Sejarah Singkat: Kenapa Masa Lalu Itu Nggak Pernah Benar-Benar Lewat
Redaksi - Tuesday, 17 February 2026 | 08:00 AM


Sejarah Singkat: Kenapa Masa Lalu Itu Nggak Pernah Benar-Benar Lewat
Ingat nggak sih, dulu pas zaman sekolah, pelajaran sejarah sering banget dapet predikat sebagai jam pelajaran paling pas buat tidur siang? Gurunya jelasin tentang tahun-tahun yang angkanya ribet, nama-nama raja yang lidah kita susah nyebutnya, sampai daftar perjanjian yang isinya poin satu sampai sepuluh. Rasanya kayak disuruh hafalin katalog belanja swalayan tapi nggak ada diskonnya. Bosenin parah.
Tapi jujurly, makin ke sini, saya ngerasa kalau sejarah itu sebenarnya bukan soal angka atau tanggal yang kaku. Sejarah itu aslinya adalah kumpulan gosip, drama, dan plot twist orang-orang zaman dulu yang level keruwetannya jauh melampaui thread viral di Twitter atau X. Kalau kita mau ngomongin sejarah singkat tentang perjalanan manusia, sebenarnya kita lagi ngomongin tentang betapa hoki-nya spesies kita bisa survive sampai detik ini di tengah segala kekacauan yang ada.
Bayangin aja, sejarah itu kayak jejak digital yang nggak bakal bisa dihapus. Bedanya, kalau jejak digital kita cuma mentok di postingan alay zaman Facebook tahun 2012, sejarah dunia itu nyatanya lebih gila. Ada masanya manusia itu cuma sekumpulan makhluk yang kerjaannya lari-lari ngejar hewan buruan, terus tiba-tiba ada yang iseng nanam biji buah dan mikir, "Eh, kok tumbuh ya? Kenapa kita nggak diem di sini aja?". Boom! Lahirlah peradaban agraris. Sesimpel itu awalnya, tapi efek dominonya bikin kita sekarang harus pusing mikirin cicilan KPR dan meeting Zoom setiap pagi.
Kenapa Kita Suka Banget Sama Yang Namanya 'Sejarah Singkat'?
Di era yang serba sat-set ini, orang makin males baca buku sejarah setebal bantal yang beratnya bisa buat ganjel pintu. Kita lebih suka konten "Sejarah Singkat 5 Menit" atau video dokumenter pendek di YouTube yang ngerangkum ribuan tahun jadi beberapa menit doang. Kenapa? Karena pada dasarnya otak kita itu suka pola. Kita pengen tahu gimana caranya kakek moyang kita yang dulunya cuma pakai batu buat motong daging, bisa berevolusi jadi manusia yang bikin kecerdasan buatan atau AI.
Tapi ada sisi gelapnya juga sih dari "Sejarah Singkat" ini. Seringkali, karena pengen singkat, banyak detail yang akhirnya di-skip. Padahal, bumbu-bumbu paling sedap dalam sejarah itu ada di detail-detail kecilnya. Misalnya, tahukah kamu kalau Perang Dunia I itu meletus gara-gara sopir salah belok? Gara-gara salah belok itu, Archduke Franz Ferdinand jadi sasaran empuk penembakan, dan dunianya langsung gonjang-ganjing. Kalau sopirnya pakai Google Maps atau minimal tanya jalan ke warga sekitar, mungkin sejarah kita bakal beda banget sekarang.
Hal-hal receh kayak gini yang bikin sejarah jadi terasa lebih manusiawi. Sejarah bukan cuma soal pahlawan yang selalu bener atau penjahat yang selalu salah. Isinya adalah orang-orang biasa yang kebetulan ada di waktu dan tempat yang salah (atau benar), terus bikin keputusan yang dampaknya kerasa sampai ratusan tahun kemudian. It's all about choices, luck, and sometimes, pure stupidity.
Sejarah Lokal: Dari Kerajaan Sampai Warung Kopi
Kalau kita geser dikit ke sejarah singkat negara kita sendiri, Indonesia, ceritanya nggak kalah seru. Kita sering banget dicekokin narasi kalau kita dijajah 350 tahun. Padahal kalau ditelisik lebih dalam, narasi itu sebenarnya lebih ke arah narasi perjuangan buat ngebakar semangat nasionalisme. Kenyataannya? Ya nggak se-linear itu juga. Ada drama antar kerajaan, ada politik adu domba yang lebih licin dari oli, sampai urusan rempah-rempah yang harganya dulu lebih mahal dari emas.
Lucunya, sejarah singkat kita seringkali cuma fokus ke Jakarta-sentris atau Jawa-sentris. Padahal di pelosok-pelosok Nusantara lainnya, ada ribuan sejarah singkat yang nggak kalah epik tapi jarang masuk buku LKS. Kayak gimana perkembangan budaya kopi yang dulunya dibawa penjajah biar kita kerja paksa, eh sekarang malah jadi gaya hidup anak senja yang hobi curhat di kafe-kafe estetik. Itu kan sejarah juga, cuma versinya lebih ringan dan beraroma kafein.
Menurut opini saya yang mungkin agak sotoy ini, sejarah itu sebenarnya adalah cermin. Kita belajar masa lalu bukan biar pinter hafalin tahun, tapi biar kita nggak bego-bego amat ngulangin kesalahan yang sama. Tapi ya namanya juga manusia, kita ini makhluk yang hobi banget ngulang kesalahan. Udah tahu perang itu nggak enak, eh tetep aja ada yang hobi ribut soal perbatasan atau ideologi. Udah tahu dulu ada krisis ekonomi, eh pola konsumsinya tetep nggak dijaga. Ya begitulah, sejarah berulang karena manusianya emang susah belajar.
Menulis Sejarah Kita Sendiri
Nah, sekarang pertanyaannya, gimana dengan sejarah singkat diri kita sendiri? Di masa depan, anak cucu kita mungkin nggak bakal baca buku sejarah buat tahu soal kita. Mereka bakal nge-scroll archive Instagram atau TikTok kita. Mereka bakal ngelihat gimana susahnya kita survive pas pandemi, gimana hebohnya kita pas nonton konser, atau gimana random-nya meme-meme yang kita ketawain tiap hari.
Sejarah itu terus berjalan. Apa yang kita lakuin hari ini—mulai dari pilihan politik, gaya hidup, sampai cara kita memperlakukan bumi—bakal jadi materi "Sejarah Singkat" buat generasi mendatang. Jadi, mendingan kita bikin sejarah yang rada keren dikit lah ya. Jangan sampai nanti di buku sejarah masa depan, generasi kita cuma dikenal sebagai "Generasi yang Hobi Scroll Video Kucing Sampai Lupa Tidur". Walaupun ya, nggak salah juga sih, kucing emang lucu.
Kesimpulannya, sejarah itu seru kalau kita nggak ngelihatnya sebagai beban hafalan. Anggap aja lagi dengerin cerita dari kakek yang lagi ngopi, yang ceritanya kadang dilebay-lebayin tapi ada benernya juga. Sejarah itu hidup, bernapas, dan ada di sekitar kita. Jadi, jangan malas buat nengok ke belakang sesekali, asal jangan kelamaan nengoknya, ntar leher pegel dan malah nggak bisa maju ke depan. Stay curious, guys!
Next News

Selfie Dulu Baru Hidup
17 hours ago

FOMO, Scroll, Lelah: Siklus Setan Anak Internet
16 hours ago

Menjadi Turis di Negeri Sendiri
16 hours ago

Belajar Lewat Game: Efektif atau Cuma Gimmick
16 hours ago

Cerita Rakyat Indonesia: Antara Dongeng Moral dan Plot Absurd
16 hours ago

Hobi Receh yang Ternyata Bisa Jadi Cuan
17 hours ago

Yang Lo Lihat Belum Tentu Nyata
17 hours ago

Cara Tahu Orang Lagi Nggak Nyaman Tanpa Dia Bilang
17 hours ago

Psikologi Warna
18 hours ago

Otak: CEO Tubuh yang Kerjanya Gila-Gilaan Tapi Jarang Dihargai
18 hours ago





