Kenapa Badan Terasa Lowbat Setiap Hari? Ini Penjelasannya
Redaksi - Wednesday, 25 February 2026 | 09:00 AM


Kenapa Sih Kita Mudah Lelah? Menelusuri Jejak Capek yang Nggak Masuk Akal
Pernah nggak sih kamu merasa kalau baru bangun tidur, tapi rasanya pengen tidur lagi? Atau baru duduk di depan laptop sepuluh menit, tapi punggung rasanya sudah minta dipijat layaknya kakek-kakek usia delapan puluh tahun? Padahal kalau diingat-ingat, seharian kemarin kamu nggak habis angkat beras sepuluh karung atau lari maraton keliling kota. Fenomena ini sering kita sebut sebagai "generasi jompo," sebuah istilah yang sekarang jadi identitas kolektif anak muda masa kini yang dikit-dikit koyo, dikit-dikit minyak kayu putih.
Masalahnya, capek itu bukan cuma soal fisik yang terkuras habis. Lelah yang kita rasakan seringkali punya akar yang lebih dalam daripada sekadar kurang jam tidur. Kalau kamu merasa lelah sepanjang waktu meskipun sudah rebahan seharian, mungkin ada yang salah dengan cara kita menjalani hidup di zaman yang serba cepat ini. Mari kita bedah bareng-bareng kenapa raga dan jiwa kita ini rasanya gampang banget lowbat.
Doomscrolling: Pencuri Energi yang Tak Terlihat
Coba jujur, apa hal pertama yang kamu lakukan pas bangun tidur? Kebanyakan dari kita bakal meraba-raba kasur, nyari ponsel, lalu langsung buka media sosial. Niatnya sih cuma pengen liat jam atau ngecek notifikasi sebentar, eh tahu-tahu sudah satu jam berlalu buat scroll TikTok atau Instagram. Aktivitas yang kita anggap sebagai hiburan ini sebenarnya adalah bentuk kerja paksa buat otak kita.
Saat kamu melihat ratusan potongan informasi dalam waktu singkat—mulai dari berita politik yang bikin darah tinggi, video kucing lucu, sampai pamer kemewahan teman SMA yang sudah sukses—otakmu dipaksa memproses emosi yang campur aduk. Fenomena ini bikin mental kita mengalami kelelahan sensorik. Jadi, meskipun badanmu cuma tiduran di kasur, otakmu itu sedang lari maraton memproses data. Jangan heran kalau akhirnya kamu merasa capek luar biasa sebelum hari benar-benar dimulai.
Hustle Culture dan Beban Pikiran yang Melampaui Kapasitas
Kita hidup di era di mana produktivitas dipuja-puja seperti agama baru. Kalau nggak sibuk, rasanya berdosa. Kalau nggak punya side hustle, rasanya tertinggal. Tekanan sosial untuk selalu "on" dan selalu berprestasi ini bikin kita sulit untuk benar-benar rileks. Istilah kerennya adalah decision fatigue dan mental load.
Bayangkan setiap hari kamu harus memikirkan target kerjaan, cicilan yang belum lunas, ekspektasi orang tua, sampai urusan mau makan siang apa saja bisa jadi beban pikiran. Pikiran yang terlalu penuh ini seperti aplikasi yang berjalan di latar belakang (background apps) di ponselmu. Meskipun nggak kamu gunakan secara aktif, mereka tetap menyedot baterai sampai habis. Inilah alasan kenapa capek pikiran seringkali terasa jauh lebih berat daripada capek fisik. Capek fisik bisa dibawa tidur, tapi capek pikiran seringkali bikin kita insomnia.
Gula dan Kafein: Penolong Semu yang Menipu
Banyak dari kita yang mengandalkan kopi sebagai bensin utama untuk memulai hari. Satu gelas kopi di pagi hari memang bikin segar, tapi kalau sudah gelas ketiga atau keempat, itu namanya sudah darurat. Kafein sebenarnya tidak memberi energi; dia cuma "meminjam" energi dari masa depan dengan cara memblokir reseptor di otak yang bertugas memberi tahu bahwa kita lelah.
Belum lagi urusan makanan manis. Kita sering kompensasi rasa capek dengan makan yang manis-manis, alias sugar rush. Masalahnya, setelah lonjakan gula darah itu selesai, tubuh kita bakal mengalami sugar crash yang bikin lemasnya berlipat ganda. Akhirnya kita terjebak dalam siklus: capek, minum manis/kafein, segar sebentar, lalu lemas total lagi. Tubuh kita itu butuh nutrisi beneran, bukan cuma lonjakan glukosa yang cuma numpang lewat.
Kurang Gerak Alias Terlalu Banyak Mager
Ini terdengar kontradiktif, tapi cara terbaik untuk mengatasi rasa capek justru terkadang dengan bergerak. Banyak dari kita yang kerjanya duduk diam di depan meja selama delapan jam atau lebih. Saat kita kurang gerak, sirkulasi oksigen dalam darah jadi kurang lancar. Jantung jadi malas bekerja optimal, dan otot-otot tubuh jadi kaku.
Pernah nggak ngerasa kalau habis seharian rebahan di hari Minggu, badan malah terasa jauh lebih pegal dibandingkan hari kerja? Itu karena tubuh kita didesain untuk bergerak. Gerak fisik ringan, kayak jalan kaki ke depan kompleks atau sekadar peregangan, bisa membantu melepaskan endorfin dan bikin aliran darah lebih lancar. Jadi, kalau kamu merasa lelah, coba jangan langsung rebahan lagi. Coba jalan kaki sebentar, siapa tahu bateraimu malah terisi ulang.
Kualitas Tidur yang Semakin Amburadul
Tidur delapan jam itu penting, tapi kualitas tidur itu jauh lebih krusial. Banyak orang tidur cukup lama, tapi kualitasnya buruk karena sebelum tidur mereka "mandi" cahaya biru dari layar ponsel. Cahaya ini menghambat produksi melatonis, hormon yang bikin kita tidur nyenyak. Alhasil, tidur kita cuma sampai permukaan saja, nggak sampai ke fase Deep Sleep yang berfungsi buat memulihkan sel-sel tubuh.
Belum lagi kebiasaan membawa masalah kerjaan ke atas kasur. Kasur yang seharusnya jadi tempat sakral buat istirahat malah jadi tempat buat overthinking. Kalau pikiranmu masih "berisik" saat lampu sudah dimatikan, ya jelas saja besok paginya kamu bakal bangun dengan perasaan seperti habis digebuki massa.
Kesimpulan: Yuk, Dengerin Badan Sendiri
Lelah itu manusiawi, tapi kalau capek terus-menerus padahal nggak ada kegiatan berat, itu adalah sinyal dari tubuhmu kalau ada sesuatu yang harus diubah. Mungkin kamu perlu detoks media sosial, mungkin kamu perlu mengurangi kopi, atau mungkin kamu cuma butuh duduk diam tanpa melakukan apa-apa selama sepuluh menit tanpa memegang ponsel.
Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Di dunia yang menuntut kita untuk selalu cepat, memilih untuk melambat adalah sebuah bentuk keberanian. Capek itu valid, tapi jangan sampai kamu membiarkan dirimu habis hanya untuk memenuhi ekspektasi dunia yang nggak ada habisnya. Cobalah istirahat dengan benar, bukan cuma sekadar berhenti bekerja, tapi benar-benar mengistirahatkan pikiran dan hatimu.
Next News

Kenapa Kita Masih Butuh Festival Budaya di Era FYP dan Media Sosial?
14 minutes ago

Pentingnya Festival Budaya di Era Digital dan Media Sosial
14 minutes ago

Gen Z dan Tradisi Daerah: Kolot atau Justru Keren?
14 minutes ago

Thrifting, Mix and Match, dan Capsule Wardrobe: Strategi Fashion Hemat
14 minutes ago

Dari Pasar Senen ke Instagram: Evolusi Tren Thrifting di Indonesia
14 minutes ago

Psikologi di Balik Hobi Koleksi: Kenapa Kita Suka Mengumpulkan Barang yang Tak Masuk Akal?
14 minutes ago

Seni Menjaga Hati dan Dompet Saat Jatuh Cinta di Era Modern
2 days ago

Tips Memilih Kurma Terbaik Saat Jadi Tren di Bulan Ramadan
2 days ago

Lingkaran Setan Emotional Eating dan Dampaknya pada Kesehatan
3 days ago

Hustle Culture dan Burnout: Kenapa Generasi Sekarang Mudah Lelah Mental
3 days ago





