Sabtu, 14 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Sehat Tanpa Drama

Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 01:00 PM

Background
Sehat Tanpa Drama
Sehat Tanpa Drama ( Istimewa/)

Seni Olahraga Tipis-Tipis: Biar Nggak Jompo Sebelum Waktunya

Pernah nggak sih kamu merasa kalau melihat orang lari maraton di hari Minggu pagi itu kayak melihat spesies manusia dari planet lain? Di saat kita masih bergelung rapi dengan selimut, lengkap dengan iler yang mengering, mereka sudah mandi keringat dengan outfit ketat yang harganya mungkin setara cicilan motor bulanan. Jujurly, buat sebagian besar dari kita, olahraga seringkali terasa kayak beban hidup tambahan daripada sebuah kebutuhan. Bayangan tentang gym yang penuh keringat, instruktur galak, atau rasa sakit otot selama tiga hari setelahnya bikin kita lebih milih jadi atlet rebahan profesional.

Tapi masalahnya, tubuh kita ini bukan robot. Makin bertambah umur, ada saja drama yang muncul. Mulai dari pinggang yang bunyi "krek" tiap kali mau berdiri, sampai napas yang udah kayak kereta uap cuma gara-gara naik tangga dua lantai. Di sinilah konsep olahraga santai atau yang sering disebut "olahraga tipis-tipis" masuk sebagai penyelamat bagi kaum mending-mending seperti kita. Nggak perlu ambisius mengejar perut kotak-kotak ala aktor drakor, yang penting badan gerak dan sirkulasi darah nggak macet-macet amat.

Jalan Kaki: Olahraga Paling Ikhlas

Kalau ada penghargaan buat olahraga yang paling ramah di kantong dan nggak bikin drama, jalan kaki adalah juaranya. Kita sering kemakan omongan kalau olahraga itu harus lari kencang sampai paru-paru rasanya mau copot. Padahal, jalan santai keliling komplek sambil dengerin podcast atau playlist galau itu sudah termasuk investasi kesehatan, lho. Istilah kerennya sekarang sih "mindful walking".

Bayangin aja, kamu cuma butuh kaos oblong yang sudah meral, celana pendek, dan sepatu yang solnya belum lepas. Kamu nggak perlu pusing mikirin pace atau jarak tempuh di smartwatch. Tujuan utamanya sederhana: gerak. Bonusnya, kamu bisa sekalian update gosip terbaru di tukang sayur atau sekadar cuci mata lihat rumah-rumah mewah di komplek sebelah sambil membatin, "Kapan ya gue bisa punya rumah kayak gitu?"

Gowes Cari Sarapan: Definisi Bahagia yang Hakiki

Beberapa tahun lalu, tren sepeda sempat meledak sampai-sampai harga sepeda lipat jadi nggak masuk akal. Sekarang, setelah trennya agak mereda, yang tersisa adalah mereka yang benar-benar hobi atau mereka yang menjadikan sepeda sebagai sarana olahraga santai. Jenis olahraga ini biasanya punya misi khusus: destinasi kuliner.

Olahraga santai jenis ini biasanya dilakukan berkelompok. Temanya bukan adu kecepatan, tapi adu kuat makan bubur ayam atau nasi uduk di ujung rute. Kamu gowes pelan-pelan, menikmati angin sepoi-sepoi, sambil ngobrol ngalor-ngidul sama teman. Kalori yang terbakar mungkin nggak seberapa, tapi kebahagiaan mental yang didapat itu tak ternilai harganya. Ini adalah win-win solution buat kamu yang pengen sehat tapi ogah rugi soal urusan perut.

Yoga-Yogaan di Kamar: Melawan Encok Sejak Dini

Buat kamu yang mager keluar rumah karena polusi atau sekadar malas ketemu orang, yoga-yogaan di kamar adalah koentji. Kenapa saya bilang yoga-yogaan? Karena kalau yoga beneran biasanya butuh teknik pernapasan yang rumit dan pose yang bikin tulang serasa mau patah. Tapi untuk olahraga santai, kita cukup melakukan peregangan dasar alias stretching.

Gerakan-gerakan simpel kayak menyentuh ujung kaki, pose kucing-sapi (cat-cow stretch), atau sekadar memutar-mutar leher itu sudah cukup buat meredakan ketegangan otot setelah seharian duduk di depan laptop. Nggak perlu pakai baju yoga yang mahal, pakai daster atau celana bokser juga jadi. Intinya adalah memberi ruang bagi tubuh untuk bernapas dan melepaskan beban "pegal-pegal khas orang dewasa".

Kenapa "No Pain No Gain" Nggak Selalu Benar?

Dunia kebugaran sering banget mendewakan jargon "No Pain, No Gain". Seolah-olah kalau kita nggak ngerasa sakit, berarti olahraganya nggak berguna. Padahal, buat kita yang hidupnya sudah penuh tekanan kerjaan, deadline, dan tagihan, menambah tekanan lewat olahraga yang terlalu berat justru bisa bikin burnout. Kita butuh sesuatu yang berkelanjutan, bukan sesuatu yang bikin kita kapok dalam sekali coba.

Olahraga santai itu soal konsistensi, bukan soal intensitas yang meledak-ledak. Lebih baik jalan kaki 15 menit setiap hari daripada lari 10 kilometer tapi cuma sekali setahun pas hari Lebaran doang. Dengan menurunkan ekspektasi, kita justru jadi lebih sering bergerak. Nggak ada tekanan untuk jadi atlet, nggak ada rasa bersalah kalau hari ini cuma bisa stretching bentar. Kita jadi lebih bisa menghargai tubuh sendiri tanpa harus menyiksanya.

Penutup: Kesehatan Bukan Perlombaan

Pada akhirnya, olahraga santai adalah tentang bagaimana kita berdamai dengan tubuh sendiri. Di tengah dunia yang serba cepat dan menuntut kita untuk selalu produktif, meluangkan waktu untuk bergerak pelan tanpa target yang muluk-muluk adalah bentuk self-love yang paling nyata. Kamu nggak perlu membuktikan apa-apa ke siapa pun di media sosial. Nggak perlu posting foto smartwatch yang menunjukkan ribuan langkah kalau itu malah bikin kamu stres.

Mulailah dari hal-hal kecil. Parkir kendaraan agak jauh biar bisa jalan kaki lebih banyak, pilih tangga daripada lift kalau cuma naik satu lantai, atau sekadar joget-joget nggak jelas pas dengerin lagu favorit di kamar. Tubuhmu akan berterima kasih di masa depan nanti. Ingat, sehat itu nggak harus mahal, dan gerak itu nggak harus tersiksa. Jadi, mau mulai olahraga santai kapan? Besok? Ya udah, yang penting beneran dilakukan ya, jangan cuma jadi wacana di grup WhatsApp aja!