Dorong Industrialisasi Inklusif, Muhaimin Iskandar: Kita Harus Naik Kelas
Redaksi - Wednesday, 11 February 2026 | 05:47 AM


salsabilafm.com – Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menyerukan pentingnya percepatan industrialisasi yang bersifat inklusif sebagai strategi utama agar Indonesia mampu bertransformasi menjadi negara maju.
Seruan tersebut disampaikan Muhaimin dalam Stadium Generale bertema "Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas" di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (11/2/2026).
Di hadapan civitas academica ITB, Muhaimin menegaskan, Indonesia tidak boleh terus berada dalam posisi pertumbuhan setengah-setengah tanpa lompatan signifikan menuju kemajuan.
"Indonesia tidak bisa terus berada di level medioker. Kita harus naik kelas, bukan besok, tapi mulai sekarang dan untuk masa depan," tegasnya.
Cak Imin, sapaannya, menilai, selama lebih dari satu dekade Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi, namun belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi maju. Menurutnya, hal itu menunjukkan perlunya strategi pembangunan yang lebih progresif dan berani.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga mengapresiasi terbitnya buku karya Dhani Amrul Ichdan, Wakil Direktur Utama PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID), yang dieditori oleh Reda Manthovani, Jaksa Agung Muda Intelijen. Muhaimin menyebut karya tersebut sebagai contoh kolaborasi lintas sektor yang produktif dan visioner.
"Kolaborasi ini melahirkan pemikiran yang tajam, analitis, dan berani menawarkan solusi nyata bagi masa depan pembangunan Indonesia," ujarnya.
Muhaimin menekankan bahwa tidak ada negara maju yang hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Menurutnya, kunci kemajuan terletak pada industrialisasi yang diperkuat hilirisasi, penguasaan ilmu pengetahuan, serta pemanfaatan teknologi.
"Sumber daya alam itu terbatas. Negara maju lahir karena industrialisasi dan hilirisasi yang ditopang sains, teknologi, dan masyarakat yang berdaya," katanya.
Sebagai kerangka strategi, Muhaimin memperkenalkan konsep DAI, yakni Distinktif, Adaptif, dan Inklusif. Distinktif berarti membangun keunggulan khas nasional, adaptif berarti responsif terhadap perubahan global seperti transisi energi dan digitalisasi, sementara inklusif menekankan keterlibatan masyarakat dalam proses industrialisasi.
"Inklusif artinya masyarakat sekitar kawasan industri harus ikut terlibat dan merasakan manfaatnya. Industrialisasi tidak boleh hanya meninggalkan dampak, tapi harus meningkatkan kualitas hidup," jelasnya.
Ekonomi inklusif, kata Cak Imin, menjadi syarat utama agar pertumbuhan tidak memperlebar kesenjangan sosial, melainkan menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan.
"Industri harus menjadi alat pemberdayaan rakyat. Kalau masyarakat terlibat dan berdaya, maka Indonesia naik kelas bukan sekadar slogan, tetapi kenyataan," pungkas dia. (*)
Next News

Warga Pamekasan Diringkus Polisi di Sampang, Diduga Tipu Lansia Rp11 Juta
a day ago

2 Kades di Bangkalan Diperiksa KPK, Diduga Terkait Korupsi Dana Hibah Pokmas Jatim
a day ago

Kemenhaj Pamekasan Ingatkan Jamaah Haji Tidak Jualan Rokok di Tanah Suci
a day ago

Harga Air Minum Dalam Kemasan Melonjak Imbas Kenaikan Plastik
a day ago

Satgas MBG Larang Pengelola SPPG di Sampang Buang Limbah ke Lahan Pertanian
a day ago

Investigasi LPG 3 Kg, Pemkab Sampang: 7 Pangkalan Lakukan Pelanggaran
a day ago

Kemenhaj Sampang Pastikan Keberangkatan Jemaah Haji 2026 Tak Terimbas Konflik Timur Tengah
a day ago

Harga BBM Pesawat Melambung, Kemenhaj Sampang: Embarkasi Kita Turun Rp400 Ribu
a day ago

LPG 3 Kg di Pamekasan Langka, Pemkab Duga Akibat Ulah Oknum Pengecer
2 days ago

Nelayan Bangkalan Ditemukan Tewas, Tinggalkan Perahu Penuh Ikan
2 days ago




