Pentingnya Festival Budaya di Era Digital dan Media Sosial
Redaksi - Saturday, 28 February 2026 | 09:00 AM


Merayakan Akar di Tengah Gempuran FYP: Kenapa Kita Masih Butuh Festival Budaya?
Bayangkan skenario ini: hari Sabtu sore yang gerah, matahari lagi semangat-semangatnya memancarkan radiasi, dan lo baru saja bangun dari tidur siang yang nggak sengaja kebablasan. Biasanya, opsi paling logis adalah lanjut nge-scroll TikTok sampai jempol kapalan atau pesan kopi susu literan via ojek online. Tapi, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara tabuhan kendang yang ritmis, disusul lengkingan serunai yang bikin bulu kuduk sedikit merinding. Tanpa sadar, kaki lo melangkah keluar, mengikuti suara itu, dan berakhir di tengah kerumunan orang yang sedang menonton festival budaya di alun-alun kota.
Jujur saja, di zaman yang serba digital ini, festival budaya seringkali dianggap sebagai acara "orang tua" atau sekadar formalitas dinas pariwisata buat menghabiskan anggaran. Ada stigma kalau acara ginian tuh ngebosenin, panas, dan kalah jauh kerennya dibanding konser musik indie atau festival makanan kekinian yang estetik. Tapi, kalau lo mau sedikit meluangkan waktu buat beneran "hadir" di sana, lo bakal sadar kalau festival budaya itu punya vibe yang nggak bisa digantikan oleh algoritma media sosial mana pun.
Festival budaya itu ibarat sebuah mesin waktu yang nggak butuh bensin atau listrik. Begitu lo masuk ke areanya, lo bakal disambut oleh aroma khas—perpaduan antara bau kemenyan yang tipis, aroma sate yang dibakar di pinggir jalan, sampai bau keringat penonton yang berdesakan. Mungkin buat sebagian orang ini terdengar kacau, tapi buat gue, inilah definisi dari sebuah perayaan yang jujur. Nggak ada filter Paris atau Clarendon di sini; yang ada cuma ekspresi murni dari manusia yang bangga sama identitasnya.
Bukan Sekadar Tontonan, Tapi Tentang Rasa
Kenapa sih kita masih butuh melihat orang menari dengan kostum seberat sepuluh kilogram di bawah terik matahari? Atau kenapa kita masih betah menonton pawai ogoh-ogoh sampai tengah malam? Jawabannya sederhana: kita rindu pada koneksi. Di tengah dunia yang makin individualis ini, festival budaya adalah momen langka di mana sekat-sekat sosial itu mendadak blur. Di depan panggung reog atau barongsai, nggak peduli lo anak skena Jaksel atau abang-abang kurir, semuanya sama-sama melongo kagum saat sang penari melakukan atraksi yang di luar nalar.
Ada semacam energi kolektif yang sulit dijelaskan. Saat ribuan orang bersorak bareng pas melihat gunungan hasil bumi dikirab, itu bukan cuma soal makanan gratis. Itu soal rasa syukur yang dirayakan bareng-bareng. Di sini, kita diingatkan kalau kita tuh punya "akar". Bahwa sebelum kita jadi budak korporat atau pejuang skripsi, kita adalah bagian dari sejarah panjang yang namanya tradisi. Dan jujur aja, ngerasa jadi bagian dari sesuatu yang besar itu bikin perasaan jadi lebih adem, kan?
Wajah Baru Tradisi di Tangan Anak Muda
Menariknya, sekarang festival budaya mulai bertransformasi. Kalau dulu kesannya kaku dan terlalu protokoler, sekarang banyak anak muda yang mulai "turun tangan". Lihat saja bagaimana kain tradisional mulai dipadupadankan dengan sepatu sneakers di acara-acara seperti Citayam Fashion Week (eh, ini masih relevan nggak ya?) atau festival-festival di Jogja dan Bali. Anak muda sekarang nggak cuma jadi penonton, tapi juga kreator. Mereka bikin visual mapping di dinding candi, mereka remix musik gamelan jadi lebih danceable, dan mereka bikin konten sinematik yang bikin tradisi kita kelihatan badass di mata dunia.
Opini gue, ini adalah cara bertahan hidup yang paling keren. Tradisi itu kalau nggak dirawat ya bakal mati, tapi kalau dipaksakan harus tetap sama seperti seratus tahun lalu, ya bakal ditinggalin. Festival budaya jadi ruang negosiasi itu. Tempat di mana pakem-pakem tua bertemu dengan estetika baru. Hasilnya? Sesuatu yang unik dan tetap relevan. Nggak heran kalau sekarang kalau ada festival budaya, yang sibuk ambil foto bukan cuma wartawan senior, tapi juga anak-anak Gen Z yang pengen feed Instagram-nya kelihatan lebih punya "karakter".
Ekosistem yang Menghidupkan Banyak Mulut
Jangan lupakan juga sisi pragmatisnya. Festival budaya itu adalah booster ekonomi yang nyata. Di sekitar area festival, biasanya berjejer pedagang kaki lima yang jualannya aneh-aneh dan enak-enak. Dari telur gulung legendaris sampai jajanan pasar yang namanya aja kita nggak tahu tapi rasanya juara dunia. Festival budaya menghidupkan ekosistem lokal yang mungkin biasanya sepi. Tukang parkir dapet rejeki nomplok, ibu-ibu pembuat kostum dapet orderan, dan pengrajin lokal bisa memamerkan karya mereka tanpa harus bayar biaya sewa booth yang harganya selangit seperti di mal-mal mewah.
Jadi, kalau lo dateng ke festival budaya, lo bukan cuma dapet hiburan. Lo secara nggak langsung lagi bantuin perputaran ekonomi rakyat kecil. Lo lagi bantu supaya seniman-seniman tradisional kita tetap bisa beli beras dan nyekolahin anak-anak mereka. Itu adalah bentuk dukungan paling konkret yang bisa kita kasih selain cuma kasih "like" di postingan tentang pelestarian budaya.
Penutup: Ayo Keluar dan Rayakan!
Akhir kata, festival budaya itu bukan cuma soal seremonial yang membosankan. Ini adalah pesta rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya. Ini adalah tempat di mana kita bisa melepas sejenak beban pikiran soal cicilan atau tekanan kerjaan, dan kembali jadi manusia yang kagum pada keindahan gerak, suara, dan warna. Kadang kita memang perlu diingatkan kalau hidup itu nggak melulu soal produktivitas, tapi juga soal merayakan keberagaman yang kita punya.
Jadi, kalau minggu depan ada info soal festival budaya di kota lo, jangan langsung di-skip. Ajak temen, pacar, atau kalau mau sendirian pun nggak masalah. Siapkan memori HP yang lega buat dokumentasi, pakai baju yang nyaman, dan siap-siap buat terpesona. Karena percaya deh, ada kepuasan batin yang beda banget saat lo berdiri di tengah riuhnya suara gamelan dibanding cuma dengerin lagu lewat earphone. Mari kita rayakan akar kita, sebelum kita terlalu jauh terbang dan lupa cara untuk pulang ke identitas sendiri. Yuk, main ke festival budaya!
Next News

Kenapa Kita Masih Butuh Festival Budaya di Era FYP dan Media Sosial?
21 minutes ago

Gen Z dan Tradisi Daerah: Kolot atau Justru Keren?
21 minutes ago

Thrifting, Mix and Match, dan Capsule Wardrobe: Strategi Fashion Hemat
21 minutes ago

Dari Pasar Senen ke Instagram: Evolusi Tren Thrifting di Indonesia
21 minutes ago

Psikologi di Balik Hobi Koleksi: Kenapa Kita Suka Mengumpulkan Barang yang Tak Masuk Akal?
21 minutes ago

Seni Menjaga Hati dan Dompet Saat Jatuh Cinta di Era Modern
2 days ago

Tips Memilih Kurma Terbaik Saat Jadi Tren di Bulan Ramadan
2 days ago

Kenapa Badan Terasa Lowbat Setiap Hari? Ini Penjelasannya
3 days ago

Lingkaran Setan Emotional Eating dan Dampaknya pada Kesehatan
3 days ago

Hustle Culture dan Burnout: Kenapa Generasi Sekarang Mudah Lelah Mental
3 days ago





