Seni Menjaga Hati dan Dompet Saat Jatuh Cinta di Era Modern
Redaksi - Thursday, 26 February 2026 | 03:10 PM


Menakar Kadar Cinta di Tengah Gempuran Era Talking Stage dan Situationship
Kalau kita bicara soal cinta, rasanya topik ini nggak bakal ada habisnya sampai negara api menyerang sekalipun. Dari zaman kakek-nenek kita yang modalnya cuma surat-suratan lewat pos, sampai zaman sekarang yang modalnya cuma geser kanan di aplikasi kencan, esensi cinta itu sebenarnya masih sama: bikin jantung deg-degan nggak karuan tapi juga bikin kantong bolong kalau nggak hati-hati. Tapi jujur deh, mendefinisikan cinta di era sekarang itu jauh lebih ribet daripada nyusun skripsi atau nyari alamat di gang sempit Jakarta.
Dulu, cinta itu terasa sangat sakral. Ada proses yang namanya pendekatan alias PDKT yang beneran butuh usaha. Sekarang? Semuanya serba instan. Kita bisa kenalan sama orang sambil rebahan, pakai kaos oblong yang sudah bolong di bagian ketiak, sambil scroll profil media sosial si target. Namun, di balik kemudahan itu, ada harga yang harus dibayar. Cinta jadi terasa makin cair, makin membingungkan, dan seringkali terjebak dalam istilah-istilah baru yang bikin kepala pusing, mulai dari talking stage yang nggak berujung sampai situationship alias HTS (Hubungan Tanpa Status) yang bikin batin ambyar.
Algoritma Cinta dan Dilema Layar Kaca
Pernah nggak sih kalian merasa kalau mencari cinta sekarang itu kayak lagi belanja di marketplace? Kita melihat foto-foto yang dipajang dengan filter terbaik, membaca deskripsi singkat yang kadang terlalu dipaksakan biar kelihatan keren, dan kalau merasa cocok, kita "checkout" dengan memulai obrolan. Tapi masalahnya, manusia itu bukan barang yang kalau nggak cocok bisa langsung di-retur lewat ekspedisi. Banyak dari kita yang terjebak dalam ekspektasi visual. Begitu ketemu aslinya, eh, ternyata obrolannya nggak nyambung sama sekali.
Kondisi ini diperparah dengan budaya "validasi" di media sosial. Cinta zaman sekarang seringkali diukur dari seberapa sering pasangan kita nge-post foto kita di Instagram Story atau apakah dia mau pakai baju sarimbit pas kondangan. Kita jadi lupa kalau esensi cinta itu ada pada interaksi nyata, pada bagaimana kita menertawakan hal bodoh yang sama, atau bagaimana dia tetap ada pas saldo ATM kita lagi di titik nadir. Cinta itu bukan tentang algoritma, tapi tentang chemistry yang kadang-kadang munculnya justru pas kita lagi nggak dandan sama sekali.
Antara Red Flags dan Keinginan Menjadi Penyelamat
Ngomongin cinta di kalangan anak muda zaman sekarang nggak afdol kalau nggak bahas yang namanya red flags. Sekarang, semua orang mendadak jadi psikolog amatir. "Wah, dia nggak langsung balas chat, fix red flag!" atau "Dia masih temenan sama mantan, lari sekencang mungkin!" Kita jadi punya daftar panjang kriteria orang yang harus dihindari. Bagus sih untuk perlindungan diri, tapi kadang kita jadi terlalu protektif sampai lupa kalau manusia itu tempatnya salah dan khilaf.
Anehnya, meski sudah tahu tanda-tanda bahaya itu ada, banyak dari kita yang justru punya "syndrom pahlawan". Kita merasa bisa mengubah seseorang yang toxic menjadi orang baik lewat kekuatan cinta. Spoiler buat kamu: itu cuma ada di film-film romantis atau wattpad. Di dunia nyata, kalau kamu memaksakan diri mencintai seseorang yang nggak mau berubah, yang ada malah kesehatan mental kamu yang terguncang. Cinta itu seharusnya jadi tempat beristirahat, bukan malah jadi tempat kerja rodi yang bikin tipes.
Situationship: Hubungan Tanpa Kepastian yang Candu
Nah, ini dia fenomena yang lagi merajalela: Situationship. Hubungan ini lebih dari sekadar teman, tapi kurang dari pacaran. Kalian jalan bareng, nonton bareng, bahkan mungkin sudah saling kenal kebiasaan masing-masing, tapi pas ditanya "kita ini apa?", jawabannya cuma "jalani aja dulu". Ini adalah jebakan betmen paling hakiki di abad ke-21. Kenapa? Karena di sini nggak ada komitmen, tapi ada keterlibatan emosional yang besar.
Banyak orang memilih jalur ini karena takut terluka atau malas berkomitmen. Padahal, situationship itu ibarat kita lagi langganan Netflix tapi nggak tahu kapan akunnya bakal dihapus. Rasa was-wasnya itu lho, yang bikin overthinking tiap malam sebelum tidur. Kita merasa berhak cemburu, tapi sadar diri kalau nggak punya hak untuk marah. Pada akhirnya, cinta yang kayak gini cuma bakal menyisakan luka yang nggak berdarah tapi perihnya sampai ke tulang rusuk.
Mencintai Diri Sendiri Sebelum Mencintai Orang Lain
Mungkin terdengar klise, bahkan kayak kata-kata di buku motivasi yang dijual di rak diskon, tapi self-love itu adalah kunci dari segala keruwetan cinta. Kita seringkali terlalu sibuk mencari orang yang bisa melengkapi hidup kita, sampai lupa kalau kita sendiri sebenarnya sudah utuh. Kalau kita belum selesai dengan diri sendiri, kita bakal terus-terusan mencari validasi dari orang lain. Akibatnya, kita jadi haus kasih sayang dan gampang terjebak dalam hubungan yang nggak sehat.
Cinta itu idealnya adalah pertemuan dua orang yang sudah sama-sama bahagia, lalu memutuskan untuk berbagi kebahagiaan itu. Bukan pertemuan dua orang yang sama-sama kesepian dan berharap pasangannya bisa jadi obat buat rasa sepinya. Kalau kita sudah paham nilai diri kita sendiri, kita nggak bakal mau tuh diajakin talking stage selama dua tahun tanpa ada kejelasan. Kita bakal punya keberanian untuk bilang "terima kasih, tapi aku layak mendapatkan yang lebih pasti."
Penutup: Cinta Masih Layak Diperjuangkan
Walaupun dunia makin gila dan drama percintaan makin rumit, cinta itu tetap hal yang paling indah yang bisa dialami manusia. Jangan sampai pengalaman disakiti di masa lalu atau tren hubungan yang nggak jelas bikin kamu menutup hati rapat-rapat. Cinta itu emang judi, kemungkinannya cuma dua: bahagia atau belajar. Nggak ada yang benar-benar kalah dalam urusan cinta selama kita dapat pelajaran berharga darinya.
Jadi, buat kamu yang sekarang lagi jatuh cinta, selamat menikmati masa-masa indah itu. Buat kamu yang lagi galau karena digantungin, ingat ya, kamu bukan jemuran. Dan buat kamu yang lagi sendiri, nggak apa-apa, fokus aja dulu memperbaiki diri dan dompet. Cinta bakal datang di waktu yang paling nggak terduga, mungkin pas kamu lagi antre nasi padang atau pas lagi nunggu ojek online di pinggir jalan. Tetaplah jadi manusia yang penuh kasih, karena di dunia yang makin dingin ini, cuma cinta yang bisa bikin suhu hati tetap hangat.
Next News

Kenapa Kita Masih Butuh Festival Budaya di Era FYP dan Media Sosial?
15 minutes ago

Pentingnya Festival Budaya di Era Digital dan Media Sosial
15 minutes ago

Gen Z dan Tradisi Daerah: Kolot atau Justru Keren?
15 minutes ago

Thrifting, Mix and Match, dan Capsule Wardrobe: Strategi Fashion Hemat
15 minutes ago

Dari Pasar Senen ke Instagram: Evolusi Tren Thrifting di Indonesia
15 minutes ago

Psikologi di Balik Hobi Koleksi: Kenapa Kita Suka Mengumpulkan Barang yang Tak Masuk Akal?
15 minutes ago

Tips Memilih Kurma Terbaik Saat Jadi Tren di Bulan Ramadan
2 days ago

Kenapa Badan Terasa Lowbat Setiap Hari? Ini Penjelasannya
3 days ago

Lingkaran Setan Emotional Eating dan Dampaknya pada Kesehatan
3 days ago

Hustle Culture dan Burnout: Kenapa Generasi Sekarang Mudah Lelah Mental
3 days ago





