Selasa, 27 Januari 2026
Salsabila FM
Life Style

Mengapa Banyak Anak Muda Takut Menikah

Redaksi - Monday, 26 January 2026 | 09:30 AM

Background
Mengapa Banyak Anak Muda Takut Menikah
Mengapa Banyak Anak Muda Takut Menikah ( Istimewa/)

Pernikahan, atau Tidak? Cerita Generasi yang Menunda Langkah Besar

Di kafe sambil ngopi, aku mendengar dua sahabat muda, Rani dan Budi, saling bercerita soal "pernikahan". Rani, yang masih di bangku kuliah, bilang, "Aku lebih suka fokus on studi dulu, soalnya nanti kalau udah menikah malah harus mikirin biaya hidup." Budi, di sisi lain, mengangkat argumen tentang takut komitmen. Keduanya punya alasan yang seolah‑seolah menjadi alasan standar bagi banyak remaja saat ini: ketidakpastian finansial, fokus karier, dan rasa takut akan perceraian. Tapi apa sih sebenarnya yang membuat generasi ini memilih menunda pernikahan?

1. Finansial: Kunci Utama Menunda

Di era di mana harga properti melonjak dan gaji fresh graduate masih terbilang "buntal", banyak anak muda beranggapan bahwa menikah duluan akan menambah beban keuangan. "Aku belum punya kendaraan, belum punya rumah, belum punya cicilan? Gak mau bawa pasangan ke atas "gambaran" yang belum stabil," ujar Rani. Kebenaran di balik statistik ini memang terletak pada fakta bahwa pendapatan rata‑rata masih belum cukup menutupi semua kebutuhan dasar—lebih-lebih lagi kalau harus menggabungkan dua keluarga.

2. Karier: Mencari Titik Stabil

Karier tidak hanya soal gaji. Bagi banyak orang muda, pekerjaan menjadi platform untuk membangun identitas diri. "Saya ingin jadi senior dulu sebelum mengambil keputusan penting seperti menikah," kata salah seorang profesional muda. Menikah sementara karier belum matang bisa memperlambat langkah atau bahkan membuat mereka terjebak dalam "burnout".

3. Komitmen: Takut Terjerat

Komitmen—bukan hanya janji di hadapan pengadilan. Ini melibatkan tanggung jawab emosional, finansial, bahkan sosial. Budi, yang dulu beranggapan bahwa "menikah itu komitmen seumur hidup," kini lebih skeptis. "Saya takut kalau nanti kita tak lagi bisa bahagia. Kenapa harus melewati semua itu kalau masih ada opsi lain?"

4. Media Sosial: Sumber Inspirasi yang Kadang Menyesatkan

Ketika scrolling Instagram, kita seringkali menemukan "story" pasangan yang seolah‑seolah sempurna. Namun, di balik filter, banyak pasangan yang berakhir dengan perceraian. "Gak nyangka, banyak yang di follow ternyata bercerai." Ini membuat generasi muda semakin skeptis terhadap institusi pernikahan. Media sosial kini menjadi arena di mana kisah perceraian dipublikasikan lebih sering daripada kisah bahagia.

5. Perubahan Nilai Budaya: Pernikahan Jadi Langkah Tambahan

Di masa kini, nilai budaya tentang pernikahan telah bergeser. Sebelumnya, pernikahan dianggap sebagai tahap penting. Kini, banyak yang melihatnya sebagai "langkah tambahan" setelah mencapai kriteria tertentu—misalnya, memiliki pekerjaan tetap, menabung, atau memiliki rencana hidup jelas. Pernikahan bukan lagi menjadi "kewajiban" yang harus diikuti tanpa pikir panjang.

6. Stereotip Gender & Harapan Orang Tua: Tangan Tertutup di Tengah Kebebasan

Meski di era modern, banyak orang tua masih menaruh harapan tertentu pada anak-anaknya. "Dia harus punya pekerjaan dulu, pakai rumah, dan menikah." Sementara generasi muda lebih ingin merdeka dalam memilih waktu dan pasangan. Tentu saja, ini menimbulkan ketegangan, terutama ketika stereotip gender masih menyesatkan.

Bagaimana Menangani Kecemasan Ini?

Berbicara dengan pasangan adalah langkah pertama. "Tanya apa yang kamu rasa penting, dan apa yang ingin kamu capai dulu sebelum menikah." Saling mendengarkan dapat mengurangi ketakutan. Berikut beberapa tips yang bisa dipraktekkan:

  • Berbagi Rencana Finansial: Buat anggaran bersama. Kalau masih ada kendala, carilah solusi yang realistis.
  • Evaluasi Prioritas Karier: Tanyakan apa tujuan profesional masing-masing dan cari cara agar tidak saling menghambat.
  • Komunikasi Terbuka tentang Komitmen: Bicarakan harapan, ekspektasi, dan batasan. Jangan menunggu sampai terjadi masalah.
  • Mengatasi Media Sosial: Jadikan media sebagai sumber inspirasi, bukan penilai. Ingat, setiap pasangan punya cerita unik.
  • Memberi Ruang pada Individu: Perubahan nilai budaya memang wajar, namun tetap penting memberikan ruang bagi masing-masing pribadi untuk berkembang.

Kesimpulan: Pernikahan Itu Lebih dari Satu Keterangan

Pernikahan tidak harus menjadi "jalan" bagi kebahagiaan. Dalam pandangan generasi muda, kebahagiaan bisa dicapai lewat banyak cara—mencapai kesuksesan karier, kebebasan finansial, atau bahkan melalui hubungan yang tidak formal. Yang penting, keputusan tersebut harus didasari pada kesiapan emosional dan finansial yang matang. Jadi, bila kamu atau temanmu masih bingung, cobalah mengatur waktu untuk ngobrol jujur dengan pasangan dan merencanakan masa depan secara bersama-sama. Karena, di dunia yang terus berubah, yang tetap penting adalah saling mendukung dan mengerti satu sama lain.
Teruslah belajar, teruslah berbagi, dan yang paling penting, jangan takut untuk menolak "wajib" menikah jika belum siap. Hidup adalah tentang memilih kebahagiaan, dan pernikahan hanyalah salah satu pilihan di antara banyaknya.
Semoga cerita ini membantu, dan tetap semangat menjalani hari-harimu!