Rabu, 18 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Psikologi Warna

Redaksi - Tuesday, 17 February 2026 | 08:00 AM

Background
Psikologi Warna
Psikologi Warna ( Istimewa/)

Kenapa Warna Bisa Bikin Mood Berantakan atau Malah Happy? Rahasia Psikologi di Balik Cat Tembok dan Baju Lo

Pernah nggak sih lo masuk ke sebuah kafe terus tiba-tiba merasa tenang banget, padahal baru aja berantem sama ojol di jalan? Atau sebaliknya, pernah nggak lo masuk ke ruang tunggu puskesmas atau kantor pemerintahan yang catnya kuning gading kusam, terus mendadak merasa makin pusing dan pengen cepet-cepet pulang? Kalau pernah, selamat, lo baru saja berinteraksi langsung dengan yang namanya psikologi warna.

Warna itu bukan cuma soal urusan estetika atau biar postingan Instagram kelihatan aesthetic doang. Lebih dari itu, warna punya kekuatan magis buat "nge-hack" otak kita tanpa kita sadari. Para ilmuwan dan desainer sudah lama tahu kalau spektrum cahaya ini punya koneksi kabel langsung ke emosi manusia. Jadi, jangan heran kalau pilihan warna baju lo hari ini bisa menentukan apakah lo bakal jadi orang yang produktif atau malah rebahan seharian sambil meratapi nasib.

Merah: Antara Cinta, Lapar, dan Pengen Marah

Kita mulai dari warna yang paling "berisik": Merah. Dalam kacamata psikologi, merah itu ibarat teriakan di tengah keramaian. Dia agresif, penuh energi, dan sangat mendominasi. Pernah kepikiran nggak kenapa logo restoran cepat saji kayak McD, KFC, atau Pizza Hut rata-rata pakai warna merah? Itu bukan kebetulan, Sob. Merah secara biologis bisa ningkatin detak jantung dan bikin metabolisme kita naik, yang ujung-ujungnya memicu rasa lapar.

Tapi hati-hati, kalau lo ngecat seluruh kamar pakai warna merah menyala, alih-alih bisa tidur nyenyak, lo malah bakal merasa gelisah terus. Merah itu warna peringatan. Makanya lampu bangjo (lampu merah) pakai warna ini. Di sisi lain, merah juga simbol keberanian dan gairah. Jadi kalau mau nge-date dan pengen kelihatan dominan atau menarik perhatian, merah adalah jalan pintas yang paling ampuh. Tapi ya itu tadi, jangan sampai over, entar malah dikira mau demo.

Si Biru yang Kalem tapi Kadang Bikin Melow

Beralih ke kutub seberang, ada warna biru. Kalau merah itu kopi espresso yang bikin jantung deg-degan, biru itu ibarat teh chamomile di sore hari. Biru punya efek menenangkan. Makanya banyak perusahaan teknologi besar kayak Facebook (atau X yang dulu), LinkedIn, sampai bank-bank besar pakai warna biru. Kenapa? Karena biru memancarkan kesan kepercayaan, stabilitas, dan profesionalisme. Mereka pengen lo merasa aman naruh data atau duit di tempat mereka.

Tapi, ada tapinya nih. Terlalu banyak biru juga bisa bikin kita ngerasa "blue" alias sedih atau kesepian. Di dunia desain interior, biru yang terlalu gelap tanpa aksen lain bisa bikin ruangan terasa dingin dan nggak komunikatif. Cocok sih buat lo yang emang lagi pengen menyepi dari peradaban atau lagi fase sadboy, tapi nggak oke kalau buat ruang tamu yang tujuannya buat ngobrol asik bareng temen.

Kuning dan Hijau: Vibrasi Positif dan Anak Senja

Terus gimana dengan kuning? Kuning itu warna matahari, warna optimisme. Kalau lo pakai baju kuning, biasanya orang bakal ngeliat lo sebagai pribadi yang ceria dan gampang didekati. Tapi uniknya, kuning juga warna yang paling cepat bikin mata capek. Riset bilang bayi lebih sering nangis di ruangan berwarna kuning terang. Jadi, kuning itu kayak temen yang asik diajak seru-seruan tapi kalau kelamaan bareng malah bikin pusing.

Nah, kalau hijau beda lagi. Hijau adalah warna "aman". Otak kita secara evolusioner mengaitkan hijau dengan alam, air, dan kesuburan. Itulah kenapa kalau kita ngeliat pohon atau taman, perasaan jadi adem. Sekarang lagi ngetren banget kan gaya hidup "Back to Nature" atau kafe-kafe dengan konsep indoor jungle. Warna hijau di sini berfungsi buat nurunin tingkat stres manusia kota yang tiap hari udah mumet sama macet dan deadline. Hijau itu simbol pertumbuhan. Nggak heran kalau produk-produk kesehatan atau organik pasti rebutan pakai warna ini.

Tren Cowok Mamba, Bumi, dan Kue: Psikologi Warna Versi Gen Z

Lucunya, sekarang psikologi warna ini diadopsi mentah-mentah sama anak muda lewat istilah-istilah unik. Ada "Cowok Mamba" yang serba hitam. Hitam dalam psikologi warna itu melambangkan kekuatan, misteri, dan elegan. Orang yang suka pakai hitam biasanya pengen punya kendali atas dirinya sendiri dan nggak mau terlalu banyak diatur. Simpel tapi intimidating.

Terus ada "Cewek Bumi" yang sukanya warna-warna earth tone kayak cokelat, krem, atau hijau olive. Warna-warna ini memberikan kesan down to earth, tenang, dan stabil. Terakhir ada "Cewek Kue" yang nabrak-nabrakin warna terang kayak pink, elektrik blue, atau lime green. Ini adalah bentuk ekspresi kebebasan dan rasa percaya diri yang tinggi. Secara nggak langsung, lewat pilihan warna outfit, kita itu lagi teriak ke dunia tentang gimana perasaan kita hari itu.

Kesimpulan: Jangan Asal Pilih Warna!

Pada akhirnya, psikologi warna itu subjektif tapi punya pola yang nyata. Meskipun budaya juga berpengaruh—misalnya warna putih di Barat itu simbol suci sementara di beberapa budaya Timur bisa berarti duka—tapi respon dasar otak kita terhadap warna itu tetap ada.

Jadi, mulai sekarang coba deh lebih peka. Kalau lo lagi ngerasa kurang fokus belajar, coba taruh sesuatu yang warnanya orange atau kuning di meja biar otak lebih "bangun". Kalau lo lagi gampang cemas, coba pakai baju warna biru muda atau hijau pastel. Warna bukan cuma soal mata, tapi soal gimana kita ngerasain hidup. Jangan sampai hidup lo yang harusnya berwarna-warni malah jadi abu-abu nggak jelas cuma gara-gara salah pilih cat tembok atau salah kostum saat interview kerja. Yuk, mulai mainin warna buat manipulasi mood lo sendiri!