Rabu, 18 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Cara Tahu Orang Lagi Nggak Nyaman Tanpa Dia Bilang

Redaksi - Tuesday, 17 February 2026 | 09:00 AM

Background
Cara Tahu Orang Lagi Nggak Nyaman Tanpa Dia Bilang
Cara Tahu Orang Lagi Nggak Nyaman Tanpa Dia Bilang ( Istimewa/)

Bukan Cuma Omong Kosong: Kenapa Bahasa Tubuh Seringkali Lebih Jujur daripada Mulutmu

Pernah nggak sih kamu lagi nongkrong di kafe, terus ngelihat sepasang cowok-cewek di meja seberang yang lagi kencan pertama? Meskipun kamu nggak dengar apa yang mereka omongin, kamu bisa nebak kalau suasananya lagi kaku banget. Si cowok berkali-kali benerin kerah baju, sementara si cewek sibuk mainin sedotan sambil matanya nggak fokus ke lawan bicara. Tanpa perlu jadi ahli intelijen, kita semua tahu ada "vibe" yang nggak sinkron di sana.

Itulah kekuatan bahasa tubuh. Dalam dunia komunikasi, mulut boleh saja bilang "aku nggak apa-apa," tapi kaki yang goyang-goyang kayak mesin jahit atau tangan yang meremas ujung baju bakal teriak hal yang sebaliknya. Konon katanya, lebih dari 60 persen komunikasi manusia itu sebenarnya non-verbal. Jadi, kalau kamu cuma fokus sama apa yang keluar dari mulut, kamu kehilangan lebih dari setengah informasi yang ada di depan mata.

Mata yang Nggak Bisa Bohong (Tapi Bisa Bikin Salah Paham)

Ada pepatah bilang kalau mata adalah jendela jiwa. Kedengarannya emang puitis banget, ala-ala kutipan di Tumblr zaman dulu. Tapi jujurly, mata memang se-berpengaruh itu. Kontak mata adalah kunci utama buat nentuin apakah seseorang itu lagi beneran dengerin kita atau cuma nunggu giliran buat ngomong.

Tapi hati-hati, urusan tatap-tatapan ini ada seninya. Kalau kamu menatap lawan bicara tanpa kedip selama lima menit, bukannya terlihat penuh perhatian, kamu malah bakal disangka lagi ngajak berantem atau malah terlihat sedikit menyeramkan. Sebaliknya, kalau kamu terus-terusan nunduk atau ngelihat ke arah pintu, lawan bicaramu bakal merasa kamu lagi cari alasan buat kabur. Rahasianya? Gunakan aturan 70/30. Tatap matanya sekitar 70 persen dari durasi ngobrol, sisanya biarkan matamu berkelana sedikit biar nggak kaku-kaku amat.

Tangan: Antara Terbuka dan Mode Bertahan

Ngomongin soal tangan, ini adalah bagian tubuh yang paling sering bikin kita mati gaya. Pernah nggak kamu merasa bingung tangan harus ditaruh di mana pas lagi presentasi atau lagi berdiri di tengah keramaian? Akhirnya tanganmu masuk saku, atau malah bersedekap di dada.

Nah, bersedekap atau menyilangkan tangan di depan dada ini sering banget diartikan sebagai sikap defensif alias menutup diri. Tapi ya nggak selalu begitu juga sih. Kadang-kadang orang bersedekap cuma karena ruangannya dingin banget atau kursinya nggak ada sandaran tangan yang enak. Namun, dalam konteks sosial, posisi tangan yang terbuka biasanya ngasih sinyal kalau kamu itu orangnya asyik dan bisa dipercaya. Kalau kamu ngomong sambil sesekali nunjukin telapak tangan, orang secara psikologis bakal ngerasa kamu nggak lagi nyembunyiin sesuatu.

Cermin Ajaib Bernama Mirroring

Ada satu fenomena unik dalam bahasa tubuh yang namanya "mirroring" atau mencerminkan. Pernah nggak kamu sadar kalau lagi asyik ngobrol sama sahabat, posisi duduk kalian jadi mirip? Kalau dia nopang dagu, eh nggak lama kemudian kamu juga ikutan nopang dagu. Kalau dia nyilangin kaki, kamu juga begitu.

Tenang, itu bukan berarti kamu lagi kena sihir. Mirroring adalah cara alami otak kita buat bilang, "Eh, aku suka kamu, kita satu frekuensi nih!" Ini adalah tanda kenyamanan yang luar biasa. Kalau kamu lagi pdkt dan si target mulai ngikutin gerakan kecilmu secara nggak sadar, itu tandanya lampu hijau sudah menyala terang benderang. Tapi inget, jangan sengaja dibuat-buat secara berlebihan, ya. Kalau dia garuk kepala terus kamu langsung ikutan garuk kepala secara instan, yang ada dia malah mikir kamu lagi ngeledek atau kamu emang lagi kutuan.

Bau-bau Kebohongan dan Micro-expressions

Kita semua pengen jadi kayak detektif di serial Sherlock Holmes yang bisa tahu orang bohong cuma dari kerutan di dahi. Faktanya, mendeteksi kebohongan itu susah-susah gampang. Nggak semua orang yang garuk hidung itu lagi bohong; bisa jadi emang ada debu lewat.

Tapi ada yang namanya micro-expressions—ekspresi wajah super singkat yang muncul sekelebat sebelum seseorang sempat memalsukan emosinya. Misalnya, kamu dapet kado yang sebenernya jelek banget. Sebelum kamu senyum lebar dan bilang "Makasih ya, aku suka banget!", bakal ada sepersekian detik di mana bibirmu melengkung turun atau matamu menyipit karena kecewa. Itulah kejujuran yang sebenernya. Orang yang peka biasanya bisa nangkep "glitch" emosi ini.

Kenapa Kita Harus Peduli?

Mungkin ada yang mikir, "Duh, ribet banget sih hidup, masa harus mikirin posisi jempol segala?" Sebenernya, belajar bahasa tubuh itu bukan buat jadi manipulator atau orang yang penuh kepalsuan. Tujuannya justru biar kita jadi lebih empati.

Dengan paham bahasa tubuh, kita jadi tahu kalau temen kita yang lagi curhat sebenernya lagi butuh dipuk-puk meskipun mulutnya bilang "aku kuat kok." Kita jadi lebih peka kalau rekan kerja kita sebenernya lagi nggak nyaman sama topik obrolan tertentu. Bahasa tubuh itu jembatan buat memahami hal-hal yang nggak sempat terucap.

Jadi, mulai sekarang, coba deh sesekali taruh HP-mu pas lagi nongkrong. Perhatiin gimana orang-orang di sekitarmu berkomunikasi lewat gerakan bahu, anggukan kepala, atau sekadar arah kaki mereka. Kamu bakal nemuin dunia baru yang jauh lebih jujur dan berwarna daripada sekadar deretan teks di WhatsApp. Karena pada akhirnya, tubuh kita punya cara sendiri buat menceritakan kebenaran, bahkan saat mulut kita memilih untuk bungkam.