Rabu, 18 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Otak: CEO Tubuh yang Kerjanya Gila-Gilaan Tapi Jarang Dihargai

Redaksi - Tuesday, 17 February 2026 | 08:00 AM

Background
Otak: CEO Tubuh yang Kerjanya Gila-Gilaan Tapi Jarang Dihargai
Otak: CEO Tubuh yang Kerjanya Gila-Gilaan Tapi Jarang Dihargai ( Istimewa/)

Mengenal Si Tahu Putih Berkerut: Fakta-Fakta Otak yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

Pernah nggak sih kalian lagi bengong di pinggir jendela, terus tiba-tiba mikir, "Gimana ya caranya gue bisa mikirin apa yang lagi gue pikirin sekarang?" Nah, selamat datang di dunia metafisika receh. Tapi serius deh, semua proses galau, ngerjain revisi skripsi, sampai milih menu makan siang itu dikendalikan sama segumpal organ yang teksturnya mirip tahu putih berkerut di dalam kepala kita. Namanya otak.

Otak manusia itu ibarat CEO paling sibuk sedunia tapi penampilannya kurang estetik. Beratnya cuma sekitar 1,3 sampai 1,5 kilogram—nggak lebih berat dari laptop ultrabook kalian—tapi dia memegang kendali penuh atas hidup kita. Masalahnya, banyak banget mitos yang beredar soal otak yang sering kita telan mentah-mentah. Yuk, kita kupas tuntas fakta-faktanya dengan gaya santai biar nggak makin spaneng.

Mitos 10 Persen yang Kebangetan

Kalian pasti pernah nonton film "Lucy" atau "Limitless", kan? Inti ceritanya adalah manusia cuma pakai 10 persen kapasitas otaknya, dan kalau bisa pakai 100 persen, kita bakal jadi superhero yang bisa baca pikiran orang atau mindahin barang. Jujur ya, itu omong kosong paling legendaris di dunia sains.

Kenyataannya, kita pakai hampir seluruh bagian otak kita hampir setiap saat. Bahkan pas kalian lagi tidur pulas dan mimpi dikejar mantan, otak kalian itu lagi sibuk-sibuknya kayak pasar kaget di hari Minggu. Nggak ada tuh bagian otak yang "nganggur" atau cuma numpang lewat doang. Kalau emang ada bagian yang nggak kepakai, harusnya kalau bagian itu kena luka atau cedera, kita nggak bakal kenapa-napa dong? Tapi nyatanya, cedera sekecil apa pun di otak bisa punya dampak yang serius banget. Jadi, stop nungguin pil ajaib buat buka 90 persen sisa otak kalian, karena semuanya udah kebuka dari dulu!

Si Kecil yang Rakus Energi

Meskipun berat otak cuma sekitar 2 persen dari total berat badan kita, tapi soal urusan "makan", dia paling rakus. Otak mengonsumsi sekitar 20 persen dari total energi dan oksigen dalam tubuh. Pantesan aja kalau kalian habis mikir keras ngerjain soal ujian atau lagi bikin strategi buat menang main game online, rasanya laper banget kayak habis lari maraton. Itu karena otak kalian lagi narik semua glukosa yang ada di darah buat dijadiin bahan bakar.

Bayangin aja, otak itu kayak mesin mobil balap yang ditaruh di bodi mobil kecil. Boros bensin banget! Makanya, kalau kalian lagi diet ketat banget sampai nggak makan karbohidrat sama sekali, jangan heran kalau mendadak jadi lemot alias telmi. Otak kalian lagi mogok kerja karena nggak dapet setoran energi yang cukup. Jadi, kalau mau pinter, jangan pelit-pelit kasih makan otak.

Multitasking Itu Cuma Perasaan Kamu Aja

Zaman sekarang, banyak orang bangga banget sama skill multitasking. Bisa bales chat WhatsApp, sambil dengerin podcast, sambil ngetik laporan kerjaan. Hebat? Enggak juga. Secara teknis, otak manusia itu nggak dirancang buat multitasking. Yang terjadi sebenernya adalah "context switching" atau pindah-pindah fokus dengan sangat cepat.

Analoginya kayak kalian lagi ganti-ganti channel TV dengan remote yang super cepet. Masalahnya, setiap kali fokus pindah, ada "biaya" yang harus dibayar: produktivitas menurun sampai 40 persen dan tingkat stres naik. Otak kita sebenernya lagi megap-megap berusaha nangkep informasi yang loncat-loncat itu. Hasilnya? Pekerjaan nggak ada yang maksimal dan otak jadi gampang capek. Jadi, mulai sekarang, coba deh fokus satu-satu. Lebih efisien dan nggak bikin cepet tua.

Otak Itu Plastis, Tapi Bukan Plastik

Ada istilah keren namanya "Neuroplasticity". Dulu orang mikir kalau otak itu udah paten, kalau udah dewasa ya udah gitu-gitu aja, nggak bisa berubah. Ternyata itu salah besar. Otak kita itu sangat fleksibel. Setiap kali kalian belajar hal baru—entah itu belajar main gitar, belajar bahasa baru, atau sekadar tau cara masak nasi goreng yang enak—struktur fisik otak kalian sebenernya berubah.

Saraf-saraf di otak bikin sambungan baru yang namanya sinapsis. Semakin sering dilatih, sambungannya makin kuat. Ini kabar baik buat kita semua. Artinya, nggak ada kata terlambat buat belajar. Otak kita selalu siap buat diajak berkembang. Jadi, jangan kasih alasan "faktor usia" buat males baca buku atau nyobain hobi baru. Otak kalian itu dinamis, jangan dibikin kaku kayak kanebo kering.

Kenapa Tidur Itu Wajib Hukumnya?

Banyak anak muda sekarang yang hobi begadang demi hal-hal yang kurang penting, atau malah bangga cuma tidur 3 jam sehari karena merasa produktif. Padahal, tidur itu adalah waktu di mana otak lagi melakukan "bersih-bersih". Ada sistem yang namanya sistem glimfatik yang tugasnya membuang limbah-limbah beracun yang numpuk di otak selama kita beraktivitas seharian.

Selain itu, tidur adalah proses konsolidasi memori. Semua yang kalian pelajari seharian itu bakal dipindahin dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang pas kalian lagi tidur. Kalau kalian kurang tidur, informasi itu bakal nguap gitu aja. Makanya, jangan heran kalau habis begadang semaleman buat belajar, pas ujian malah blank total. Itu otaknya lagi protes karena nggak dikasih waktu buat "save data".

Ukuran Nggak Menjamin Kepintaran

Banyak yang mikir kalau makin gede kepala atau makin berat otaknya, berarti makin pinter orangnya. Fakta menariknya, otak Albert Einstein—salah satu orang paling jenius di sejarah manusia—ternyata lebih ringan daripada rata-rata otak pria dewasa pada umumnya. Tapi, otak Einstein punya kepadatan saraf yang luar biasa di bagian tertentu yang berhubungan sama pengolahan informasi visual dan matematis.

Jadi, ini bukan soal ukuran, tapi soal "kabel-kabel" di dalamnya. Seberapa efisien sambungan antar sarafnya bekerja, itulah yang menentukan kecerdasan. Jadi buat kalian yang merasa kepalanya kecil atau gede, nggak usah minder atau sombong dulu. Yang penting itu gimana cara kalian ngasah koneksi saraf di dalemnya setiap hari.

Pada akhirnya, otak adalah aset paling berharga yang kita punya. Dia nggak butuh skincare mahal buat kelihatan cantik, tapi dia butuh nutrisi, istirahat, dan tantangan baru buat tetep sehat. Yuk, mulai sekarang lebih sayang sama otak sendiri. Jangan cuma dipake buat scrolling sosmed sampai pagi, kasih dia asupan yang bergizi dan waktu istirahat yang cukup. Karena tanpa otak yang sehat, kita cuma sekumpulan daging yang berjalan tanpa tujuan, kan?