Rabu, 18 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Cerita Rakyat Indonesia: Antara Dongeng Moral dan Plot Absurd

Redaksi - Tuesday, 17 February 2026 | 10:00 AM

Background
Cerita Rakyat Indonesia: Antara Dongeng Moral dan Plot Absurd
Cerita Rakyat Indonesia: Antara Dongeng Moral dan Plot Absurd ( Istimewa/)

Menakar Kadar Absurditas Cerita Rakyat Kita: Dari Anak Durhaka Sampai Isu Mother Complex

Kalau kita bicara soal masa kecil, kayaknya nggak ada yang bisa mengalahkan memori pas guru SD kita mulai bercerita tentang seorang pemuda yang dikutuk jadi batu atau seorang anak yang menendang perahu sampai jadi gunung. Ya, selamat datang di semesta cerita rakyat Indonesia, sebuah dimensi di mana logika sering kali ditaruh di saku celana, tapi nilai moralnya nendang sampai ke ulu hati.

Jujur saja, kalau dipikir-pikir lagi pakai logika orang dewasa zaman sekarang, banyak cerita rakyat kita itu sebenarnya punya plot twist yang jauh lebih gelap dan absurd daripada film horor A24. Bayangkan saja, kita tumbuh besar dengan narasi Malin Kundang. Premisnya sederhana: sukses merantau, lupa ibu, lalu bum! Jadi batu. Pesannya jelas, jangan durhaka. Tapi kalau kita bedah lagi, intensitas kemarahan sang ibu yang langsung minta Tuhan mengutuk anaknya itu sebenarnya ngeri-ngeri sedap. Nggak ada tuh mediasi lewat grup WhatsApp keluarga atau upaya healing bareng. Langsung gas pol jadi material bangunan.

Sangkuriang dan Isu Mental Health yang Terabaikan

Bergeser sedikit ke tanah Pasundan, kita punya Sangkuriang. Ini adalah cerita yang kalau terjadi di tahun 2024, pasti bakal viral di Twitter (sekarang X) dan memicu diskusi panjang soal mother complex atau Oedipus Complex. Bagaimana tidak? Sangkuriang jatuh cinta sama ibunya sendiri, Dayang Sumbi, yang awet muda gara-gara rajin perawatan—eh, maksudnya karena minum ramuan ajaib.

Plotnya makin liar ketika Dayang Sumbi memberikan syarat yang hampir mustahil: bikin danau dan perahu dalam satu malam. Pas gagal karena 'dicurangi' lewat fajar buatan, Sangkuriang bukannya ikut kelas manajemen kemarahan, malah menendang perahunya. Jadilah Tangkuban Perahu. Di sini kita melihat bahwa sejak dulu, masyarakat kita sudah akrab dengan konsep toxic relationship dan masalah anger management yang akut. Bedanya, dulu hal-hal begini berakhir jadi objek wisata, kalau sekarang palingan masuk konten TikTok edukasi kesehatan mental.

Kenapa Kita Masih Perlu Cerita Rakyat?

Mungkin ada yang bertanya, buat apa sih kita masih ngebahas cerita yang isinya banyak nggak masuk akalnya? Kenapa kita masih perlu tahu soal Cindelaras yang punya ayam jago sakti atau Timun Mas yang dikejar-kejar raksasa bermodal garam dan terasi? Jawabannya sederhana: karena cerita rakyat adalah cermin psikologis kolektif bangsa kita.

Cerita rakyat itu bukan sekadar dongeng sebelum tidur. Di dalamnya ada rekaman budaya tentang bagaimana nenek moyang kita memandang alam, menghormati orang tua, dan memahami konsekuensi dari setiap perbuatan. Meskipun gaya penyampaiannya sering kali hiperbolis dan penuh unsur klenik, inti sarinya tetap relevan. Misalnya, cerita tentang Timun Mas itu mengajarkan kita soal resiliensi. Bahwa sesulit apa pun masalah (diwakili oleh sosok Buto Ijo), kalau kita punya bekal dan keberanian, kita bisa survive. Ya, meskipun bekalnya agak unik ya, cuma biji mentimun sama terasi.

Mencoba Relate di Tengah Gempuran Budaya Pop

Sayangnya, di tengah gempuran Marvel Cinematic Universe atau drakor yang visualnya kinclong habis, cerita rakyat sering kali dianggap "kuno" atau "cringe" oleh anak muda. Padahal, kalau dikemas dengan narasi yang lebih segar, cerita-cerita ini punya potensi jadi franchise yang gila banget. Bayangkan kalau jagat sinematik cerita rakyat kita digarap dengan serius. Kita bisa punya "Folklore Universe" di mana Gatotkaca ketemu sama Nyi Roro Kidul dalam satu frame.

Beberapa kreator konten dan penulis grafis sebenarnya sudah mulai melakukan ini. Mereka melakukan dekonstruksi karakter. Malin Kundang nggak cuma digambarkan sebagai anak jahat, tapi mungkin sebagai pemuda yang mengalami trauma kemiskinan sistemik sehingga dia merasa harus memutus rantai masa lalunya dengan cara yang salah. Sudut pandang seperti inilah yang bikin cerita rakyat tetap hidup dan nggak cuma jadi hafalan buat ujian sekolah doang.

Kesimpulan yang Agak Serius

Pada akhirnya, cerita rakyat adalah identitas. Mau se-absurd apa pun logikanya, cerita-cerita itu adalah cara nenek moyang kita berkomunikasi dengan masa depan. Kita nggak perlu menelan mentah-mentah semua adegannya, tapi kita bisa mengambil esensinya. Kalau Malin Kundang mengajarkan kita soal adab, dan Sangkuriang soal pentingnya mengelola emosi, maka cerita rakyat lainnya pasti punya rahasia-rahasia kecil yang masih bisa kita pakai buat bertahan hidup di rimba modern ini.

Jadi, jangan malu kalau ditanya soal cerita rakyat daerahmu. Meskipun mungkin ceritanya cuma soal asal-usul sebuah sumur yang airnya asin gara-gara air mata duyung yang patah hati, itu tetap bagian dari kekayaan imajinasi bangsa. Lagipula, di dunia yang makin logis dan kaku ini, bukankah sedikit sentuhan magis dan absurd dari masa lalu itu yang bikin hidup kita jadi lebih berwarna? Jangan sampai kita jadi bangsa yang kehilangan dongengnya sendiri, karena bangsa yang lupa pada ceritanya adalah bangsa yang sedang kehilangan jiwanya.