Jumat, 27 Maret 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Tellasan Topak: Simbol Kerukunan dan Rasa Syukur Warga Madura

Ach. Mukrim - Friday, 27 March 2026 | 07:49 AM

Background
Tellasan Topak: Simbol Kerukunan dan Rasa Syukur Warga Madura
Penjual Ketupat di Pasar Srimangunan Sampang. (Mukrim/Salsa/)

salsabilafm.com - Pemerintah Kabupaten Sampang melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) menekankan pentingnya pelestarian tradisi 'Tellasan Topak' atau Lebaran Ketupat sebagai identitas budaya lokal yang kuat di wilayah Madura.


Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disporabudpar Sampang, Abdul Basith, menyatakan bahwa tradisi yang dirayakan setiap 8 Syawal ini bukan sekadar perayaan makan ketupat bersama, melainkan simbol kerukunan dan rasa syukur masyarakat.


"Tellasan Topak adalah simbol kebersamaan masyarakat Sampang. Tradisi ini memperkuat tali persaudaraan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa dan dilanjutkan puasa sunnah Syawal," katanya, Jum'at (27/3/2026).




Dia menjelaskan, nilai filosofis dari ketupat yang melambangkan pengakuan kesalahan dan permohonan maaf menjadi pondasi sosial bagi warga Sampang dalam menjaga harmoni antar-tetangga.


Menurutnya, perayaan Lebaran Ketupat di Sampang tahun ini terpantau meriah dengan konsentrasi massa di sejumlah titik wisata ikonik, seperti Pantai Camplong dan Air Terjun Toroan. Selain itu, kegiatan religius berupa doa bersama di masjid dan musala tetap menjadi inti dari perayaan ini sebelum warga melakukan santap bersama.




"Dan nanti ada Parade Daol Combo atau yang kenal sebagai Duareh Aremuh E Sampang," ucapnya.


Basith menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mengawal tradisi ini agar tetap relevan di tengah modernisasi, sekaligus menjadikannya daya tarik wisata budaya bagi Kabupaten Sampang.


"Kami ingin memastikan warisan leluhur ini tetap hidup dan dipahami oleh generasi muda sebagai bagian dari jati diri mereka," ucapnya.




Seorang budayawan Madura, Halifaturrahman mengatakan, tradisi ini bermula sebagai simbol perayaan usai melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Menurutnya, ketupat bukan sekadar hidangan, melainkan media dakwah para ulama terdahulu untuk menanamkan nilai-nilai Islam dan simbol kembalinya fitrah manusia melalui filosofi ngaku lepat atau mengakui kesalahan.


Namun, pihaknya menyoroti adanya pergeseran budaya yang signifikan, terutama di kalangan generasi muda. Dia menilai esensi kebersamaan mulai tergerus oleh gaya hidup instan. Padahal, menurutnya, proses pembuatan ketupat dahulu menjadi ajang kreativitas dan kebersamaan keluarga, seperti tradisi menganyam ketupat berbentuk hewan untuk anak-anak.




"Sekarang masyarakat lebih cenderung memilih cara instan dengan membeli ketupat siap saji," katanya.


Selain pola konsumsi, dia juga mengkritisi fenomena perayaan yang kini lebih identik dengan keramaian di destinasi wisata pantai. Meski berdampak positif pada ekonomi pariwisata, dia khawatir gegap gempita seremonial tersebut justru mengaburkan nilai sakral dan silaturahmi mendalam antar-tetangga.


Menanggapi tantangan era digital, ia menekankan pentingnya sosialisasi masif mengenai makna filosofis ketupat agar tidak sekadar menjadi hiburan visual.




"Kami mengajak generasi muda, khususnya di wilayah Pamekasan dan sekitarnya, untuk kembali memaknai Lebaran Ketupat sebagai momentum saling memaafkan dan mempererat kerukunan sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun," pungkasnya. (Mukrim)