Sabtu, 16 Mei 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Mahasiswa dan Warga Sampang Nobar Film 'Pesta Babi'

Redaksi - Saturday, 16 May 2026 | 07:45 AM

Background
 Mahasiswa dan Warga Sampang Nobar Film 'Pesta Babi'
Nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (Rossy/Salsa/)


salsabilafm.com - Mahasiswa dan warga Sampang, Madura, Jawa Timur, menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi, Jumat (15/5/2026) malam. Kegiatan yang dilaksanakan di halaman gedung Dekranasda Sampang ini tak hanya nobar, namun juga membedah film besutan Dhandy Dwi Laksono. 


Nobar yang digelar Pengurus Komisariat PMII Trunojoyo IAI Nata Sampang itu menjadi ruang diskusi kritis soal pembangunan, hak masyarakat adat, kerusakan lingkungan, hingga persoalan keadilan sosial di Papua.




Film yang mengangkat isu Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan tersebut dinilai sebagian kelompok masyarakat berdampak pada lingkungan hidup, hutan adat, serta ruang hidup masyarakat Papua. Isu itu memunculkan berbagai pandangan berbeda di tengah peserta diskusi.


Ketua Komisariat PK PMII Trunojoyo IAI NATA Sampang, Muhammad Faiz, mengatakan, nobar film Pesta Babi sengaja dibuka untuk umum. Tujuannya agar mahasiswa dan warga tak hanya memahami persoalan lokal, tetapi mampu melihat dinamika nasional secara lebih luas dan kritis.


"Bukan hanya mengetahui tentang Kabupaten Sampang saja, tetapi juga daerah di luar," ujarnya.




Menurut Faiz, salah satu pesan penting dalam film tersebut adalah kesadaran menjaga alam sebagai sumber kehidupan manusia. Dia menilai kerusakan lingkungan akan berdampak besar terhadap keberlangsungan hidup masyarakat.


"Kita harus mencintai alam, karena bagaimanapun juga alamlah yang memberikan kehidupan terhadap kita. Entah itu air, padi, dan sumber kehidupan lainnya. Kalau alam dirusak, otomatis dampaknya besar," katanya.




Dia menegaskan, kegiatan nobar di Sampang berlangsung aman dan tidak ada penolakan dari pihak mana pun. 


"Kalau penolakan, alhamdulillah tidak ada," ujarnya. 


Usai nobar, kegiatan dilanjutkan dengan bedah film. Para peserta mendiskusikan berbagai hal yang ada dalam film tersebut. Di antaranya kritik pembangunan, hak masyarakat adat Papua dan dampak proyek nasional terhadap masyarakat lokal.




Buchori, peserta asal Desa Pasean, menilai pembangunan tidak boleh dilakukan secara sepihak tanpa melibatkan masyarakat setempat. Menurut dia, masyarakat harus mendapatkan ruang dan memperoleh manfaat langsung dari proyek pembangunan. 


"Masyarakat tidak ingin hanya menjadi penonton di tanah sendiri," katanya. (Sie)