Hobi Receh yang Ternyata Bisa Jadi Cuan
Redaksi - Tuesday, 17 February 2026 | 09:00 AM


Kerajinan Tangan: Dari Tugas Sekolah yang Nyebelin Jadi Pelarian Mental yang Estetik
Kalau kita tarik memori ke belakang, tepatnya ke zaman SD atau SMP, mata pelajaran Prakarya itu sering banget jadi momok. Ingat nggak rasanya jari jempol kena lem Alteco gara-gara maksa nempelin cangkang telur ke atas triplek? Atau drama anyaman bambu yang nggak kunjung kelar padahal besok sudah harus dikumpulin ke meja guru? Dulu, kerajinan tangan itu rasanya kayak beban hidup. Sebuah kewajiban yang kalau nggak dikerjain ya nilai rapor taruhannya.
Tapi coba lihat sekarang. Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang bikin jempol capek scrolling dan otak panas gara-gara drama Twitter (eh, sekarang X ya?), kerajinan tangan malah bertransformasi jadi sesuatu yang dicari-cari. Namanya naik kelas. Bukan lagi sekadar "bikin barang", tapi sudah jadi "ritual healing". Istilah kerennya, making something with your own hands is the new meditation. Ternyata, ada kepuasan yang nggak bisa dibeli pake saldo e-wallet mana pun saat kita berhasil menciptakan sesuatu yang nyata dari nol.
Kenapa Kita Tiba-Tiba Jadi Anak Skena Crafting?
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Hidup kita sekarang itu terlalu banyak yang "abstrak". Kerja di depan laptop, kirim email, meeting via Zoom, dapet gaji pun cuma angka yang mampir sebentar di m-banking sebelum pindah ke tagihan. Semuanya serba digital dan nggak bisa disentuh. Nah, kerajinan tangan hadir sebagai penyeimbang. Ada sensasi taktil yang bikin kita merasa kembali "membumi".
Pas tangan kita pegang tanah liat buat bikin keramik (pottery), atau pas jemari kita sibuk narik benang buat macrame, otak kita masuk ke kondisi yang namanya flow. Kondisi di mana dunia sekitar berasa hilang, dan kita cuma fokus sama apa yang ada di depan mata. Rasanya jauh lebih tenang daripada meditasinya orang yang cuma duduk diem tapi pikirannya ke mana-mana. Di sini, kalau kamu salah fokus dikit, ya rajutanmu bakal miring. Jadi, fokus itu bukan paksaan, tapi kebutuhan.
Lagipula, ada kebanggaan tersendiri pas pamer di Instagram Story. "Eh, liat nih, asbak buatan gue sendiri." Walaupun bentuknya agak meleyot dan nggak simetris, tapi ada karakter di sana. Barang yang dibuat pakai tangan itu punya "jiwa" yang nggak bakal bisa disamain sama barang produksi pabrik yang serba sempurna tapi membosankan.
Dari Hobi Jadi Cuan yang Nggak Main-Main
Nah, buat kalian yang mikir kalau kerajinan tangan itu cuma buat ngisi waktu gabut, kalian salah besar. Sekarang ini, pasar kerajinan tangan atau handmade goods itu gede banget. Orang-orang mulai jenuh sama barang massal. Mereka mau sesuatu yang personal, unik, dan punya cerita. Di sinilah para kreator lokal masuk dan "mengacak-acak" pasar.
Coba intip platform kayak Etsy atau bahkan akun-akun jualan di TikTok. Gelang manik-manik yang dulu cuma dianggap mainan bocah, sekarang bisa dijual dengan harga lumayan kalau dikurasi dengan estetika yang bener. Atau teknik punch needle yang hasilnya jadi karpet atau hiasan dinding lucu. Harganya bisa jutaan, lho! Kenapa? Karena yang dibeli bukan cuma barangnya, tapi waktu, ketelitian, dan selera seni si pembuatnya.
Tren upcycling juga lagi naik daun. Ini adalah tingkatan lebih lanjut dari sekadar kerajinan tangan. Kita ngambil sampah atau barang bekas, terus kita sulap jadi barang baru yang fungsinya lebih oke. Misalnya, botol kaca bekas sirup yang dililit tali rami jadi vas bunga ala-ala Pinterest, atau celana jeans bekas yang dipotong-sambung jadi tas kece. Ini bukan cuma soal kreativitas, tapi juga soal kepedulian sama bumi. Jadi, kerennya dapet, pahala lingkungan hidupnya juga dapet.
Memulai Tanpa Harus Jadi Pro
Masalahnya, banyak orang yang mau mulai tapi udah minder duluan. "Aduh, gue mah tangannya kaku, nggak bakat." Padahal ya, yang namanya kerajinan tangan itu bukan soal bakat dari lahir, tapi soal jam terbang dan kemauan buat gagal. Nggak ada ceritanya orang pertama kali nyoba merajut langsung bisa bikin sweater sekelas brand ternama. Pasti awalnya jadi tatakan gelas yang nggak beraturan dulu.
Tips buat yang mau mulai: jangan langsung beli alat yang paling mahal. Mulai dari yang paling simpel dulu. Mau nyoba papercraft? Cuma modal kertas sama gunting. Mau nyoba embroidery atau sulam? Modal jarum sama benang nggak sampai seharga kopi susu kekinian di mal. Intinya, start small. Cari tutorial di YouTube yang levelnya buat pemula banget. Jangan langsung nonton yang level "seni tingkat dewa" karena itu cuma bakal bikin kamu depresi sebelum mulai.
Dan yang paling penting, jangan terlalu perfeksionis. Estetika kerajinan tangan itu justru ada di ketidaksempurnaannya. Ada bekas lem dikit? Ya nggak apa-apa. Ada benang yang keluar? Itu tandanya itu beneran buatan manusia, bukan robot AI. Di situlah letak art-nya.
Kesimpulan: Sebuah Perlawanan Terhadap Kecepatan
Di dunia yang semuanya dituntut serba cepet—pesen makan lewat ojol langsung dateng, kirim pesan langsung dibales—kerajinan tangan adalah sebuah bentuk perlawanan yang manis. Kita dipaksa buat pelan-pelan. Kita dipaksa buat sabar nunggu proses pengeringan, proses pembakaran, atau proses pengikatan benang satu per satu. Ini adalah pengingat kalau hal-hal bagus itu butuh waktu.
Jadi, mumpung besok akhir pekan, daripada cuma rebahan sambil dengerin lagu galau atau doomscrolling berita politik yang bikin darting, coba deh beli satu paket DIY kit di toko online. Rasakan sensasi bikin sesuatu pakai tanganmu sendiri. Mungkin awalnya bakal berantakan, mungkin bakal bikin kamu pengen marah-marah sendiri, tapi percayalah, pas barangnya jadi, ada kepuasan batin yang bakal bikin kamu ketagihan.
Siapa tahu, dari sekadar iseng bikin gantungan kunci buat gebetan, eh malah jadi bisnis sampingan yang hasilnya lebih gede dari gaji pokok. Nggak ada yang tahu, kan? Namanya juga hidup, penuh dengan kejutan di setiap simpul talinya.
Next News

Selfie Dulu Baru Hidup
17 hours ago

FOMO, Scroll, Lelah: Siklus Setan Anak Internet
16 hours ago

Menjadi Turis di Negeri Sendiri
16 hours ago

Belajar Lewat Game: Efektif atau Cuma Gimmick
16 hours ago

Cerita Rakyat Indonesia: Antara Dongeng Moral dan Plot Absurd
16 hours ago

Yang Lo Lihat Belum Tentu Nyata
17 hours ago

Cara Tahu Orang Lagi Nggak Nyaman Tanpa Dia Bilang
17 hours ago

Psikologi Warna
18 hours ago

Sejarah Singkat: Kenapa Masa Lalu Itu Nggak Pernah Benar-Benar Lewat
18 hours ago

Otak: CEO Tubuh yang Kerjanya Gila-Gilaan Tapi Jarang Dihargai
18 hours ago





