Sabtu, 11 April 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Terinspirasi dari Literasi Pesantren, Miftahur Rozaq Launching Buku 'Di Balik Layar Demokrasi'

Ach. Mukrim - Saturday, 11 April 2026 | 06:46 AM

Background
Terinspirasi dari Literasi Pesantren, Miftahur Rozaq Launching Buku 'Di Balik Layar Demokrasi'
Komisioner KPU Jatim Divisi Perencanaan dan Logistik, Miftahur Rozaq saat melaunching buku di Balik Layar Demokrasi. (Mukrim/Salsa/)


salsabilafm.com - Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur (Jatim) Divisi Perencanaan dan Logistik, Miftahur Rozaq, resmi meluncurkan buku terbarunya berjudul "Di Balik Layar Demokrasi: Refleksi Penyelenggara dan Kepercayaan Publik". Peluncuran buku ini digelar di Rumah Khas Kalimantan (RKK) Pondok Pesantren (Ponpes) Assirojiyyah Kajuk, Kabupaten Sampang, Sabtu (11/4/2026).


Miftahur Rozaq menjelaskan, latar belakang penulisan buku ini berangkat dari keinginannya untuk mendeskripsikan perjalanan dan pengalamannya selama kurang lebih 18 tahun sebagai penyelenggara pemilu. Selain itu, tambahan 2 tahun dia berkecimpung di lembaga Non-Governmental Organizatio (NGO) yang berfokus pada isu kepemiluan dan demokrasi.




Lewat buku yang ditulis, Miftahur Rozaq berikhtiar memberikan kontribusi terhadap khazanah keilmuan, khususnya dalam perspektif yang dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai seorang santri. Dia mencoba menuliskan sejarah secara luas mengenai peran penting santri dalam kehidupan berbangsa, terutama dalam konteks demokrasi. Nilai-nilai pesantren seperti pengabdian, keikhlasan, ketulusan, dan istiqamah menjadi landasan utama yang memotivasinya untuk terus berkontribusi dalam penyelenggaraan pemilu maupun Pilkada.


Dia menjelaskan, nilai-nilai tersebut apabila diformulasikan dalam peran publik, akan menghasilkan dampak yang mendalam bagi kehidupan masyarakat, baik dalam pemerintahan maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari. Sebabnya, dia ingin menunjukkan, nilai-nilai kesantrian memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan integritas penyelenggara pemilu.


Buku "di Balik Layar Demokrasi" juga memberikan gambaran bahwa kesuksesan demokrasi tidak hanya diukur dari proses pemungutan suara pada hari pelaksanaan, seperti antrean panjang di TPS, tetapi juga dari rangkaian panjang proses yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Banyak kerja-kerja sunyi yang dilakukan oleh penyelenggara demi memastikan pemilu berjalan sesuai dengan regulasi dan harapan publik.




"Proses demokrasi baik pemilihan presiden, gubernur, bupati, maupun wali kota memiliki banyak aspek yang tidak terlihat oleh masyarakat. Melalui buku ini, saya ingin membuka wawasan publik agar memahami proses tersebut secara utuh," kata dia. 


Terinspirasi Tradisi Literasi di Pesantren




Sebagai seorang santri, Miftahur Rozaq juga terinspirasi oleh tradisi literasi di pesantren, seperti penulisan matan, syarah, dan hasyiyah. Dia ingin melanjutkan dan melestarikan tradisi keilmuan tersebut melalui karya tulis yang kontekstual dengan dunia modern, khususnya dalam bidang demokrasi.


Rozaq, sapaannya, mengatakan, selain untuk mendeskripsikan pengalaman pribadi selama 18 tahun menjadi penyelenggara pemilu, dia ingin memberikan kontribusi terhadap literasi masyarakat untuk menjadi pedoman dan pembelajaran tentang pelaksanaan pemilu dan Pilkada di Indonesia, khususnya di Jawa Timur dan Kabupaten Sampang, tempat dia pernah berkarier selama 10 tahun.


"Setiap tahapan pemilu pasti memiliki kendala. Namun, dengan berpegang teguh pada regulasi dan peraturan perundang-undangan, serta komitmen yang kuat, berbagai tantangan tersebut dapat diatasi. Hal ini terbukti dari pelaksanaan pemilu dan Pilkada yang berjalan baik dan mendapat apresiasi dari berbagai elemen masyarakat," tuturnya. 




Rozaq juga menyoroti perkembangan demokrasi di Madura yang dinilai semakin membaik dalam beberapa tahun terakhir. Ini ditandai dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan peserta pemilu dalam menyelesaikan sengketa melalui jalur hukum. Selain itu, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan pelanggaran kepada lembaga resmi seperti Bawaslu, DKPP, maupun melalui Mahkamah Konstitusi. Selain itu juga ada peningkatan kualitas partisipasi, tidak hanya secara kuantitas tetapi juga secara kesadaran.


"Kami harap buku ini dapat menjadi pedoman dan sumber pembelajaran bagi masyarakat untuk memahami bagaimana demokrasi dikelola secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi yang tampak di permukaan," katanya.




Memuat Pengalaman, Dinamika dan Konsep Ideal Demokrasi


Rozaq menjelaskan, buku setebal 905 halaman tersebut memuat berbagai aspek. Mulai dari pengalaman pribadi, konsep demokrasi ideal, testimoni dan kesaksian kolega terhadapnya dan berbagai dinamika dan peristiwa dalam penyelenggaraan pemilu


"Seluruhnya dikompilasi menjadi bahan diskusi dan kajian untuk memperbaiki kualitas demokrasi di masa depan," jelasnya.




Pria kelahiran Torjun, Sampang ini menyadari pentingnya masukan dari pembaca terkait isu-isu tertentu seperti peran perempuan dan kecurangan pemilu yang  belum dibahas secara spesifik. Namun demikian, berbagai peristiwa penting seperti pemungutan suara ulang di Sampang dan rekomendasi Bawaslu sebenarnya telah disinggung dalam buku tersebut.


Dia menegaskan, pentingnya menjaga tradisi menulis. Sebab, banyak peristiwa penting yang sering luput dari perhatian jika tidak didokumentasikan. Tradisi literasi ini diyakini dapat memberikan kontribusi besar bagi masyarakat, bangsa, dan negara.




"Kami ingin buku berjudul 'Di Balik Layar Demokrasi' ini dapat memberikan manfaat, memperkaya wawasan, serta menjadi kontribusi nyata dalam upaya meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia," harapnya.


Rozaq melanjutkan, tanggung jawab menjaga dan meningkatkan kualitas demokrasi bukan hanya milik pemerintah atau penyelenggara pemilu, tetapi seluruh elemen masyarakat. 


"Kami apresiasi dan terima kasih kepada para kontributor yang telah memberikan waktu, pemikiran, dan kesaksian terhadap perjalanan hidup dan karier saya, baik dari lingkungan pesantren, akademik, maupun pemerintahan," pungkasnya. (Mukrim)