadi yang paling dirindukan pas kita lagi merantau.
Memasak Sebagai Terapi di Tengah Hustle Culture
Di dunia yang serba cepat ini, memasak bisa jadi bentuk self-care atau terapi mental. Saat kita memotong bawang, mengulek sambal, atau menunggu air mendidih, otak kita dipaksa untuk fokus pada satu hal saja. Ini adalah momen meditasi tanpa harus duduk diam merem. Suara desisan minyak saat bumbu ditumis itu benar-benar healing yang jauh lebih murah daripada pergi ke psikolog atau liburan ke Bali setiap minggu. Ada kepuasan tersendiri saat melihat bumbu yang tadinya terpisah-pisah menyatu jadi satu aroma yang menggugah selera.
Selain itu, memasak sendiri bikin kita lebih sadar sama apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Kita jadi tahu kalau seporsi makanan yang kita makan itu mengandung minyak seberapa banyak, gulanya sebanyak apa, dan kebersihannya gimana. Bukan berarti kita harus jadi penganut hidup sehat yang ekstrem sampai nggak mau makan gorengan sama sekali, tapi setidaknya kita punya kendali atas kesehatan diri sendiri. Di tengah maraknya makanan viral yang isinya cuma tepung dan bumbu tabur pedas level dewa, masakan sendiri adalah bentuk proteksi diri.
Jangan Takut Gagal, Dapur Bukan Tempat Ujian
Buat kalian yang masih ragu buat mulai masak, pesen gue cuma satu: jangan terlalu keras sama diri sendiri. Kalau masakan pertama nggak enak, ya tinggal kasih ke kucing (kalau dia mau) atau ya dimakan aja sambil meratapi nasib. Anggap aja itu biaya belajar. Dapur itu tempat buat berekspresi, bukan tempat buat dinilai sama juri kayak di televisi. Nggak usah mikirin estetika plating dulu kalau rasanya masih amburadul. Yang penting matang dan nggak bikin sakit perut, itu udah pencapaian besar.
Mulailah dari yang paling gampang. Tumis kangkung, telur dadar pakai daun bawang, atau ayam goreng bumbu instan. Lama-lama, insting kalian bakal terasah. Kalian bakal mulai berani eksperimen nambahin saus tiram ke tumisan, atau nyobain masak pasta pakai bumbu seblak. Memasak itu membebaskan. Ia memberi kita ruang untuk berkreasi tanpa batas. Dan yang paling penting, memasak adalah cara kita mencintai diri sendiri lewat nutrisi yang kita buat dengan tangan sendiri.
Jadi, kapan terakhir kali kalian nyalain kompor bukan cuma buat rebus air mi instan? Yuk, mumpung hari ini nggak terlalu sibuk, coba buka kulkas, lihat ada bahan apa, dan mulailah bertarung di dapur. Siapa tahu, kalian ternyata punya bakat terpendam yang selama ini tertutup oleh kemudahan aplikasi ojek online. Selamat memasak, jangan lupa cuci piring setelahnya!
Next News

Menata Kamar
in 3 hours

Ngobrol di Telinga
in 3 hours

Sehat Tanpa Drama
in 3 hours

Hidup Jadi Konten
in 3 hours

Mood = Musik
in 2 hours

Males Scroll, Mending Baca
in 2 hours

Main Tanah, Biar Waras
in 2 hours

Komunitas Hobi = Terapi Jiwa
in 9 minutes

Nulis Itu Self-Healing Murah
in 9 minutes

DIY or Die
in 9 minutes





