Sabtu, 28 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Gen Z dan Tradisi Daerah: Kolot atau Justru Keren?

Redaksi - Saturday, 28 February 2026 | 09:00 AM

Background
Gen Z dan Tradisi Daerah: Kolot atau Justru Keren?
Gen Z dan Tradisi Daerah: Kolot atau Justru Keren? ( Istimewa/)

Menjaga Warisan Nenek Moyang di Era Gempuran Skincare dan FYP: Kenapa Tradisi Daerah Tetap Asyik?

Pernah nggak sih kalian ngerasa bingung pas lagi pulang kampung atau sekadar dateng ke kondangan saudara, terus tiba-tiba disuruh ikut ritual yang "nggak habis fikri"? Misalnya, harus muterin nasi tumpeng tiga kali, atau nggak boleh duduk di depan pintu karena katanya bakal jauh dari jodoh. Di telinga anak muda zaman sekarang yang apa-apa harus masuk akal dan berbasis sains, hal-hal kayak gitu sering dianggap sebagai angin lalu atau sekadar mitos kolot. Tapi, kalau kita mau jujurly sedikit lebih dalam, tradisi daerah itu sebenarnya punya daya tarik yang lebih kuat dari sekadar estetika feed Instagram.

Kita hidup di zaman di mana budaya pop Korea dan Barat mendominasi layar HP kita setiap detik. Tapi anehnya, pas ada festival budaya atau upacara adat di daerah, kita tetap aja ngerasa merinding atau minimal pengen banget ngeluarin HP buat nge-videoin. Kenapa ya? Padahal mungkin kita nggak ngerti-ngerti amat sama filosofinya. Jawabannya simpel: karena tradisi itu adalah DNA kita yang nggak bakal bisa dihapus cuma karena kita udah pakai iPhone seri terbaru atau langganan Netflix tiap bulan.

Tradisi Itu Bukan Beban, Tapi Identitas yang "Slay"

Banyak dari kita yang ngeliat tradisi daerah itu kayak beban. Ribet, mahal, dan makan waktu. Bayangin aja, buat upacara adat tertentu, persiapannya bisa berhari-hari. Belum lagi urusan birokrasi keluarga yang lebih rumit daripada urusan kantor. Tapi, coba deh geser sedikit sudut pandangnya. Tradisi itu sebenarnya cara orang tua kita dulu buat "healing" dan bersosialisasi jauh sebelum istilah itu ngetren di kalangan Gen Z.

Ambil contoh tradisi Ngobeng di Palembang atau Megibung di Bali. Intinya adalah makan bareng dalam satu wadah besar. Di sana nggak ada batasan si kaya atau si miskin, semua duduk sejajar, makan pakai tangan, sambil ngobrolin apa aja. Di tengah dunia yang makin individualis ini, tradisi kayak gini sebenarnya jadi "counter-culture" yang keren banget. Di saat kita makin kesepian di balik layar gadget, tradisi daerah justru narik kita keluar buat ngerasain apa artinya jadi manusia yang punya tetangga dan komunitas.

Estetika yang Nggak Ada Obatnya

Kalau kita bicara soal visual, tradisi daerah kita itu juaranya. Coba liat kostum penari Reog Ponorogo atau kemegahan Rambu Solo di Toraja. Itu level seninya udah di luar nalar. Kadang kita bangga banget kalau liat parade fashion di Paris atau Milan, tapi sering lupa kalau di pelosok Indonesia, tiap hari ada "catwalk" budaya yang nggak kalah megah. Banyak anak muda sekarang yang mulai sadar akan hal ini. Sekarang, banyak banget konten kreator yang ngebawa unsur tradisional ke dalam karya mereka, entah itu musik EDM rasa gamelan atau fashion modern pakai kain tenun ikat. Hasilnya? Keren banget dan autentik!

Fenomena ini nunjukin kalau tradisi itu nggak kaku. Dia itu cair. Tradisi bisa beradaptasi sama zaman tanpa harus kehilangan jiwanya. Kita nggak harus jadi kolot buat mencintai tradisi. Kita bisa tetep jadi anak kota yang nongkrong di coffee shop sambil tetep bangga cerita soal asal-usul marga atau ritual daerah asal kita. Itu namanya punya karakter, dan di dunia yang makin seragam ini, punya karakter itu adalah kunci biar nggak gampang kegusur tren sesaat.

Kenapa Kita Harus Tetap Peduli?

Mungkin ada yang nanya, "Ya terus kalau tradisi itu ilang, emang kenapa?" Masalahnya bukan cuma soal kehilangan tarian atau makanan enak, tapi soal kehilangan akar. Tanpa tradisi, kita itu kayak pohon yang tumbuh di pot plastik; keliatannya cantik tapi gampang tumbang pas ditiup angin kencang. Tradisi itu yang ngajarin kita soal etika, soal gimana cara menghargai alam, dan gimana cara menghormati orang yang lebih tua tanpa harus ngerasa rendah diri.

Selain itu, tradisi daerah itu magnet ekonomi yang luar biasa. Coba liat berapa banyak turis yang rela bayar mahal buat liat festival budaya di Banyuwangi atau Dieng. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi? Masa kita nunggu diklaim negara tetangga baru kita teriak-teriak di Twitter? Itu sih namanya telat mikir alias FOMO-nya nggak sehat. Menjaga tradisi itu investasi jangka panjang buat mental kita sebagai bangsa.

Kesimpulan: Jadilah Penjaga yang Santai Tapi Serius

Jadi, mulai sekarang, kalau ada acara adat di rumah atau di daerah kalian, coba deh buat nggak langsung "skip". Coba dengerin cerita di baliknya, tanya ke kakek atau nenek kenapa ini harus dilakukan. Biasanya, ada nilai moral yang diselipin lewat simbol-simbol yang unik. Kita nggak perlu jadi ahli budaya buat melestarikan tradisi. Cukup dengan nggak malu ngakuin asal-usul kita dan sesekali terlibat dalam kegiatan daerah, itu udah lebih dari cukup.

Tradisi daerah itu bukan barang museum yang cuma boleh dilihat tapi nggak boleh disentuh. Tradisi itu adalah napas yang terus hidup selama kita masih mau ngerayainnya. Jadi, jangan ragu buat tampil beda. Di dunia yang isinya serba "copy-paste" ini, menjadi tradisional adalah cara paling efektif buat tampil orisinal. Tetaplah jadi anak muda yang modern secara pikiran, tapi tetap punya "vibe" lokal yang kental. Karena jujurly, itu jauh lebih keren daripada sekadar ikut-ikutan tren yang bakal basi dalam hitungan minggu.