Kamis, 7 Mei 2026
Salsabila FM
Life Style

Filosofi Ikan: Dari Pecel Lele sampai Ikan Hias Miliaran, Kenapa Kita Nggak Bisa Lepas dari Dunia Air

Redaksi - Thursday, 07 May 2026 | 10:10 AM

Background
Filosofi Ikan: Dari Pecel Lele sampai Ikan Hias Miliaran, Kenapa Kita Nggak Bisa Lepas dari Dunia Air
Filosofi Ikan: Dari Pecel Lele sampai Ikan Hias Miliaran, Kenapa Kita Nggak Bisa Lepas dari Dunia Air ( Istimewa/)

Filosofi Ikan: Dari Piring Warteg Sampai Investasi Ratusan Juta

Pernah nggak sih lo lagi makan di Warteg, terus bingung mau milih antara tongkol balado atau lele goreng? Atau mungkin lo tipe orang yang rela mantengin akuarium berjam-jam cuma buat ngeliatin ikan cupang kesayangan lo muter-muter nggak jelas? Ikan itu emang ajaib. Dia bukan cuma sekadar makhluk air yang bernapas pake insang, tapi sudah jadi bagian dari budaya, gaya hidup, sampai ladang bisnis yang kadang nggak masuk akal sehat.

Kalau kita ngomongin ikan di Indonesia, ingatan kita pasti nggak jauh-jauh dari sosok Bu Susi Pudjiastuti dengan jargon legendarisnya: "Yang nggak makan ikan, tenggelamkan!" Kalimat itu nggak cuma jadi meme, tapi semacam pengingat keras kalau negara kita ini dua pertiganya adalah air. Lucu aja kan kalau kita yang tinggal di negara kepulauan tapi malah jarang makan protein laut? Padahal, kalau mau jujur, ikan itu paket lengkap. Murah ada, mahal banget ada, sehatnya udah pasti, dan rasanya? Duh, nggak usah ditanya lagi.

Ikan Sebagai Pahlawan Meja Makan

Coba deh lo bayangin dunia tanpa Pecel Lele. Suram banget, kan? Warung tenda dengan spanduk lukisan tangan yang khas itu sudah jadi penyelamat perut jutaan mahasiswa dan pekerja di akhir bulan. Lele, ikan yang bentuknya mungkin nggak estetik-estetik amat bagi sebagian orang, berubah jadi "comfort food" yang juara pas dipaduin sama sambal korek dan ulekan terasi yang nendang. Di sini kita belajar kalau kasta ikan di piring itu sangat demokratis.

Di sisi lain, ada ikan yang naik kelas jadi makanan elite. Lo tinggal pergi ke restoran Jepang, pesen sashimi salmon atau tuna bluefin, dan tiba-tiba tagihan lo bisa setara cicilan motor bulanan. Ikan yang sama-sama berenang di air, tapi nasibnya beda jauh. Yang satu berakhir di ulekan sambal, yang satu lagi diiris tipis-tipis pakai pisau seharga jutaan rupiah di atas piring keramik estetik. Tapi ya itulah uniknya. Ikan bisa jadi teman merakyat, bisa juga jadi simbol status sosial yang bikin orang lain berdecak kagum.

Waktu Ikan Jadi Investasi dan Hobi "Gila"

Masih inget nggak waktu pandemi kemarin? Pas semua orang gabut di rumah, tiba-tiba tren pelihara ikan meledak. Ikan Cupang yang dulu harganya cuma seribuan di depan SD, tiba-tiba harganya bisa jutaan rupiah karena "form" dan warnanya yang dianggap seni. Belum lagi fenomena ikan Channa alias gabus hias. Siapa sangka ikan yang biasanya kita temuin di rawa atau selokan, sekarang punya kontes kecantikan sendiri dengan hadiah yang nggak main-main.



Bagi sebagian orang, melihara ikan itu terapi. Ngeliat gerakan ekor yang melambai-lambai di air itu punya efek "healing" yang instan. Tapi buat kolektor kelas kakap, ikan itu aset. Lihat aja Arwana Super Red. Ikan ini bukan cuma peliharaan, tapi simbol keberuntungan dan kemakmuran. Harganya? Bisa buat beli mobil baru. Gue pribadi sih kadang mikir, ini ikan kalau tiba-tiba mati, yang punya nangisnya kayak gimana ya? Pasti nyeseknya sampai ke ulu hati, bukan cuma karena kehilangan peliharaan, tapi juga karena duit ratusan juta melayang gitu aja.

Realita di Balik Keindahan Air

Tapi ya, di balik serunya ngomongin kuliner dan hobi, ada sisi gelap yang harus kita sadari. Laut kita lagi nggak baik-baik saja. Isu microplastic itu nyata, kawan. Ikan-ikan yang kita makan itu, tanpa kita sadari, mungkin sudah terpapar sampah plastik yang kita buang sembarangan ke sungai. Belum lagi soal overfishing yang bikin beberapa jenis ikan makin susah dicari. Sedih nggak sih kalau nanti cucu kita cuma bisa liat gambar ikan tuna di buku sejarah tanpa tahu rasanya?

Makanya, sekarang ini makin banyak gerakan yang ngajakin kita buat lebih peduli. Mulai dari pilih ikan hasil budidaya yang berkelanjutan sampai ngurangin penggunaan plastik sekali pakai. Kedengarannya klise, tapi ya emang itu kenyataannya. Kalau kita mau tetep bisa nikmatin ikan bakar di pinggir pantai sambil dengerin deburan ombak, kita juga harus jaga "rumah" mereka.

Ikan dan Identitas Kita

Pada akhirnya, ikan adalah cerminan kita sebagai bangsa maritim. Dari cara kita masak pindang yang seger di Palembang, sampai papeda bungkus ikan kuah kuning di Papua, ikan sudah menyatukan lidah kita yang berbeda-beda. Dia bukan cuma soal nutrisi atau hobi mahal, tapi soal gimana kita berinteraksi dengan alam sekitar. Ikan itu bukti kalau alam kita kaya banget, asal kita tahu cara ngelolanya dan nggak serakah.

Jadi, gimana? Hari ini lo udah makan ikan belum? Kalau belum, gampanglah, tinggal jalan ke depan komplek, cari abang-abang pecel lele, dan pesen satu porsi lengkap dengan kol gorengnya. Atau kalau lo punya budget lebih, bolehlah mampir ke sushi bar. Apapun pilihannya, yang penting nikmatin setiap suapannya. Karena di dalam piring itu, ada cerita panjang dari kedalaman air sampai akhirnya mampir ke perut lo. Ikan itu asyik, menyehatkan, dan pastinya bikin hidup kita lebih berwarna—baik itu di dalam akuarium maupun di atas meja makan.