Selasa, 23 Juni 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Asam Jawa di Republik Sapudi

Redaksi - Tuesday, 23 June 2026 | 12:45 PM

Background
Asam Jawa di Republik Sapudi
Pohon asam Jawa di Pulau Sapudi (Pietwidiadi untuk salsabilafm/)

Oleh: Pietra Widiadi


Luas Pulau Sapudi, sekitar 130-kilometer persegi (km²). Pulau ini, terletak di selat Madura sisi dan timur Pulau Madura yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Secara administratif, pulau ini terbagi menjadi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Gayam yang terletak di bagian selatan pulau dan Kecamatan Nonggunong yang Terletak di bagian utara pulau. Pulau Sapudi merupakan salah satu pulau terbesar kedua di antara gugusan pulau di Madura setelah Pulau Kangean. 


Pulau ini juga sangat terkenal sebagai pusat peternakan sapi Madura yang berkualitas tinggi. Sapudi, merupakan sentra Sapi dengan kepadatan populasi tertinggi di Madura. Kepadatan populasinya mencapai sekitar 175 ekor sapi per kilometer persegi. Sapi dari Sapudi memiliki kualitas kulit yang tinggi. Kulit sapi dari pulau ini bahkan diminati oleh pengrajin produk kulit premium di luar negeri. Dari Gambaran ini, bisa dipastikan bahwa Pulau ini menjadi tempat pembiakan bibit unggul Sapi lokal, dan merupakan sapi yang terkenal memiliki kemampuan berlari yang sangat cepat. 



Truk mengangkut ratusan balok pohon asam Jawa di Pulau Sapudi. (Foto: Pietwidiadi untuk salsabilafm)

Selain itu, dalam kawasan laut dangkal merupakan ekosistem Padang Lamun. Ekosistem ini menjadi rumah bagi terumbu karang dan tempat mencari makan ikan-ikan kecil. Produksi ikan melimpah, dan menjadi salah satu tumpuan mata pencaharian Masyarakat pesisir pulau, meski panen ikan hanya akan diperoleh pada bulan-bulan tertentu. Dalam hamparan pesisir yang terbuka, mangrove tumbuh dengan cukup bagus, dan menjadi pelindung daratan dari ancaman abarasi dan erosi. Selain itu punya kapasitas besar menyerap karbon. 


Kapasitas menyerap karbon dari mangrove yang sangat tinggi adalah aset besar masa depan. Selain mangrove beberapa pohon perkebunan merupakan aset yang dikembangkan untuk kepentingan meningkatakan pendapatan dan fungsi konservasi sumber daya alam. Dua pohon yang memiliki kapasitas besar sebagai pelindung air, atau konservasi air adalah Asem dan Sukun. Selain tanaman lain yang berkembang seperti jati jawa, sawo kecil, yampung, dan johar.


Hancurnya asam Jawa yang Manis




Dari sekian banyak pohon pelindung air yang cukup fenomenal adalah sukun dan asem. Khususnya pohon asam (asam Jawa) dikenal memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menyerap dan menyimpan air tanah. Sistem perakarannya yang kuat membantu menjaga cadangan air di dalam tanah dan mencegah erosi, menjadikannya pohon pelindung yang sangat efektif. Hal ini bisa diterima karena asam memiliki karakteristik Penyerap Air Tanah yang Baik. Akar Asam mengikat dan menyimpan air bawah tanah dalam jumlah besar, sehingga tanah di sekitarnya tetap lembab dan subur. Karena mampu ,menyimpan dan menyerap air, pohon ini juga sangat tahan terhadap cuaca panas. Sebagai bagian dari tanaman konservasi, secara ekologi juga membantu menahan longsor.


Meskipun pohon asam merupakan salah satu aset ekologis penting di Pulau Sapudi, keberadaannya saat ini menghadapi tekanan yang cukup serius. Pohon-pohon asam yang tumbuh di lahan milik masyarakat banyak ditebang dan dijual sebagai bahan baku arang karena memiliki nilai ekonomi yang cepat dan mudah diperoleh. Kondisi ini menyebabkan jumlah pohon asam terus berkurang, padahal pohon tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, meningkatkan resapan air, mengurangi erosi, serta menjadi sumber pendapatan musiman bagi masyarakat melalui hasil buahnya. Berkurangnya tegakan pohon asam secara perlahan juga berpotensi memperbesar kerentanan desa terhadap krisis air yang mulai dirasakan masyarakat.




Di sisi lain, pohon asam yang tumbuh di sepanjang jalan relatif lebih terlindungi karena berada dalam pengawasan pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya. Namun perlindungan tersebut belum mampu mengimbangi laju penebangan yang terjadi pada lahan-lahan milik warga. Aktivitas pengangkutan kayu asam keluar Pulau Sapudi juga berlangsung relatif mudah karena didukung akses transportasi laut melalui jalur penyeberangan Sapudi–Jangkar–Asembagus, Situbondo. Sebagian besar kayu tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku industri arang di wilayah Situbondo dan sekitarnya. Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa upaya konservasi dan penanaman kembali, maka masyarakat tidak hanya kehilangan salah satu aset ekologis penting pulau, tetapi juga kehilangan sumber penghidupan jangka panjang yang selama ini menjadi bagian dari sistem ekonomi dan lingkungan lokal.


Berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah satu tokoh masyarakat di Pulau Sapudi, setiap minggu sedikitnya tiga truk ganda dengan kapasitas sekitar enam ton per truk mengangkut kayu keluar dari pulau untuk memenuhi kebutuhan industri arang. Jika informasi ini mencerminkan kondisi yang berlangsung secara terus-menerus, maka tekanan terhadap tegakan pohon asam dan vegetasi pohon lainnya dapat dikategorikan sangat tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan adanya pemanfaatan sumber daya kayu yang berpotensi melampaui kemampuan regenerasi alami, sehingga dalam jangka panjang dapat mempercepat degradasi tutupan vegetasi, mengurangi fungsi daerah resapan air, serta memperburuk krisis air yang mulai dirasakan masyarakat.

 

Praktik pemanfaatan kayu sebagai bahan baku arang di Pulau Sapudi perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi mengancam keberlanjutan sumber daya alam dan ketahanan air pulau dalam jangka panjang. Piperlukan penguatan pengawasan, pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat, serta program konservasi dan penanaman kembali pohon-pohon lokal seperti asam dan randu yang berfungsi sebagai penyimpan air. Upaya tersebut penting untuk memastikan bahwa kebutuhan ekonomi masyarakat tetap dapat terpenuhi tanpa mengorbankan fungsi ekologis yang menjadi penopang utama kehidupan dan penghidupan masyarakat Sapudi.




Sukun sang superfood


Selain asam, juga berkembang sangat baik adalah Sukun. Buah sukun saat ini dikenal sebagai superfood karena memiliki kandungan nutrisi yang sangat lengkap, ramah kesehatan, dan menjadi solusi andalan untuk ketahanan pangan masa depan. Sukun merupakan Nutrisi Unggul dan Padat, dan Bebas Gluten (Gluten-Free) sehingga aman dikonsumsi oleh orang yang sensitif terhadap gluten atau penderita penyakit celiac. Tepung sukun kini populer sebagai pengganti tepung gandum. Serta kaya karbohidrat kompleks, sehingga merupakan pasokan energi yang stabil dan tahan lama, sehingga sangat baik menjadi alternatif pengganti nasi, kentang, atau gandum. 




Sukun merupakan salah satu pangan lokal yang memiliki nilai gizi tinggi dan berpotensi menjadi sumber pangan sehat bagi masyarakat. Kandungan seratnya yang tinggi sangat baik untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan, membantu memperlancar metabolisme tubuh, serta memberikan rasa kenyang lebih lama. Selain itu, sukun juga mengandung protein yang dilengkapi asam amino esensial, yaitu komponen penting yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh sehingga harus diperoleh dari makanan. Kandungan ini menjadikan sukun tidak hanya sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga sebagai pangan yang mendukung kebutuhan nutrisi harian masyarakat.


Dari sisi kesehatan, sukun memiliki berbagai manfaat yang penting untuk pencegahan penyakit tidak menular. Karbohidrat dalam sukun dicerna secara lebih bertahap sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis setelah dikonsumsi, sehingga baik untuk membantu mengendalikan kadar gula darah dan mengurangi risiko diabetes. Selain itu, kandungan kalium yang cukup tinggi berperan dalam menjaga keseimbangan tekanan darah, mendukung fungsi otot dan saraf, serta membantu menjaga kesehatan jantung. Dengan berbagai keunggulan tersebut, sukun layak dikembangkan sebagai pangan lokal yang tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.


Pohon sukun merupakan tanaman yang sangat tangguh karena mampu tumbuh dengan baik di wilayah tropis yang relatif kering, tahan terhadap perubahan iklim, dan tidak memerlukan perawatan yang rumit. Selain memiliki manfaat ekologis sebagai peneduh dan pelindung tanah, sukun juga menjadi sumber pangan yang sangat potensial karena satu pohon dapat menghasilkan banyak buah setiap tahun. Bahkan, satu buah sukun berukuran besar dapat menjadi sumber makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga, sehingga menjadikannya tanaman yang penting untuk mendukung ketahanan pangan dan ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim.




Makin dibiarkan, hanculah sudah


Pulau Sapudi tidak seharusnya dipandang melalui gambaran umum Madura sebagai wilayah yang kering dan miskin sumber pangan. Sapudi adalah pulau yang memiliki aset alam yang kaya, didukung oleh laut, peternakan, serta vegetasi lokal seperti asam, sukun, dan berbagai tanaman perkebunan yang berperan penting menjaga ketersediaan air, pangan, dan keseimbangan lingkungan. Pohon-pohon tersebut bukan sekadar tanaman, melainkan kekuatan utama yang menopang ketahanan ekologis dan kehidupan masyarakat Pulau Sapudi.




Kerusakan lingkungan di Pulau Sapudi tidak hanya terjadi akibat penebangan pohon secara langsung, termasuk vegetasi pelindung dan mangrove, tetapi juga melalui pola penanaman yang kurang memperhatikan keseimbangan ekologi. Pengembangan tanaman cepat tumbuh seperti sengon, jabon, waru, dan jenis sejenisnya tanpa perencanaan yang tepat berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air karena kebutuhan airnya yang relatif tinggi. Maka upaya konservasi perlu diarahkan tidak hanya pada menghentikan kerusakan, tetapi juga memastikan pemilihan jenis tanaman yang mampu menjaga fungsi lingkungan dan ketahanan sumber daya air pulau dalam jangka panjang. (*)