2.000 Petambak Garam Tersebar di Sampang, Hanya 40 Orang yang Terima Bantuan
Ach. Mukrim - Wednesday, 24 June 2026 | 06:44 AM


salsabilafm.com - Bantuan peningkatan produktivitas bagi petambak garam di Kabupaten Sampang pada tahun ini masih jauh dari merata. Sebab, dari sekitar 2.000 petambak garam yang tersebar di sejumlah kecamatan, hanya puluhan orang yang tercatat menerima bantuan dari pemerintah.
Kepala Bidang Perikanan Budi Daya Dinas Perikanan (Diskan) Sampang Moh. Mahfud mengatakan, bantuan yang disalurkan tahun ini berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Sampang. Selain bantuan alat, petambak juga mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan usaha garam.
Mahfud menjelaskan, Pemprov Jatim memberikan bantuan berupa kereta dorong (artco) yang disalurkan bersamaan dengan pelatihan bagi petambak. Namun, program tersebut hanya menyasar 40 petambak garam di Kecamatan Sampang dan Kecamatan Pangarengan.
"Pekan lalu petambak mengikuti pelatihan sekaligus menerima bantuan," ujarnya, Rabu (24/6/2026).
Dia memaparkan, sasaran program dibatasi pada wilayah yang dekat dengan pusat kegiatan karena pelatihan tersebut tidak menyediakan biaya transportasi bagi peserta.
"Karena tidak ada uang transportasi, peserta diprioritaskan dari wilayah kota," paparnya.
Dia mengungkapkan, selain bantuan dari pemerintah provinsi, Diskan Sampang juga mengalokasikan anggaran sekitar Rp10 juta untuk program peningkatan produktivitas garam. Bantuan yang akan diberikan berupa alat sanitasi untuk mengukur tingkat kejenuhan air garam dalam proses produksi.
Meski demikian, bantuan dari pemerintah daerah tersebut juga hanya akan diterima oleh sekitar 25 petambak. Hingga kini, calon penerima bantuan masih dalam tahap penentuan berdasarkan rekomendasi penyuluh perikanan.
Mahfud mengakui jumlah penerima bantuan masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan total petambak garam di Kabupaten Sampang yang mencapai sekitar 2.000 orang. Kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan anggaran yang dimiliki pemerintah daerah.
"Memang belum bisa menjangkau seluruh petambak, hanya sekitar 25 orang," ungkapnya.
Sementara itu, Zubaidah petambak garam asal Desa Polagan, Kecamatan Sampang, mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah selama menekuni usaha produksi garam. Seluruh kebutuhan sarana dan prasarana produksi selama ini dipenuhi dengan biaya pribadi.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup memberatkan, terutama ketika harga garam mengalami penurunan. "Selama ini beli sendiri kebutuhan produksi. Harga garam turun dan kami tidak pernah dapat bantuan," keluhnya. (Mukrim)
Next News

Desa Terdampak Kekeringan di Pamekasan Diprediksi Bertambah, BPBD: Tunggu SK dari Bupati
a day ago

Sempat Hilang Dicuri Maling, Motor Milik Warga Pamekasan Akhirnya Kembali
a day ago

Kecam Pelecehan Seksual terhadap Anak, KOPRI PMII Sampang Desak Pelaku Dihukum Berat
a day ago

SPBU Arahkan Pengguna Jeriken Urus Rekomendasi, Disperta KP: Kalau Diperjualbelikan Kembali Kami Tolak
a day ago

Dinsos PPA Sampang Dampingi Korban Rudapaksa 27 Orang, Pastikan Hak Pendidikan Terpenuhi
a day ago

Pemkab Sampang Tunggu Petunjuk ESDM Jatim Tangani Sumur Bor Diduga Mengandung Gas
a day ago

Kantor Imigrasi Pamekasan Deportasi 5 WNA Asal Malaysia dan Pakistan
20 hours ago

Lahan Tembakau di Pamekasan Dirusak OTK, Petani Rugi Rp6,5 Juta
20 hours ago

Desak Polisi Tangkap 27 Pelaku Rudapaksa Anak, DPRD Sampang: Itu Tindakan Biadab
20 hours ago

Gerakan Indonesia Asri 2026 Diluncurkan di Sampang, Dorong Lingkungan Bersih dan Berkelanjutan
2 days ago





