Sabtu, 9 Mei 2026
Salsabila FM
Life Style

Jadi Laki-Laki di Era Sekarang: Antara Tanggung Jawab dan Tekanan

Redaksi - Saturday, 09 May 2026 | 08:00 AM

Background
Jadi Laki-Laki di Era Sekarang: Antara Tanggung Jawab dan Tekanan
Jadi Laki-Laki di Era Sekarang: Antara Tanggung Jawab dan Tekanan ( Istimewa/)

Dilema Laki-Laki Zaman Now: Antara Jadi Tulang Punggung atau Punggung yang Pegal

Pernah nggak sih lo lagi nongkrong di coffee shop, terus tiba-tiba kepikiran soal masa depan? Bukan cuma soal besok makan apa, tapi lebih ke pertanyaan eksistensial: "Gue ini sebenarnya harus jadi cowok yang kayak gimana sih?" Di satu sisi, ada tuntutan buat jadi sosok yang mapan dan kuat. Di sisi lain, dunia sudah berubah, dan kita seringkali merasa terjepit di tengah-tengah ekspektasi yang nggak ada habisnya.

Menjadi laki-laki di era sekarang itu rasanya kayak main game level 'hard' tapi tutorialnya masih pakai buku manual tahun 90-an. Kita dibesarkan dengan narasi kalau laki-laki nggak boleh nangis, harus jadi pelindung, dan pokoknya harus punya 'cuan' melimpah. Tapi di realita sekarang, harga rumah makin nggak masuk akal, kompetisi cari kerja makin gila, dan kesehatan mental bukan lagi sekadar mitos buat kaum senja.

Beban Klasik yang Nggak Pernah Benar-Benar Hilang

Mari kita jujur-jujuran. Meskipun narasi kesetaraan gender sudah makin kencang—dan itu bagus banget—tapi ekspektasi terhadap laki-laki sebagai 'provider' atau penyedia utama itu belum benar-benar luntur. Masih banyak banget tekanan kalau laki-laki baru dianggap 'berhasil' kalau sudah punya aset, punya mobil, atau minimal bisa bayarin semua tagihan pas kencan.

Beban ini seringkali bikin banyak laki-laki merasa gagal sebelum berperang. Ada semacam ketakutan yang nggak terucap: "Gimana kalau gue nggak mampu?" Tekanan ekonomi ini bukan cuma soal perut, tapi soal harga diri. Fenomena 'sandwich generation' juga makin memperparah kondisi. Bayangin, harus menanggung beban orang tua, adik-adik, sekaligus harus nabung buat masa depan sendiri. Kalau diibaratkan fisik, ini bukan lagi tulang punggung yang kuat, tapi punggung yang sudah butuh koyo setiap malam.

Gengsi dan Ruang untuk Rapuh

Masalahnya, di tengah semua tekanan itu, laki-laki seringkali nggak punya tempat buat curhat. Ada semacam aturan tak tertulis kalau laki-laki yang terlalu banyak mengeluh itu 'lemah' atau nggak 'macho'. Alhasil, banyak dari kita yang memilih buat memendam semuanya sendiri. Kita lebih memilih diam sambil ngerokok atau main game sampai pagi daripada harus bilang ke teman kalau kita lagi merasa cemas banget soal karier.



Padahal, laki-laki juga manusia yang punya limit. Kita bisa capek, bisa burnout, dan sangat butuh divalidasi. Lucunya, di media sosial, kita sering disuguhi konten-konten "Alpha Male" atau "Sigma" yang seolah-olah ngasih resep kalau laki-laki itu harus stoik, dingin, dan nggak butuh siapa-siapa. Padahal, menutup diri dari emosi itu justru yang bikin kesehatan mental laki-laki makin terpuruk. Kita butuh narasi baru bahwa menjadi rapuh bukan berarti kehilangan kejantanan.

Media Sosial: Standar Sukses yang Makin Absurd

Nggak bisa dimungkiri, scrolling Instagram atau TikTok sering bikin kita merasa jadi manusia paling nggak berguna sedunia. Baru buka aplikasi, sudah lihat orang umur 22 tahun punya startup dan pamer saldo rekening miliaran. Di sisi lain, ada juga standar fisik yang makin gila: harus punya badan atletis, kulit glowing, dan outfit brand ternama agar dianggap 'berkelas'.

Standar sukses yang terdistorsi ini bikin tekanan buat laki-laki makin berlapis. Kita jadi merasa harus berkompetisi di segala lini. Padahal, realitanya, hidup itu bukan perlombaan lari cepat. Setiap orang punya garis start dan rintangan yang beda-beda. Tapi ya namanya juga manusia modern, rasa FOMO (Fear of Missing Out) itu seringkali lebih kuat daripada logika kita sendiri.

Mencari Jalan Tengah: Menjadi Laki-Laki yang Manusiawi

Lalu, solusinya gimana? Apakah kita harus kembali ke gaya lama yang kaku, atau justru pasrah saja dengan keadaan? Kayaknya sih, kita perlu cari jalan tengah. Menjadi bertanggung jawab itu wajib, tapi jangan sampai tanggung jawab itu membunuh sisi kemanusiaan kita.

Berikut adalah beberapa hal yang mungkin bisa kita renungkan bareng-bareng:



  • Berhenti Membandingkan Diri: Klise memang, tapi penting. Kesuksesan orang lain yang lo lihat di medsos itu cuma 'highlights'-nya saja. Lo nggak tahu berapa banyak drama dan kegagalan di baliknya.
  • Belajar Komunikasi Emosional: Nggak usah gengsi buat bilang capek ke pasangan, teman, atau keluarga. Laki-laki yang berani jujur soal perasaannya itu sebenarnya jauh lebih kuat daripada yang cuma bisa mendam.
  • Definisikan Ulang Makna 'Sukses': Sukses nggak harus selalu soal materi. Berhasil menjaga kesehatan mental, punya hubungan yang sehat dengan orang sekitar, dan tetap konsisten berjuang itu sudah sebuah pencapaian besar.
  • Cari Komunitas yang Sehat: Cari lingkungan tongkrongan yang nggak cuma bahas soal pamer harta atau merendahkan orang lain, tapi yang bisa diajak diskusi soal hal-hal yang lebih dalam.

Menjadi laki-laki di era sekarang memang menantang banget. Kita berada di masa transisi antara nilai-nilai tradisional dan modernitas yang serba cepat. Tapi, satu hal yang perlu diingat: nggak ada satu standar tunggal buat jadi laki-laki yang 'benar'.

Lo nggak harus jadi pahlawan setiap saat. Kadang, jadi manusia biasa yang tahu kapan harus istirahat dan kapan harus berjuang itu sudah lebih dari cukup. Jadi, buat lo yang hari ini ngerasa berat banget bawa beban tanggung jawab, tarik napas dulu. Lo nggak sendirian, dan lo nggak harus sempurna untuk dianggap berharga.