Selasa, 12 Mei 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

BPBD Pamekasan Petakan Titik Potensi Rawan Kekeringan

Redaksi - Tuesday, 12 May 2026 | 07:02 AM

Background
 BPBD Pamekasan Petakan Titik Potensi Rawan Kekeringan
Ilustrasi kekeringan ( Istimewa/)

salsabilafm.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, melakukan pemetaan potensi rawan kekeringan dan kekurangan air bersih yang biasa terjadi di wilayah itu pada musim kemarau.


Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Pamekasan Akhmad Dhofir Rosidi, mengatakan, berdasarkan rilis yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibanding tahun 2025, sehingga bencana kekeringan dan kekurangan air bersih berpotensi lebih luas.


"Oleh karena itu, mulai hari ini kami menerjunkan tim untuk melakukan pemetaan daerah-daerah yang rawan kekeringan dan kekurangan air bersih," katanya, Senin (11/5/2026). 




Selain menerjunkan tim, BPBD Pamekasan juga berkoordinasi dengan para kepala desa yang tersebar di 13 kecamatan se-Kabupaten Pamekasan untuk meminta laporan tertulis tentang kondisi desa mereka.


"Di Pamekasan ini ada sebanyak 178 desa dan 11 kelurahan yang tersebar di 13 kecamatan se-Kabupaten Pamekasan. Kami meminta para aparat dan kepala desa proaktif menyampaikan laporan tentang kondisi desa mereka," katanya.




Dengan cara seperti itu, BPBD Pamekasan bisa melakukan tindakan cepat apabila di desa tersebut terjadi bencana kekeringan atau kekurangan air bersih.


Sementara itu, pada musim kemarau 2025, daerah terdampak kekeringan atau kekurangan air bersih tersebar di 11 kecamatan dari total 13 kecamatan yang ada di wilayah itu.


Ke-11 kecamatan itu meliputi Kecamatan Tlanakan, Pademawu, Galis, Proppo, Palengaan, Pegantenan, Larangan, Kadur, Waru, Batumarmar, dan Kecamatan Pasean.




Dari sebelas kecamatan itu, total jumlah desa yang mengalami kekeringan sebanyak 76 desa, sama dengan data tahun 2024 dengan jenis kekeringan berupa kering langka dan kering kritis.


Kering langka merupakan jenis kekeringan di mana masyarakat membutuhkan jarak antara 0,5 kilometer hingga 3 kilometer untuk mendapatkan air bersih.




Sedangkan kering kritis terjadi apabila jarak tempuh untuk mendapatkan air bersih lebih dari 3 kilometer.


"Untuk musim kemarau kali ini, perkiraan kami juga sama, atau bahkan bisa bertambah, mengingat berdasarkan prakiraan BMKG musim kemarau lebih lama dibanding 2025," pungkasnya. (*)