Sabtu, 14 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Musik Favorit dan Kita

Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 08:00 AM

Background
Musik Favorit dan Kita
Musik Favorit dan Kita ( Istimewa/)

Kenapa Kita Sebegitu Obsesif sama Musik Favorit? Lebih dari Sekadar 'Ear Candy'

Bayangkan situasinya begini: Kamu lagi terjebak macet di tengah Jakarta yang panasnya minta ampun, atau mungkin lagi bengong di pojokan kereta komuter sambil menatap kaca jendela yang buram. Tiba-tiba, dari earphone yang kamu pakai, muncul satu lagu yang intro-nya saja sudah bikin bulu kuduk berdiri. Seketika, rasa kesal karena macet atau capek kerja mendadak luntur. Kamu merasa jadi karakter utama di sebuah film indie yang lagi galau-galaunya. Itulah kekuatan ajaib dari apa yang kita sebut sebagai musik favorit.

Musik favorit itu sebenarnya barang yang sangat personal, bahkan bisa dibilang lebih intim daripada isi dompet. Kalau ada orang yang minta izin buat ngintip playlist Spotify atau YouTube Music kamu, rasanya kayak mereka lagi minta izin buat baca buku harian. Ada semacam rasa malu tapi juga pengen pamer kalau selera musik kita itu 'oke' banget. Tapi, pernah nggak sih kita mikir kenapa kita bisa sebegitu terikatnya sama deretan nada dan lirik tertentu?

Evolusi dari 'Skena' Garis Keras ke Penikmat 'Apa Saja Oke'

Kalau kita flashback ke sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, dunia per-musik-an kita itu penuh dengan sekat. Ada masanya kalau kamu dengerin band indie, kamu bakal anti banget sama musik mainstream yang diputar di radio-radio. Atau kalau kamu anak metal, haram hukumnya ketahuan dengerin lagu pop mendayu-dayu. Istilahnya, kita dulu sering banget jadi "polisi skena" buat diri sendiri maupun orang lain.

Tapi sekarang, zamannya sudah berubah total. Berkat platform streaming, batas-batas itu jadi cair banget. Sekarang nggak aneh kalau di dalam satu playlist yang sama, ada lagu metal dari Burgerkill, terus nyambung ke lagu K-Pop dari NewJeans, dan ditutup dengan lagu galau dari Nadin Amizah atau mungkin dangdut koplo-nya Denny Caknan. Kita sudah sampai di tahap di mana "selera musik" bukan lagi soal identitas kelompok, tapi soal kenyamanan telinga dan suasana hati.

Anak muda zaman sekarang lebih santai. Mereka nggak peduli dibilang seleranya "gado-gado" atau "telinga kaleng". Selama lagu itu enak buat nemenin nugas, enak buat dipakai olahraga, atau pas buat meratapi nasib di jam dua pagi, ya sikat saja. Istilah "guilty pleasure" pun perlahan mulai hilang, karena ya, kenapa harus merasa bersalah kalau kita emang suka sama lagunya?

Algoritma: Jodoh yang Diatur Mesin

Ngomongin musik favorit di zaman sekarang nggak bisa lepas dari yang namanya algoritma. Sadar nggak sih, kadang kita merasa Spotify atau YouTube itu lebih kenal kita daripada pacar sendiri? Mereka tahu persis kapan kita lagi pengen dengerin lagu-lagu "senja" yang penuh suara petikan gitar kopong, dan kapan kita butuh beat kencang buat semangat pagi.

Fitur semacam "Discover Weekly" atau "Daily Mix" itu kayak mak comblang yang pinter banget nyariin kita jodoh berupa lagu-lagu baru. Kadang kita mikir, "Wah, ini lagu kok pas banget ya sama perasaan gue sekarang?" Padahal, itu semua hasil olahan data yang ngelihat pola dengerin kita selama ini. Ada sisi ngerinya sih, tapi ya mau gimana lagi? Kita seringkali malah terbantu buat nemuin hidden gem yang mungkin nggak bakal pernah kita denger kalau nggak disodorin sama si mesin ini.

Tapi, ada satu hal yang nggak bisa digantikan sama algoritma: Kenangan. Sebuah mesin bisa kasih tahu lagu apa yang mirip secara nada, tapi dia nggak tahu lagu mana yang dulu diputar pas kamu pertama kali nembak gebetan di SMA, atau lagu mana yang diputar terus-terusan pas kamu lagi patah hati hebat. Musik favorit itu punya "jangkar" di ingatan kita.

Kenapa Lagu Lokal Sekarang Lebih 'Nendang'?

Satu hal yang menarik untuk diamati adalah gimana musik lokal kembali jadi raja di rumah sendiri. Kalau kita lihat tangga lagu terpopuler, nama-nama musisi Indonesia sekarang mendominasi luar biasa. Musisi seperti Tulus, Hindia, Bernadya, sampai grup-grup indie yang lebih niche punya pendengar setia yang militan. Kenapa?

Jawabannya mungkin karena liriknya yang makin "relate". Penulis lagu zaman sekarang nggak lagi pakai bahasa yang terlalu puitis sampai sulit dimengerti, tapi juga nggak receh. Mereka ngomongin soal quarter-life crisis, soal capeknya kerja kantoran, soal rasa nggak pede, sampai soal duka kehilangan. Musik-musik ini jadi teman bicara bagi pendengarnya. Kita ngerasa nggak sendirian saat dengerin lirik yang seolah-olah lagi menceritakan hidup kita sendiri. Ini yang bikin sebuah lagu nggak cuma jadi latar belakang suara, tapi jadi bagian dari perjalanan hidup.

Musik sebagai Pelarian dan 'Healing'

Di dunia yang makin berisik dan penuh tuntutan ini, musik favorit jadi salah satu cara termurah buat "healing". Nggak perlu tiket pesawat mahal ke Bali, cukup pakai noise-cancelling headphone, putar album favorit dari awal sampai akhir tanpa diganggu, dan boom—kamu sudah ada di duniamu sendiri. Musik punya kemampuan buat memanipulasi emosi kita. Dia bisa bikin kita yang tadinya lemas jadi semangat, atau yang tadinya marah jadi lebih tenang.

Intinya, musik favorit itu subjektif dan nggak ada benar-salahnya. Jangan mau diatur-atur orang soal apa yang layak masuk ke telingamu. Kalau menurutmu lagu itu bagus dan bisa bikin harimu lebih baik, ya dengerin aja terus sampai bosen. Karena pada akhirnya, musik adalah bahasa yang paling jujur buat mengekspresikan apa yang nggak bisa kita ucapkan lewat kata-kata.

Jadi, lagu apa yang bakal kamu putar habis baca artikel ini? Apapun itu, pastikan volumenya pas, dan selamat menikmati duniamu sendiri.