Rabu, 18 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Menjadi Turis di Negeri Sendiri

Redaksi - Tuesday, 17 February 2026 | 10:00 AM

Background
Menjadi Turis di Negeri Sendiri
Menjadi Turis di Negeri Sendiri ( Istimewa/)

Wisata Lokal: Seni Mencintai Negeri Sendiri Tanpa Harus Bikin Kantong Menjerit

Pernah nggak sih kamu merasa iri maksimal pas lagi scrolling Instagram, terus melihat teman SMA kamu tiba-tiba posting foto lagi berpose di depan Menara Eiffel atau lagi lari-lari estetik di pinggiran jalanan Tokyo? Jujur aja, dalam hati pasti ada sedikit bisikan, "Kapan ya gue bisa ke sana?" Tapi begitu melirik saldo di m-banking yang isinya lebih mirip angka harapan hidup daripada modal liburan, niat itu langsung ciut seketika. Akhirnya, kita kembali ke realita: rebahan, makan seblak, dan lanjut scrolling lagi.

Tapi tunggu dulu. Belakangan ini ada pergeseran tren yang cukup menarik. Kalau dulu keren itu diukur dari seberapa jauh stempel paspor kamu, sekarang orang-orang mulai sadar kalau "harta karun" itu sebenarnya ada di depan mata. Istilah "healing" yang makin ke sini makin sering dipakai (meski kadang cuma buat alasan bolos kerja) pelan-pelan pindah haluan ke arah wisata lokal. Kita nggak perlu terbang sepuluh jam buat cari ketenangan, kadang cuma butuh naik motor dua jam ke arah pegunungan atau pantai tersembunyi di kabupaten sebelah.

Bukan Sekadar Healing, Tapi Menemukan Jati Diri (Eaa)

Wisata lokal itu punya rasa yang beda. Ada semacam keakraban yang nggak bakal kamu temukan di luar negeri. Di sini, kamu nggak perlu pusing mikirin bahasa atau takut salah pesan makanan yang isinya ternyata aneh-aneh. Kamu bisa ngobrol santai sama penjual kopi di pinggir jalan, nanya jalan tanpa rasa canggung, sampai dapet diskon dadakan cuma karena kamu bisa basa-basi pakai bahasa daerah setempat. Ini yang saya sebut sebagai kenyamanan hakiki.

Tren wisata lokal ini juga dipicu oleh media sosial. Sekarang, setiap sudut Indonesia rasanya punya potensi buat jadi viral. Mulai dari curug tersembunyi di Jawa Barat, desa wisata di Jawa Tengah yang suasananya mirip pedesaan di Swiss (kalau dilihat dari sudut tertentu dan pakai filter yang pas), sampai pantai-pantai di Indonesia Timur yang airnya lebih bening daripada masa depan saya. Kelebihan wisata lokal adalah aksesibilitasnya. Kamu nggak butuh visa, nggak butuh tes kesehatan yang ribet, dan yang paling penting: nggak perlu tukar mata uang yang kursnya bikin pusing tujuh keliling.

Jebakan Batman "Hidden Gem" dan Realita Lapangan

Ngomongin wisata lokal nggak lengkap kalau nggak bahas istilah "Hidden Gem". Istilah ini kayak pisau bermata dua. Di satu sisi, kita seneng banget nemuin tempat yang belum banyak orang tahu. Rasanya kayak nemuin harta karun peninggalan kerajaan kuno. Tapi di sisi lain, begitu satu konten TikTok masuk fyp (for your page), dalam sekejap "Hidden Gem" itu berubah jadi "Pasar Malam".

Saya pernah punya pengalaman, niat hati mau cari ketenangan di sebuah hutan pinus yang katanya masih sepi. Di bayangan saya, saya bakal duduk tenang sambil baca buku dengan latar belakang suara burung berkicau. Realitanya? Begitu sampai sana, saya harus antre buat foto di atas ayunan kayu, dan suara burung yang saya harapkan kalah telak sama suara sound sistem dari rombongan ibu-ibu senam yang lagi piknik. Kesal? Dikit. Tapi ya itulah dinamika wisata lokal. Ada keramaian yang sebenarnya menunjukkan kalau ekonomi di daerah itu lagi bergerak. Tukang parkir jadi punya penghasilan, warung nasi laku keras, dan warga sekitar jadi punya semangat baru buat ngerawat desanya.

Kenapa Dompet Kita Harus Berterima Kasih pada Wisata Lokal?

Mari kita bicara jujur soal finansial. Liburan ke luar negeri itu investasi emosional yang mahal. Kadang kita pulang liburan bukan malah seger, tapi malah pusing mikirin cicilan kartu kredit. Nah, wisata lokal hadir sebagai penyelamat kesehatan mental dan finansial sekaligus. Dengan budget yang sama untuk beli tiket pesawat ke Singapura, kamu mungkin sudah bisa hidup kayak raja di penginapan estetik di pinggiran Yogyakarta atau Malang selama seminggu penuh.

Selain itu, ada kepuasan tersendiri saat kita tahu uang yang kita keluarkan itu langsung masuk ke kantong masyarakat lokal. Beli kerajinan tangan langsung dari pengrajinnya, makan gudeg di tenda pinggir jalan, atau menyewa jasa guide lokal buat tracking ke puncak bukit. Uang itu berputar di sana, membantu anak-anak sekolah, atau memperbaiki fasilitas desa. Ada rasa "berkontribusi" yang bikin perjalanan kita jadi lebih bermakna daripada sekadar belanja barang branded di mall luar negeri.

Mengubah Mindset: Dari Turis Menjadi Penjelajah

Masalah utama sebagian besar dari kita adalah mindset. Kadang kita merasa wisata lokal itu "kurang bergengsi". Kita lebih bangga upload foto di depan Menara Pisa yang miring daripada di depan Candi Borobudur yang megahnya luar biasa. Padahal, turis asing rela menabung bertahun-tahun cuma buat datang ke Bali atau Labuan Bajo. Kita yang jaraknya cuma selemparan batu malah sering meremehkan.

Menjelajah wisata lokal itu butuh perspektif baru. Jangan cuma datang, foto, terus pulang. Coba deh sesekali nginep di homestay daripada di hotel berbintang. Rasakan gimana bangun pagi dengan suara ayam berkokok, sarapan nasi uduk atau bubur yang dimasak langsung oleh pemilik rumah, dan mendengar cerita-cerita legenda lokal yang nggak ada di Google. Di situlah letak petualangan yang sebenarnya. Kamu nggak cuma dapet konten buat Instagram, tapi juga dapet cerita buat anak cucu nanti.

Wisata lokal adalah tentang menemukan kembali keajaiban di hal-hal yang selama ini kita anggap biasa. Indonesia itu luas banget, kawan. Kalau tiap bulan kamu eksplorasi satu tempat baru di dalam negeri, butuh berapa tahun buat nyelesaiin semuanya? Mungkin seumur hidup pun nggak cukup. Jadi, sebelum kita bermimpi terlalu jauh untuk menaklukkan dunia, coba deh tengok kanan-kiri. Mungkin ada bukit indah yang belum pernah kamu daki, atau pantai sunyi yang airnya menunggumu untuk sekadar membasahi kaki. Yuk, kemas tasmu, isi bensin penuh-penuh, dan mari kita jadi turis di negeri sendiri!