FOMO, Scroll, Lelah: Siklus Setan Anak Internet
Redaksi - Tuesday, 17 February 2026 | 10:00 AM


Selamat Datang di Era Mabuk Informasi: Ketika Otak Kita Keram Kebanyakan Scroll
Bayangkan skenario ini: Anda baru saja membuka mata di pagi hari. Belum juga nyawa terkumpul sepenuhnya, tangan sudah meraba-raba nakas mencari ponsel. Begitu layar menyala, "dar!"—notifikasi WhatsApp grup kantor sudah menumpuk, di Twitter (atau X) ada tren baru soal skandal artis yang sebenarnya nggak penting-penting amat buat hidup Anda, dan di Instagram, teman SMA Anda tiba-tiba pamer lagi liburan di Swiss sementara Anda masih bergelut dengan belek mata. Belum sarapan, otak Anda sudah dipaksa mencerna ribuan data. Selamat, Anda baru saja masuk ke jebakan maut bernama information overload.
Dulu, orang tua kita mungkin merasa paling "update" kalau sudah baca koran pagi sambil minum kopi. Beritanya ya itu-itu saja, terbatas, dan ada batas akhirnya. Begitu koran habis dibaca, ya sudah, selesai. Sekarang? Informasi itu kayak air bah yang nggak ada tombol off-nya. Kita hidup di era di mana data mengalir lebih cepat daripada kemampuan otak kita buat memprosesnya. Istilah kerennya adalah "infobesity" alias obesitas informasi. Bedanya sama obesitas makanan, yang membengkak di sini bukan perut, tapi rasa cemas dan kebingungan di kepala.
Otak Kita Bukan Prosesor Core i9 Generasi Terbaru
Masalah utamanya adalah spek otak manusia itu sebenarnya belum banyak berubah sejak zaman purba, sementara lingkungan kita berubah drastis. Nenek moyang kita dulu cuma perlu tahu di mana ada buah yang bisa dimakan dan di mana ada singa yang mau menerkam. Sekarang? Kita dipaksa memikirkan perang di belahan dunia lain, kenaikan suku bunga, teori konspirasi bumi datar, sampai perdebatan apakah bubur ayam harus diaduk atau tidak, semuanya dalam satu waktu scroll.
Akibatnya, otak kita sering mengalami "hang" atau korslet. Pernah nggak Anda merasa lelah luar biasa padahal cuma duduk seharian di depan laptop? Itu namanya fatigue decision atau kelelahan mengambil keputusan. Karena setiap kali kita melihat informasi—meskipun cuma sekilas—otak kita secara bawah sadar harus memutuskan: ini penting nggak ya? Harus gue respon nggak ya? Harus gue simpen di memori nggak ya? Bayangkan melakukan itu ribuan kali dalam satu jam. Wajar saja kalau sore-sore kita sudah merasa jadi zombi yang nggak punya tenaga buat mikir hal-hal esensial.
Paradoks "Tahu Segalanya Tapi Nggak Ngerti Apa-apa"
Lucunya, meskipun kita merasa tahu banyak hal karena sering baca thread di media sosial, pengetahuan kita itu seringkali cuma setipis kulit ari. Kita tahu permukaannya doang, tapi nggak pernah benar-benar mendalami. Kita jadi generasi yang "paham dikit-dikit tentang banyak hal," tapi nggak benar-benar ahli di satu bidang pun karena perhatian kita gampang banget terdistraksi. Baru mau baca artikel soal pemanasan global, eh ada notifikasi diskon belanja tanggal kembar. Buyar sudah fokusnya.
Kondisi ini bikin kita jadi rentan sama hoaks. Karena informasi datang bertubi-tubi, kita jadi malas buat melakukan fact-checking. Pokoknya kalau judulnya bombastis dan sesuai sama opini kita, ya langsung share aja ke grup keluarga. Kita kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis karena otak kita sudah terlalu capek buat memproses logika yang rumit. Kita lebih suka konten "fast food" yang singkat, padat, dan bikin emosi naik, daripada baca tulisan panjang yang butuh perenungan mendalam.
FOMO: Bahan Bakar Kegilaan Informasi
Kenapa sih kita nggak berhenti saja? Kenapa kita tetap scroll meskipun jempol sudah pegal dan mata sudah perih? Jawabannya adalah FOMO (Fear of Missing Out). Kita takut kalau kita ketinggalan satu hari saja nggak buka media sosial, kita bakal jadi orang paling kudet (kurang update) sedunia. Kita takut nggak nyambung pas nongkrong sama teman karena nggak tahu meme yang lagi viral kemarin sore.
Padahal, coba dipikir-pikir lagi, seberapa banyak sih informasi yang kita konsumsi dalam 24 jam terakhir yang benar-benar mengubah hidup kita jadi lebih baik? Mungkin cuma 1 atau 2 persen. Sisanya cuma sampah digital yang cuma menuh-menuhin memori otak. Kita terjebak dalam lingkaran setan mencari dopamin lewat notifikasi dan konten-konten receh yang sebenarnya bikin kita makin haus informasi tapi nggak pernah merasa puas.
Gimana Caranya Biar Nggak Mabuk Informasi?
Terus, solusinya gimana? Apa kita harus balik ke zaman batu dan buang semua gadget ke laut? Ya nggak gitu juga, sih. Kita tetap butuh teknologi, tapi kita harus belajar jadi "kurator" buat diri kita sendiri. Berikut beberapa tips receh tapi ampuh biar otak nggak gampang meledak:
- Diet Digital: Sama kayak diet makanan, kita harus pilih-pilih mana informasi yang "bergizi". Unfollow akun-akun yang cuma bikin toxic atau bikin Anda merasa rendah diri.
- Batasi Screen Time: Gunakan fitur pengingat di HP. Kalau sudah satu jam main TikTok, ya sudah, berhentilah. Bumi nggak akan kiamat kalau Anda nggak tahu update terbaru selama beberapa jam ke depan.
- Deep Work: Sisihkan waktu tanpa ponsel sama sekali. Coba fokus ngerjain satu hal—entah itu kerjaan, baca buku fisik, atau sekadar ngobrol sama pasangan—tanpa interupsi notifikasi.
- Terima Fakta Bahwa Kita Nggak Bisa Tahu Segalanya: Menjadi orang yang nggak tahu tren terbaru itu oke-oke aja kok. Lebih baik jadi orang yang tenang dan fokus daripada tahu segalanya tapi mentalnya berantakan.
Pada akhirnya, informasi itu ibarat garam. Kalau pas, bikin makanan jadi enak. Tapi kalau kebanyakan, ya malah bikin darah tinggi. Di tengah dunia yang makin bising ini, kemampuan untuk "tidak mendengarkan" dan "tidak tahu" adalah sebuah kemewahan sekaligus keterampilan bertahan hidup yang paling penting. Jangan biarkan otak Anda yang berharga itu cuma jadi tempat pembuangan sampah digital. Yuk, mulai sekarang, belajar buat naruh HP, ambil napas dalam-dalam, dan nikmati dunia nyata yang warnanya jauh lebih indah daripada filter Instagram mana pun.
Next News

Selfie Dulu Baru Hidup
17 hours ago

Menjadi Turis di Negeri Sendiri
16 hours ago

Belajar Lewat Game: Efektif atau Cuma Gimmick
16 hours ago

Cerita Rakyat Indonesia: Antara Dongeng Moral dan Plot Absurd
16 hours ago

Hobi Receh yang Ternyata Bisa Jadi Cuan
17 hours ago

Yang Lo Lihat Belum Tentu Nyata
17 hours ago

Cara Tahu Orang Lagi Nggak Nyaman Tanpa Dia Bilang
17 hours ago

Psikologi Warna
18 hours ago

Sejarah Singkat: Kenapa Masa Lalu Itu Nggak Pernah Benar-Benar Lewat
18 hours ago

Otak: CEO Tubuh yang Kerjanya Gila-Gilaan Tapi Jarang Dihargai
18 hours ago





