Sabtu, 9 Mei 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Ditemukan Sejak 2016, Situs Adan-Adan Kediri Diduga Lebih Besar dari Candi Borobudur

Redaksi - Saturday, 09 May 2026 | 07:13 AM

Background
 Ditemukan Sejak 2016, Situs Adan-Adan Kediri Diduga Lebih Besar dari Candi Borobudur
Situs Adan Adan di Gurah, Kediri ( Istimewa/)

salsabilafm.com - Foto dan video penampakan struktur percandian di Situs Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, yang ramai beredar di media sosial dipastikan bukan dokumentasi penemuan baru. Gambar tersebut merupakan dokumentasi lama saat proses ekskavasi pada 2022.


Video yang diunggah akun media sosial 

'Mojokertoan' itu memunculkan berbagai spekulasi publik terkait dugaan keberadaan candi besar di kawasan tersebut. Dalam video tampak sejumlah struktur batu, arca, hingga makara berukuran besar.




Dilansir dari detikjatim, Juru Pelihara Situs Adan-Adan, Ikhwan, menjelaskan, foto-foto dalam video tersebut merupakan dokumentasi saat tim arkeologi melakukan ekskavasi beberapa tahun lalu.


"Itu foto-foto lama waktu ekskavasi tahun 2022," jelasnya, Kamis (7/5/2026).


Dia mengatakan, Situs Adan-Adan memang mulai diteliti sejak ditemukan pada 2016 dan ekskavasi dilakukan secara bertahap hampir setiap tahun oleh tim arkeologi nasional. Dari hasil penelitian sementara, situs tersebut diduga merupakan kompleks candi Buddha yang berasal dari abad ke-9 hingga ke-11.




Berbagai temuan telah ditemukan di lokasi, mulai dari kepala arca Buddha, fragmen stupa, kepala kala, Dwarapala, hingga makara berukuran besar yang menjadi perhatian publik.


Menurut Ikhwan, ukuran makara di Situs Adan-Adan bahkan sempat disebut lebih besar dibanding yang ada di Candi Borobudur. Hal itu memunculkan dugaan bahwa kompleks percandian di kawasan tersebut memiliki ukuran yang sangat besar.




"Biasanya ukuran makara itu menunjukkan besarnya bangunan candi. Makanya muncul anggapan kalau candinya bisa jadi sangat besar," kata Ikhwan. 


Situs Adan-Adan sebenarnya sudah menjadi perhatian arkeolog nasional sejak ditemukan pada tahun 2016. Ekskavasi dilakukan secara bertahap hampir setiap tahun. Berdasarkan hasil penelitian sementara, situs ini merupakan kompleks candi Buddha yang dibangun antara abad ke-9 hingga ke-11 Masehi.


Dugaan sebagai kompleks Buddha diperkuat dengan temuan kepala arca Buddha dan fragmen stupa di beberapa titik penggalian pada tahun 2020.




Salah satu daya tarik utama situs ini adalah keberadaan Makara (hiasan tangga candi) berukuran sangat besar. Bahkan, ukurannya disebut-sebut melampaui Makara yang ada di Candi Borobudur.


"Biasanya ukuran makara itu menunjukkan besarnya bangunan candi. Makanya muncul anggapan kalau candinya bisa jadi sangat besar. Bahkan ada yang menyebut makara di sini termasuk yang terbesar di Asia Tenggara," jelas Ikhwan.




Meskipun belum dibuka sepenuhnya, Ikhwan menjelaskan, situs ini memiliki pola mandala. Dari 48 titik ekskavasi yang telah dilakukan, terlihat adanya bangunan inti di tengah yang dikelilingi teras-teras luar. Adapun bangunan inti diperkirakan berukuran 21 meter. Sedangkan total kawasan mencapai sekitar 800 meter per segi.


Tim arkeolog juga menemukan bagian puncak stupa yang terkubur jauh di bawah tanah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa bangunan candi tersebut pernah roboh pada masa lampau.


Diduga kuat, kerusakan masif tersebut dipicu oleh aktivitas vulkanik Gunung Kelud atau bencana alam lainnya. Selain itu, ditemukan pula beberapa arca dalam kondisi belum selesai dikerjakan, yang mengisyaratkan bahwa pembangunan candi ini terhenti sebelum rampung total.




Sebagian artefak penting dari Situs Adan-Adan kini tidak lagi berada di lokasi. Salah satunya adalah arca penjaga atau Dwarapala. Sepasang arca ini terpisah; satu masih di situs, sementara pasangannya telah tersimpan di Museum Airlangga, Kota Kediri, sejak zaman kolonial Belanda.


Saat ini, Situs Adan-Adan masih dalam pengawasan juru pelihara dan pihak terkait guna menjaga keamanan aset sejarah tersebut dari penjarahan maupun kerusakan lebih lanjut. (*)