Selasa, 14 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Self Healing: Apa Benar Bisa Dilakukan Sendiri?

Redaksi - Tuesday, 14 April 2026 | 09:00 AM

Background
Self Healing: Apa Benar Bisa Dilakukan Sendiri?
Self Healing: Apa Benar Bisa Dilakukan Sendiri? ( Istimewa/)

Self Healing: Apa Benar Bisa Dilakukan Sendiri atau Cuma Istilah Biar Bisa Healing-healing-an?

Pernah nggak sih kamu lagi capek banget, kerjaan numpuk, revisi dari atasan nggak kelar-kelar, terus tiba-tiba kepikiran, "Duh, kayaknya gue butuh self healing deh"? Lalu, detik itu juga kamu buka aplikasi travel, pesan tiket pesawat ke Bali, atau minimal check-out keranjang belanjaan yang isinya barang-barang nggak terlalu penting tapi lucu. Pertanyaannya: apakah itu benar-benar self healing, atau jangan-jangan cuma pelarian yang bikin saldo ATM makin kritis?

Istilah "self healing" belakangan ini memang lagi naik daun banget. Di media sosial, dikit-dikit healing. Capek dikit, healing. Patah hati dikit, healing. Padahal, kalau kita bedah pelan-pelan, makna self healing itu nggak sesederhana liburan ke pantai atau nongkrong di kafe estetik sambil dengerin lagu indie. Secara harfiah, self healing adalah proses penyembuhan diri dari luka batin, trauma, atau kelelahan emosional yang dilakukan secara mandiri. Tapi, masalahnya, emang beneran bisa kita lakuin sendiri tanpa bantuan profesional?

Antara Self Healing dan Self Care: Biar Nggak Salah Kaprah

Banyak dari kita yang sering ketuker antara self healing dan self care. Nah, di sini nih letak keruwetannya. Self care itu ibarat kamu ngerawat mesin mobil biar nggak gampang mogok; makan enak, tidur cukup, atau skin care-an sebelum tidur. Sedangkan self healing itu lebih mirip kayak ngebenerin mesin yang udah telanjur rusak atau meledak. Kamu berusaha menyembuhkan luka yang ada di dalam.

Masalahnya, tren sekarang bikin "healing" jadi komoditas. Healing dianggap harus mahal. Padahal, kalau habis pulang liburan kamu malah pusing mikirin tagihan kartu kredit, itu namanya bukan healing, tapi nambah masalah baru. Sebenarnya, inti dari penyembuhan diri itu adalah rekoneksi dengan diri sendiri, bukan malah lari dari kenyataan lewat kemewahan sesaat.

Emangnya Bisa Dilakukan Sendiri?

Jawabannya: Bisa, tapi ada syarat dan ketentuannya. Kayak promo belanja online, nggak semuanya bisa dipukul rata. Untuk stres ringan atau luka-luka batin yang sifatnya "lecet", kita memang punya kemampuan alami untuk pulih. Manusia itu dibekali mekanisme pertahanan diri yang luar biasa. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan sendiri tanpa harus langsung lari ke psikolog.



Pertama, ada yang namanya journaling. Kedengarannya mungkin sepele atau "anak senja" banget, tapi nulis apa yang kamu rasain di atas kertas itu efektif banget buat ngeluarin sampah visual di kepala. Daripada dipendam atau malah jadi marah-marah nggak jelas di Twitter (X), mendingan ditumpahin ke buku harian. Dengan nulis, kita jadi bisa ngelihat masalah dari sudut pandang yang lebih objektif.

Kedua, mindfulness. Ini bukan soal meditasi di tengah hutan sambil duduk bersila doang. Mindfulness itu sesederhana kamu sadar penuh saat lagi makan, sadar penuh saat lagi jalan kaki, dan nggak ngebiarin pikiran melayang ke masa lalu yang pahit atau masa depan yang bikin cemas. Intinya, be present. Tapi jujur aja, prakteknya emang nggak segampang ngomongnya, apalagi kalau notifikasi WhatsApp kerjaan bunyi terus.

Bahayanya Sok Tahu dengan Luka Sendiri

Nah, ini nih sisi gelap dari self healing yang kebablasan. Ada kalanya kita merasa bisa nanganin semuanya sendiri, padahal luka yang kita punya itu udah masuk kategori "luka dalam" yang butuh jahitan profesional. Banyak anak muda sekarang yang terjebak dalam self-diagnosis. Baca artikel dikit di internet, terus langsung ngeklaim, "Oh, gue trauma karena inner child gue terluka," atau "Gue kayaknya bipolar deh."

Hati-hati, lho. Mengobati luka batin sendirian tanpa panduan yang jelas itu berisiko banget. Bukannya sembuh, yang ada malah kita terjebak dalam lingkaran setan yang namanya rumination—alias mikirin masalah terus-menerus tanpa ada solusinya. Kita cuma muter-muter di rasa sakit yang sama tanpa tahu cara keluarnya. Di titik ini, "self" dalam self healing udah nggak memadai lagi.

Kapan Harus Panggil "Mekanik"?

Coba bayangin kalau kamu punya luka di tangan. Kalau cuma kegores kertas, oke lah pakai plester sendiri sembuh. Tapi kalau lukanya kena paku berkarat dan terus bernanah, apa iya mau diobatin pakai air hangat doang? Pasti butuh dokter, kan? Begitu juga dengan mental kita.



Kalau kamu merasa sedihnya udah nggak masuk akal, susah tidur berhari-hari, kehilangan minat sama hobi yang biasanya kamu suka, atau malah ada kepikiran buat nyakitin diri sendiri, itu tandanya kamu butuh bantuan profesional. Pergi ke psikolog atau psikiater itu bukan berarti kamu "gila". Itu justru tanda kalau kamu cukup cerdas dan berani buat mengakui kalau kamu nggak sedang baik-baik saja.

Nggak usah malu. Sekarang akses ke layanan kesehatan mental udah jauh lebih gampang dan nggak se-tabu dulu. Malah keren nggak sih, kalau kita tahu kapan harus berhenti berusaha sendiri dan mulai dengerin saran dari ahlinya? Itu namanya self-awareness level dewa.

Kesimpulannya: Healing Itu Perjalanan, Bukan Destinasi

Jadi, balik lagi ke pertanyaan awal: Apa benar bisa dilakukan sendiri? Jawabannya adalah ya, kita bisa mengawali proses penyembuhan itu dari diri sendiri. Kita adalah aktor utama dalam kesembuhan kita. Tapi, jangan menutup mata kalau di tengah jalan kita butuh "coaching" atau bantuan orang lain.

Self healing yang sejati itu bukan soal seberapa jauh kamu terbang ke luar kota atau seberapa mahal kopi yang kamu minum. Self healing itu soal keberanian buat jujur sama diri sendiri, nerima kalau kita punya luka, dan pelan-pelan belajar buat memaafkan keadaan. Kadang, healing itu sesederhana mematikan handphone selama dua jam, narik napas dalam-dalam, dan bilang ke diri sendiri, "Nggak apa-apa kalau hari ini gue nggak produktif, yang penting gue masih bertahan."

Jadi, buat kamu yang lagi ngerasa dunianya lagi runtuh, jangan buru-buru boncos beli ini itu atas nama healing. Coba dengerin dulu apa yang bener-bener dibutuhin sama hati kamu. Siapa tahu, yang kamu butuhin cuma tidur lebih awal atau sekadar cerita ke sahabat karib sambil makan mi instan di pinggir jalan. Stay sane, ya!