Sabtu, 9 Mei 2026
Salsabila FM
Life Style

Scroll Terus Tapi Nggak Happy: Fenomena Capek Sosial Media

Redaksi - Saturday, 09 May 2026 | 08:00 AM

Background
Scroll Terus Tapi Nggak Happy: Fenomena Capek Sosial Media
Scroll Terus Tapi Nggak Happy: Fenomena Capek Sosial Media ( Istimewa/)

Scroll Terus Tapi Nggak Happy: Fenomena Capek Sosial Media yang Bikin Mental 'Kojor'

Bayangkan skenario ini: jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, lampu kamar sudah padam, tapi layar ponselmu masih menyala terang benderang. Jempolmu bergerak lincah, melakukan gerakan refleks yang sudah mendarah daging—scroll bawah, scroll lagi, sesekali ketuk dua kali kalau ada foto kucing lucu atau teman yang lagi pamer liburan di Labuan Bajo. Tapi jujur deh, di tengah aktivitas itu, apa kamu merasa benar-benar terhibur? Atau justru dadamu terasa sedikit sesak dan kepalamu mulai terasa berat?

Kalau jawabannya adalah yang kedua, selamat, kamu sedang terjebak dalam fenomena yang sering disebut sebagai social media fatigue atau kelelahan media sosial. Ini adalah kondisi di mana kita merasa jenuh, lelah, bahkan muak dengan kebisingan dunia maya, tapi anehnya, kita nggak bisa berhenti. Kita seperti zombie digital yang terus mengonsumsi konten tanpa benar-benar mencernanya. Istilah kerennya sekarang adalah doomscrolling—terus-terusan menelan informasi negatif atau tidak penting sampai kita merasa lemas sendiri.

Kenapa Kita Tetap Scroll Padahal Sudah Enek?

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa sih berhenti main Instagram atau TikTok saja susah banget? Padahal kita tahu kalau konten-konten itu seringkali cuma bikin kita overthinking. Masalahnya, platform-platform ini memang didesain oleh para insinyur paling pintar di dunia untuk membuat kita kecanduan. Fitur infinite scroll itu bukan tanpa alasan dibuat tanpa ujung; tujuannya supaya otak kita nggak dapat sinyal berhenti. Secara psikologis, ada yang namanya dopamine hit—setiap kali kita melihat konten baru yang menarik, otak melepaskan sedikit hormon kesenangan. Kita jadi seperti pecandu yang terus mencari "kejutan" berikutnya di balik setiap scroll.

Tapi masalahnya, dopamine itu sifatnya sementara. Setelah lewat beberapa jam, yang tersisa cuma rasa kosong. Kita melihat hidup orang lain yang seolah tanpa cela. Si A baru saja keterima kerja di perusahaan big four, si B baru saja lamaran dengan dekorasi estetik, sementara kita? Kita cuma rebahan dengan remah-remah keripik di atas kaus oblong yang sudah bolong. Di sinilah letak racunnya. Kita mulai membandingkan "behind the scenes" hidup kita yang berantakan dengan "highlight reel" orang lain yang sudah dikurasi sedemikian rupa.

Lingkaran Setan FOMO dan Kelelahan Mental

Faktor lain yang bikin kita capek tapi tetap bertahan adalah FOMO alias Fear of Missing Out. Kita takut kalau nggak buka Twitter (atau X) selama beberapa jam saja, kita bakal ketinggalan drama terbaru, istilah gaul yang baru muncul, atau isu politik yang lagi digoreng netizen. Kita merasa harus selalu 'update' supaya tetap relevan dalam pergaulan. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, apa untungnya buat kesehatan mental kita tahu kalau ada selebgram yang lagi berantem sama pacarnya?



Kelelahan ini makin menjadi-jadi karena sekarang semua orang merasa punya kewajiban untuk "perform". Kita nggak cuma jadi penonton, tapi juga merasa terbebani untuk ikut pamer. Mau makan saja harus ditata dulu supaya layak masuk Story. Mau jalan-jalan saja pusing mikirin outfit supaya fotonya bagus di feed. Aktivitas yang seharusnya menyenangkan malah berubah jadi kerjaan tambahan yang nggak dibayar. Capek nggak sih kalau hidup cuma demi validasi dari orang-orang yang bahkan nggak benar-benar peduli sama kita?

Tanda-Tanda Kamu Harus Segera 'Log Out'

Gimana caranya tahu kalau kamu sudah di tahap gawat? Coba cek tanda-tanda berikut. Pertama, kamu merasa gampang marah atau tersinggung cuma gara-gara baca komentar orang asing di internet. Kedua, kamu mulai merasa iri yang mendalam tiap kali melihat pencapaian teman, bukannya ikut senang. Ketiga, rentang perhatianmu alias attention span jadi makin pendek. Mau baca buku atau nonton film durasi dua jam saja rasanya nggak betah karena tangan sudah gatal ingin cek notifikasi.

Kalau kamu sudah di tahap ini, artinya baterai mentalmu sudah merah. Kamu nggak butuh scrolling lebih banyak; kamu butuh koneksi nyata. Media sosial itu ibarat micin dalam kehidupan digital kita. Enak sih, bikin nagih, tapi kalau kebanyakan bisa bikin pusing dan nggak sehat buat jangka panjang.

Langkah Kecil Biar Nggak Terus Terpuruk

Terus, apa solusinya? Harus banget hapus semua akun sosial media? Ya nggak juga, sih. Kita hidup di tahun 2024, di mana pekerjaan dan komunikasi seringkali lewat sana. Tapi kita bisa kok melakukan "diet digital". Mulailah dengan langkah kecil, misalnya jangan langsung buka HP begitu bangun tidur. Kasih otakmu waktu buat bernapas minimal 30 menit tanpa gangguan dunia luar.

Cara lain yang cukup ampuh adalah dengan mematikan notifikasi yang nggak penting. Kamu nggak perlu tahu setiap kali ada orang yang menyukai fotomu secara real-time. Kamu juga bisa mulai melakukan "unfollow" massal pada akun-akun yang nggak memberikan nilai positif atau malah bikin kamu merasa rendah diri. Jangan merasa nggak enak, ini demi kewarasanmu sendiri kok.



Intinya, sosial media itu cuma alat, bukan pusat kehidupan. Dunia yang nyata itu ada di depan matamu, bukan di balik layar lima inci itu. Cobalah sesekali buat menikmati kopi tanpa harus memotretnya, atau jalan-jalan sore tanpa harus update lokasi. Kadang-kadang, kebahagiaan yang paling hakiki justru muncul saat kita nggak sibuk membagikannya ke orang lain. Ingat, jempolmu butuh istirahat, dan otakmu butuh ketenangan. Yuk, pelan-pelan kita kurangi scroll-nya, dan mulai jalani hidup yang sebenarnya.